Kinerja PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) Terkoreksi Akibat Pandemi Covid-19

570

(Vibiznews – IDX) PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. (“Sampoerna” atau “Kode Saham: HMSP) telah membuktikan komitmennya dalam mengelola kinerja dan menangani operasional perusahaan sepanjang 2019 dan semester I 2020. Berbagai inisiatif telah dilakukan untuk menghadapi berbagai tantangan yang terjadi selama periode tersebut, termasuk pandemi Coronavirus Disease (COVID-19).

Presiden Direktur Sampoerna, Mindaugas Trumpaitis mengatakan “Sampoerna menyadari pandemi COVID-19 ini merupakan tantangan yang berdampak langsung baik pada publik maupun dunia usaha Indonesia. Untuk industri rokok, kenaikan tarif cukai rata-rata 24% dan harga jual eceran sebesar 46% – yang berlaku pada 2020 – serta pandemi COVID-19 menjadi dua faktor utama yang memberikan dampak signifikan pada kinerja industri ini yang telah menyebabkan penurunan volume penjualan hingga dua digit,” kata Mindaugas saat Paparan Publik secara Virtual, Jumat, (18/9/2020).

Selama semester I 2020, volume industri mengalami penurunan sebesar 15%, tidak termasuk dampak dari estimasi pergerakan inventaris perdagangan, dimana penurunan tersebut secara umum terjadi pada segmen pajak golongan V1. Daya beli konsumen yang lebih rendah memiliki tren penurunan yang yang kian cepat, yaitu penurunan konsumsi dari produk dengan pajak dan harga yang lebih tinggi (tingkat pajak Golongan 1) menjadi produk dengan pajak lebih rendah dan akibatnya dijual dengan harga yang lebih rendah (tingkat Pajak Golongan 2 dan Golongan 3).

Tak terelakkan lagi Sampoerna menghadapi tantangan selama masa puncak pandemi, khususnya pada kuartal II 2020. Berbagai tantangan selama periode April-Juni 2020 menyebabkan koreksi terhadap kinerja perseroan. Sepanjang semester I 2020, total pangsa pasar perusahaan mencapai 29,3% atau turun 3,1 percentage point, sementara volume pengiriman 38,5 miliar batang mencerminkan penurunan sebesar 18,2%.

Di tengah tantangan tersebut, Sampoerna menyesuaikan strategi perusahaan untuk mempertahankan daya saing bisnisnya dan menjawab tren yang berubah,” kata Mindaugas. “Sebagai contoh, kami meluncurkan produk SKM tar tinggi untuk merespon pergeseran permintaan ke produk tar yang lebih tinggi.

Mindaugas menjelaskan bahwa sepanjang 2019, pangsa pasar SKT Sampoerna – dengan merek-merek besar seperti Dji Sam Soe (“Raja Kretek”) dan Sampoerna Kretek – adalah 36,3%, sedangkan pangsa pasar Sigaret Putih Mesin (SPM) (melalui Produk utamanya Marlboro, merek Philip Morris Indonesia (PMID) yang didistribusikan oleh Sampoerna) dan Rokok Kretek Mesin (SKM) masing-masing sebesar 57,2% dan 29,6%.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here