Ekspektasi Stimulus Fiskal AS Kembali — Market Outlook, 12-16 October 2020 by Alfred Pakasi

621

(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi global pada minggu lalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:

  • Ekspektasi terhadap paket stimulus fiskal AS dengan Trump menyatakan sedang mengusahakan kesepakatan program stimulus yang lebih besar.
  • Pulihnya dan kembalinya Presiden AS Trump yang terkena corona ke Gedung Putih.
  • Terus naiknya kasus Covid-19 di Eropa, khususnya Perancis, Inggris, Spanyol dan Jerman menimbulkan keprihatinan yang menekan sentimen pasar.

Untuk korban virus, berita resmi terakhirnya, sudah sekitar 37.1 juta orang terinfeksi di dunia dan 1.07 juta orang meninggal, dan menyebar ke 213 negara dan teritori.

Pasar saham dunia umumnya menguat minggu lalu, harga emas lanjutkan rally, US dollar yang kembali terkoreksi, sedangkan IHSG dan rupiah rally sepanjang minggu.

Minggu berikutnya, isyu antara perkembangan pandemi virus corona, prospek pemulihan ekonomi, dan tensi AS – China akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Market Review and Outlook 12-16 October 2020.

===

Minggu lalu IHSG di pasar modal Indonesia terpantau rebound signifikan dalam rally 5 hari berturut-turut terpicu dengan disahkannya UU Cipta Kerja (Omnibus Law) yang disambut baik investor. Sementara itu, bursa kawasan Asia umumnya bias menguat. Secara mingguan IHSG ditutup menguat tajam 2.58% ke level 5,053.663. Untuk minggu berikutnya (12-16 October 2020), IHSG kemungkinan akan dihadang profit taking pendek lalu melanjutkan rally-nya, dengan tetap mengacu kepada fundamental bursa kawasan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance level di 5187 dan kemudian 5381, sedangkan support level di posisi 4881 dan kemudian 4820.

Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan lalu terpantau menguat terus dalam 5 hari menyambut positif disahkannya UU Cipta Kerja, sementara dollar global berlanjut melemah, sehingga rupiah secara mingguannya menguat 1.27% ke level Rp 14,675. Sempat juga rupiah di minggu ini menjadi mata uang terkuat di Asia terhadap USD. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan berlanjut turun, atau kemungkinan tambahan penguatan rupiah, dalam range antara resistance di level Rp14,971 dan Rp15,045, sementara support di level Rp14.536 dan Rp14.337.

===

Bank Indonesia merilis indeks penjualan eceran terus membaik, tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Agustus 2020 yang tumbuh -9,2% (yoy), membaik dari -12,3% (yoy) pada Juli 2020. Indikasi pemulihan mulai terlihat.

Inflasi berada pada level yang rendah dan terkendali. Berdasarkan Survei Pemantauan Harga yang dilakukan BI, pada minggu II Oktober 2020, perkembangan harga pada bulan Oktober 2020 diperkirakan akan inflasi sebesar 0,02% (mtm).

Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2020 dilaporkan sebesar 135,2 miliar dolar AS, tetap tinggi meskipun menurun dibandingkan dengan posisi akhir Agustus sebesar 137,0 miliar dolar AS, dikarenakan pembayaran ULN Pemerintah dan stabilisasi nilai tukar Rupiah. Posisi tersebut setara dengan pembiayaan 9,5 bulan impor.

===

Pasar Forex

Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar secara umum melemah oleh harapan pasar akan disetujuinya stimulus setelah Trump mendorong Kongres menyetujui program stimulus senilai USD 1,200 sebagai Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi warga AS yang mendorong naiknya permintaan risk asset, dimana indeks dolar AS secara mingguan berakhir melemah ke 93.06. Sementara itu, pekan lalu euro terhadap dollar terpantau menguat ke 1.1829. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level resistance pada 1.1918 dan kemudian 1.2011, sementara support pada 1.1612 dan 1.1507.

Pound sterling minggu lalu terlihat menguat ke level 1.3042 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.3266 dan kemudian 1.3483, sedangkan support pada 1.2675 dan 1.2480. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir menguat tipis ke level 105.59.  Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 108.17 dan 109.85, serta support pada 104.00 serta level 101.18. Sementara itu, Aussie dollar terpantau menguat ke level 0.7240. Range minggu ini akan berada di antara resistance level di 0.7435 dan 0.7712, sementara support level di 0.6807 dan 0.6776.

Pasar Saham

Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia secara umum bias menguat mengikuti sentimen positif Wall Sreet di tengah ekspektasi akan digelontorkannya program stimulus AS. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau berakhir menguat ke level 23,620. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 23580 dan 23807, sementara support pada level 22205 dan 21530. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir menguat ke level 24,119. Minggu ini akan berada antara level resistance di 24542 dan 25847, sementara support di 23124 dan 22520.

Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau lanjut menguat setelah Presiden Trump mengindikasikan paket bantuan virus corona yang lebih besar lagi. Indeks Dow Jones secara mingguan menguat ke level 28,586.90, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 29162 dan 29200, sementara support di level 27362 dan 26537. Index S&P 500 minggu lalu menguat ke level 3,485.0, dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 3490 dan 3590, sementara support pada level 3301 dan 3208.

Pasar Emas

Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau lanjut menguat di minggu keduanya oleh pelemahan US Dollar dan naiknya permintaan emas sebagai hedging inflasi bila paket stimulus disetujui, sehingga harga emas spot secara mingguan menguat ke level $1,930.52 per troy ons. Untuk tahun ini harga emas telah menguat 26%. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistant di $1974 dan berikut $2015, serta support pada $1848 dan $1795.

 

Anda mungkin telah menyimak cukup derasnya dana asing yang masuk atau keluar pasar modal Indonesia yang mendongkrak bursa atau menghempaskannya. Memang demikianlah pergerakan dana investasi global. Begitu cepatnya mengalir ke berbagai instrument investasi menembus batas-batas antar negara. Begitu cepat masuk, mampir, dan begitu cepat pula keluar atau mengalami “switching” dari satu asset ke asset lainnya, serta dari satu negara ke negara lainnya. Itu sebabnya kita perlu mempelajari dinamika portfolio investasi, baik dari sisi jenis, jangka waktu, tingkat risiko, typical, dll. Simak terus vibiznews.com dan jadilah investor yang sukses. Salam sukses bagi Anda, pembaca setia Vibiznews!

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here