Antara Tensi AS-China dan Prospek Ekonomi — Market Outlook, 10-14 August 2020 by Alfred Pakasi

714

(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi global pada minggu lalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:

  • meningkatnya ketegangan AS – China dengan keluarnya “executive order” dari Trump terhadap TikTok dan WeChat,
  • pasar yang menunggu perundingan di Kongres atas stimulus fiskal pemerintah AS senilai $1 triliun,
  • rilis data Non – Farm Payrolls yang melebihi perkiraan sebelumnya,
  • kenaikan tinggi kasus virus corona di AS.

Untuk korban virus, berita resmi terakhirnya, sudah sekitar 19.5 juta orang terinfeksi di dunia dan 724 ribu orang meninggal, dan menyebar ke 213 negara dan teritori.

Pasar saham dunia umumnya menguat agak terbatas, harga emas kembali sempat mencetak rekor tertingginya, serta US dollar yang rebound di akhir pekan.

Minggu berikutnya, isyu antara perkembangan penyebaran wabah virus corona, tensi AS – China, dan peluang pemulihan ekonomi akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Market Review and Outlook 10-14 August 2020.

===

Minggu lalu IHSG di pasar modal Indonesia terpantau terkoreksi terbatas setelah rally 5 minggu dengan investor asing lakukan profit taking singkat searah sentimen regional. Sementara itu, bursa kawasan Asia umumnya bias melemah. Secara mingguan IHSG ditutup terkoreksi 0.11% ke level 5,143.893. Untuk minggu berikutnya (10-14 Agustus 2020), IHSG kemungkinan dibawa ke sekitar area konsolidasinya di tengah pasar yang mencari arah berikutnya, dengan tetap mengacu kepada fundamental bursa kawasan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance level di 5278 dan kemudian 5365, sedangkan support level di posisi 5022 dan kemudian 4964.

Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan lalu terpantau fluktuatif dan menutup minggu dengan pelemahan, sementara dollar global terlihat berlanjut terkoreksi di minggu ketujuhnya, sehingga rupiah secara mingguannya melemah terbatas 0.17% ke level Rp 14,625. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan cenderung naik, atau kemungkinan rupiah kembali terkoreksi, dalam range antara resistance di level Rp14,780 dan Rp14,820, sementara support di level Rp14.315 dan Rp14.190.

===

Bank Indonesia melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2020 sebesar 135,1 miliar dolar AS. Posisi cadangan devisa tersebut merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah yang setara dengan pembiayaan 9 bulan impor. Kenaikan tersebut dipengaruhi terutama oleh penerbitan global bond dan penarikan pinjaman pemerintah.

Selain itu, Bank Indonesia berpandangan bahwa pandemi COVID-19 telah menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II-2020. Pertumbuhan ekonomi triwulan II 2020 mengalami kontraksi -5,32% (yoy), turun dalam dibandingkan dengan capaian triwulan I 2020 sebesar 2,97% (yoy).

Di tempat lain, Satuan Tugas Pemulihan dan Transformasi Ekonomi Nasional menyampaikan minggu lalu bahwa pemerintah akan segera menyalurkan insentif Rp 2,4 juta untuk para pekerja formal dengan gaji di bawah Rp5 juta per bulan yang terdaftar aktif di BPJS Ketenagakerjaan dan tidak termasuk pegawai BUMN dan PNS.

===

Pasar Forex

Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar secara umum berlanjut tertekan di minggu ke-7-nya dan sempat ke level terendah 2 tahun lebihnya, tetapi rebound di hari terakhir oleh data non-farm payrolls yang melampaui prediksi pasar, dimana indeks dolar AS secara mingguan berakhir melemah ke 93.39. Sementara itu, pekan lalu euro terhadap dollar terpantau berlanjut menguat ke 1.1783. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level resistance pada 1.1916 dan kemudian 1.1996, sementara support pada 1.1641 dan 1.1370.

Pound sterling minggu lalu terlihat melemah tipis ke level 1.3048 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.3200 dan kemudian 1.3284, sedangkan support pada 1.2480 dan 1.2204. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir menguat terbatas ke level 105.94.  Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 108.17 dan 109.85, serta support pada 104.18 serta level 101.18. Sementara itu, Aussie dollar terpantau menguat ke level 0.7157. Range minggu ini akan berada di antara resistance level di 0.7183 dan 0.7206, sementara support level di 0.6924 dan 0.6776.

Pasar Saham

Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia secara umum mixed dengan bias melemah terakhir oleh naiknya tensi AS – China dengan keluarnya “executive order” dari Trump terhadap TikTok dan WeChat. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau berakhir menguat ke level 22,330. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 23178 dan 23807, sementara support pada level 21530 dan 20335. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir melemah tipis ke level 24,531. Minggu ini akan berada antara level resistance di 26782 dan 27767, sementara support di 24148 dan 23685.

Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau menguat oleh data lapangan kerja yang melampaui ekspektasi walau tertahan pembicaraan kongres AS tentang paket stimulus fiskal yang belum tuntas. Indeks Dow Jones secara mingguan menguat ke level 27,433.48, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 27580 dan 28403, sementara support di level 26103 dan 24843. Index S&P 500 minggu lalu menguat ke level 3,355.2, dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 3235 dan 3394, sementara support pada level 2994 dan 2936.

Pasar Emas

Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau berlanjut menguat dan sempat mencetak rekor tertinggi barunya karena memburuknya perkembangan baru kasus virus corona di AS, tetapi terkoreksi di hari terakhir oleh rebound dollar dan data NFP, sehingga harga emas spot secara mingguan menguat di minggu ke-9-nya ke level $2,035.03 per troy ons, setelah kembali mencetak rekor tertingginya. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistant di $2075 dan berikut $2100, serta support pada $1939 dan $1900.

 

Dinamika harga instrumen investasi sebagian diwarnai pasar yang sedang konsolidasi. Di balik konsolidasi, pengertiannya itu seperti kalau kita sedang naik tangga terus, maka ada waktunya kita ingin istirahat sejenak. Itulah dia konsolidasi! Pasar agak dalam “range-bound” dengan rentang harga yang agak sempit. Konsolidasi juga berarti pasar sedang melihat-lihat situasi pasar yang mungkin sedang diwarnai oleh, pada saat ini, arah perkembangan ekonomi berikutnya. Dalam situasi seperti ini, Anda pun tetap dapat mengalami profit. Caranya; mungkin Anda perlu belajar. Mari belajar bersama pelatihan yang ada di VBLC, pastinya itu akan bermanfaat. Kembali, salam sukses bagi Anda, pembaca setia Vibiznews!

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here