Perkembangan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah (18 September); Rupiah dalam Penguatan

404
Vibizmedia Photo

(Vibiznews – Economy and Bonds) – Mencermati kondisi perekonomian Indonesia khususnya sebagai dampak penyebaran COVID-19, Bank Indonesia menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai Rupiah secara periodik, demikian dirilis dari Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Jumat ini, (18/9).

Indikator dimaksud adalah nilai tukar dan inflasi, sebagai berikut:

A)   Perkembangan Nilai Tukar 14 – 17 September2020

Pada akhir hari Kamis, 17 September 2020 

  1. Rupiah ditutup pada level (bid)820 per dolar AS.
  2. YieldSBN (Surat Berharga Negara) 10 tahun turun ke level 6,90%.
  3. DXY melemah ke level 92,97.
  4. Yield UST (US Treasury) Note 10 tahun naik ke level 0,689%.

Pada pagi hari Jumat, 18 September 2020

  1. Rupiah dibuka pada level (bid) Rp14.750 per dolar AS.
  2. Yield SBN 10 tahun stabil pada 6,89%.

Aliran Modal Asing (Minggu III September 2020)

  1. Premi CDS (Credit Default Swaps) Indonesia 5 tahun naik ke 92,15 bps per 17 September 2020 dari 91,16 bps per 11 September 2020.
  2. Berdasarkan data transaksi 14-17 September 2020, nonresiden di pasar keuangan domestik jual neto Rp4,64 triliun, dengan jual neto di pasar SBN sebesar Rp1,80 triliun dan jual neto di pasar saham sebesar Rp2,84 triliun.
  3. Berdasarkan data setelmen selama 2020 (ytd), nonresiden di pasar keuangan domestik jual neto sebesar Rp168,27 triliun.

 

B)   Inflasi berada pada level yang rendah dan terkendali

  1. Berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada minggu III September 2020, perkembangan harga pada bulan September 2020 diperkirakan deflasi sebesar -0,01% (mtm).  Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi September 2020 secara tahun kalender sebesar 0,92% (ytd), dan secara tahunan sebesar 1,46% (yoy).
  2. Penyumbang utama deflasi pada periode laporan berasal dari komoditas telur ayam ras sebesar -0,04% (mtm), daging ayam ras sebesar -0,03% (mtm), bawang merah sebesar   -0,02% (mtm), jeruk, cabai rawit, dan emas perhiasan masing-masing sebesar -0,01% (mtm). Sementara itu, komoditas yang menyumbang inflasi yaitu bawang putih dan minyak goreng masing-masing sebesar 0,02% (mtm). Kenaikan harga bawang putih diperkirakan karena pasokan impor yang mulai berkurang, sedangkan kenaikan harga minyak goreng sejalan dengan kenaikan harga CPO internasional.

“Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran COVID-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu, serta langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan,” demikian akhir catatan dari Departemen Komunikasi BI, Jumat ini (18/9).

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here