Naiknya Tensi AS – China dan Kebijakan the Fed — Market Outlook, 21-25 September 2020 by Alfred Pakasi

874

(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi global pada minggu lalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:

  • Meningkatnya kembali ketegangan AS – China, dengan AS akan melakukan download blocking dari TikTok dan WeChat.
  • Kebijakan moneter Federal Reserve yang nampaknya akan mempertahankan suku bunga hampir 0 untuk waktu lama.
  • Desakan dari Powell agar pemerintah AS segera menurunkan bantuan stimulus fiskal ronde berikutnya dengan mulai ada tanda pendekatan dari pihak Democrat dengan Republican.
  • Statistik Covid – 19 vs prospek pemulihan ekonomi, dengan Eropa muncul sebagai episentrum kembali.

Untuk korban virus, berita resmi terakhirnya, sudah sekitar 30.7 juta orang terinfeksi di dunia dan 956 ribu orang meninggal, dan menyebar ke 213 negara dan teritori.

Pasar saham dunia umumnya terkoreksi minggu ini, harga emas naik bertahap, serta US dollar yang kembali terkoreksi.

Minggu berikutnya, isyu antara perkembangan pandemi virus corona, prospek pemulihan ekonomi, dan tensi AS – China akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Market Review and Outlook 21-25 September 2020.

===

Minggu lalu IHSG di pasar modal Indonesia terpantau fluktuatif namun berakhir menguat, rebound secara mingguannya. Sementara itu, bursa kawasan Asia umumnya variatif melemah. Secara mingguan IHSG ditutup menguat 0.85% ke level 5,059.223. Untuk minggu berikutnya (21-25 September 2020), IHSG kemungkinan masih bisa merangkak naik secara bertahap, dengan tetap mengacu kepada fundamental bursa kawasan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance level di 5187 dan kemudian 5381, sedangkan support level di posisi 4755 dan kemudian 4521.

Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan lalu terpantau rebound setelah 2 minggu terkoreksi terpicu di antaranya oleh keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan BI-7DRRR di 4,00%, sementara dollar global kembali terkoreksi, sehingga rupiah secara mingguannya menguat 1.04% ke level Rp 14,735. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan masih akan turun, atau kemungkinan rupiah lanjut menguat, dalam range antara resistance di level Rp14,971 dan Rp15,045, sementara support di level Rp14.536 dan Rp14.337.

===

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 16-17 September 2020 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 4,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,75%. Keputusan ini mempertimbangkan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, di tengah inflasi yang diprakirakan tetap rendah.

Bank Indonesia menjelaskan lagi, di antaranya:

  • Perekonomian global secara bertahap mulai membaik. Perkembangan ini terutama didorong oleh perbaikan pertumbuhan ekonomi di Tiongkok dan Amerika Serikat, sedangkan kinerja perekonomian Eropa, Jepang, dan India belum kuat.
  • Perekonomian domestik secara perlahan juga membaik, meskipun masih terbatas sejalan mobilitas masyarakat yang melandai pada Agustus 2020. Kinerja ekspor membaik sejalan kenaikan permintaan global, sementara konsumsi rumah tangga membaik secara terbatas. Beberapa indikator dini menunjukkan perbaikan seperti penjualan ritel, indeks kepercayaan konsumen, dan PMI Manufaktur.
  • Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2020 meningkat menjadi sebesar 137,0 miliar dolar AS, setara pembiayaan 9,4 bulan impor. Ke depan, defisit transaksi berjalan untuk keseluruhan tahun 2020 diprakirakan tetap rendah, di bawah 1,5% dari PDB.
  • Dengan langkah-langkah stabilisasi Bank Indonesia, nilai tukar Rupiah relatif terkendali di tengah tingginya tekanan pada Agustus-September 2020.

===

Pasar Forex

Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar secara umum terkoreksi kembali oleh ketidakpastian prospek pemulihan ekonomi AS dan meningkatnya ketegangan AS – China serta investor memilih yen sebagai safe haven, dimana indeks dolar AS secara mingguan berakhir melemah ke 93.00. Sementara itu, pekan lalu euro terhadap dollar terpantau melemah tipis ke 1.1837. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level resistance pada 1.2011 dan kemudian 1.2138, sementara support pada 1.1711 dan 1.1641.

Pound sterling minggu lalu terlihat menguat ke level 1.2913 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.3266 dan kemudian 1.3483, sedangkan support pada 1.2762 dan 1.2480. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir melemah ke level 104.55.  Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 108.17 dan 109.85, serta support pada 104.18 serta level 101.18. Sementara itu, Aussie dollar terpantau stabil ke level 0.7282. Range minggu ini akan berada di antara resistance level di 0.7435 dan 0.7712, sementara support level di 0.6807 dan 0.6776.

Pasar Saham

Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia secara umum variatif bias melemah mengikuti arus sentimen dari dinamika bursa Amerika. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau berakhir melemah ke level 23,360. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 23580 dan 23807, sementara support pada level 22205 dan 21530. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir melemah ke level 24,455. Minggu ini akan berada antara level resistance di 25847 dan 26782, sementara support di 24148 dan 23685.

Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau melemah di minggu ketiganya dipimpin tekanan jual (sell off) pada sektor saham teknologi kembali. Indeks Dow Jones secara mingguan melemah ke level 27,657.42, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 29162 dan 29409, sementara support di level 27526 dan 26103. Index S&P 500 minggu lalu melemah ke level 3,327.7, dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 3487 dan 3590, sementara support pada level 3221 dan 2994.

Pasar Emas

Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau kembali menguat terbatas oleh pelemahan dollar karena kekhawatiran investor terhadap prospek pemulihan ekonomi AS, sehingga harga emas spot secara mingguan menguat ke level $1,950.51 per troy ons. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistant di $2015 dan berikut $2075, serta support pada $1862 dan $1795.

Ke mana pasar segera akan bergerak? Haruskah ambil tindakan sekarang atau “wait and see”? Dunia investasi, harus diakui, diwarnai elemen ketidakpastian. Sewaktu-waktu bisa berubah, lebih cepat dari perubahan di panggung politik sekalipun. Kalau penuh kepastian, ini memang lahan gampang jadi kaya. Kenyataannya pasar bergerak begitu dinamisnya, sepertinya tanpa kepastian. Itu bagaikan batu jebakan bagi banyak investor, tetapi sebaliknya sebagian investor melihat itu sebagai batu loncatan mendulang untung. “Informasi” menjadi kata kunci di sini untuk melakukan tindakan investasi yang tepat atau pas, sekaligus minimum risiko. Di sinilah Vibiznews.com dapat membantu para pembaca dan pelanggannya karena menyediakan berbagai berita, analisis dan rekomendasi pasar terkini. Tetaplah bersama kami, Anda akan terbantu dalam pengambilan keputusan investasi. Terima kasih telah setia bersama kami, partner sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here