Kebijakan the Fed dan Prospek Pemulihan Global — Market Outlook, 31 August – 4 September 2020 by Alfred Pakasi

985

(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi global pada minggu lalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:

  • Perubahan kebijakan the Federal Reserve yang memungkinkan data inflasi dan lapangan kerja yang lebih tinggi untuk pemulihan ekonomi AS, dan kebijakan suku bunga rendah yang diperpanjang,
  • Berlanjut tertundanya kesepakatan di Kongres AS untuk paket stimulus bantuan virus corona senilai $1 triliun, yang diharapkan akan terealisasi pada minggu depan,
  • Statistik dari Covid – 19 dan dampaknya terhadap pemulihan ekonomi global, dengan meningkatnya kasus baru di Eropa dan menurunnya kasus baru di AS, serta adanya harapan akan vaksin segera.
  • Pidato Donald Trump pada hari nominasinya di konvensi Republik tampil mengesankan dan membawa kenaikan bursa saham AS.

Untuk korban virus, berita resmi terakhirnya, sudah sekitar 24.9 juta orang terinfeksi di dunia dan 841 ribu orang meninggal, dan menyebar ke 213 negara dan teritori.

Pasar saham dunia umumnya bergerak dalam bias menguat, harga emas rebound kembali, serta US dollar yang kembali dalam tekanan.

Minggu berikutnya, isyu antara perkembangan pandemi virus corona, tensi AS – China, dan peluang pemulihan ekonomi akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Market Review and Outlook 31 August – 4 September 2020.

===

Minggu lalu IHSG di pasar modal Indonesia terpantau menguat kembali di minggu ketiganya dengan profit taking terjadi di hari terakhir. Sementara itu, bursa kawasan Asia umumnya variatif. Secara mingguan IHSG ditutup menguat signifikan 1.46% ke level 5,346.659. Dalam 3 bulan terakhir IHSG juga telah menguat sekitar 17%. Untuk minggu berikutnya (31 Agustus – 4 September 2020), IHSG kemungkinan akan masih melanjutkan rally-nya secara bertahap, dengan tetap mengacu kepada fundamental bursa kawasan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance level di 5406 dan kemudian 5715, sedangkan support level di posisi 5221 dan kemudian 5120.

Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan lalu terpantau menguat di minggu keduanya, sementara dollar global kembali terkoreksi, sehingga rupiah secara mingguannya menguat 0.95% ke level Rp 14,632. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan turun, atau kemungkinan rupiah kembali menguat, dalam range antara resistance di level Rp14,845 dan Rp14,954, sementara support di level Rp14.467 dan Rp14.296.

===

Pada minggu lalu Otoritas Jasa keuangan (OJK) menyampaikan di antaranya bahwa stabilitas jasa keuangan tetap terjaga di tengah pelambatan perekonomian domestik.

Dijelaskan bahwa tekanan pada perekonomian Indonesia diperkirakan telah memuncak di Q2-2020, sedangkan pemulihan perekonomian mulai tampak di awal Q3-2020. Ini dikonfirmasi oleh rilis data surplus neraca perdagangan serta berlanjutnya tren perbaikan dari beberapa indikator perekonomian seperti PMI dan indeks penjualan ritel.

Profil risiko lembaga jasa keuangan pada Juli 2020 masih terjaga pada level yang manageable, dengan rasio NPL gross tercatat sebesar 3,22% dan rasio NPF sebesar 5,5%.

===

Pasar Forex

Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar secara umum kembali melemah oleh prospek suku bunga rendah the Fed yang akan semakin lama periodenya sementara yen Jepang menanjak setelah PM Jepang Shinzo Abe mengumumkan pengunduran dirinya, dimana indeks dolar AS secara mingguan berakhir melemah ke 92.30. Sementara itu, pekan lalu euro terhadap dollar terpantau menguat ke 1.1903. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level resistance pada 1.1965 dan kemudian 1.1996, sementara support pada 1.1641 dan 1.1370.

Pound sterling minggu lalu terlihat menguat ke level 1.3348 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.3422 dan kemudian 1.3515, sedangkan support pada 1.3005 dan 1.2480. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir melemah ke level 105.34.  Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 108.17 dan 109.85, serta support pada 104.18 serta level 101.18. Sementara itu, Aussie dollar terpantau menguat tajam ke level 0.7365. Range minggu ini akan berada di antara resistance level di 0.7429 dan 0.7712, sementara support level di 0.6807 dan 0.6776.

Pasar Saham

Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia secara umum variatif di tengah pasar yang memerhatikan arah kebijakan the Federal Reserve berikutnya. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau berakhir melemah ke level 22,882. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 23807 dan 24115, sementara support pada level 21530 dan 20335. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir menguat tipis ke level 25,442. Minggu ini akan berada antara level resistance di 26782 dan 27767, sementara support di 24148 dan 23685.

Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau rally menguat kembali oleh kebijakan the Fed yang memungkinkan inflasi dan lapangan pekerjaan naik tinggi untuk menopang pemulihan ekonomi AS. Indeks Dow Jones secara mingguan menguat ke level 28,653.87, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 28733 dan 29409, sementara support di level 26103 dan 24843. Index S&P 500 minggu lalu menguat mencetak rekor ke level 3,511.2, dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 3515 dan 3550, sementara support pada level 3221 dan 2994.

Pasar Emas

Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau rebound setelah terkoreksi 2 minggu, ditopang oleh pelemahan US dollar dan kebijakan the Fed yang memperpanjang suku bunga rendahnya, sehingga harga emas spot secara mingguan menguat ke level $1,965.03 per troy ons. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistant di $2015 dan berikut $2075, serta support pada $1862 dan $1795.

Anda mungkin pernah memerhatikan bagaimana derasnya dana asing masuk ke pasar modal dan pasar uang Indonesia, lalu kadang dengan deras pula dana-dana itu lari keluar. Memang demikianlah pergerakan dana investasi global yang disebut “hot money” itu. Begitu cepatnya mengalir ke berbagai instrumen investasi menembus batas-batas antar negara. Begitu cepat masuk, mampir, keluar dan akan begitu cepat pula mengalami “switching” dari satu asset ke asset lainnya, serta dari satu negara ke negara lainnya. Itu sebabnya kita perlu mempelajari dinamika portfolio investasi, baik dari sisi jenis, jangka waktu, tingkat risiko, typical, dll. Simak terus vibiznews.com dan jadilah investor yang sukses. Salam sukses bagi Anda, pembaca setia Vibiznews!

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here