Harga Karet Tocom 27 Oktober Fluktuatif, Karet Sicom Masih di Rekor Tertingginya

2017

(Vibiznews – Commodity) – Setelah mencetak penguatan harga harian terbesar dalam 12 tahun, terjadi pergerakan fluktuatif pada perdagangan karet Tocom di bursa Osaka-Jepang hari Selasa (27/10/2020). Namun akhir sesi harga masih ditutup lebih tinggi setelah sempat turun ke posisi lebih rendah dari penutupan sebelumnya. Sentimen investor yang mengangkat kembali harga karet Tocom datang dari rally harga karet di Shanghai Futures Exchange (SHFE).

Harga karet di bursa Shanghai (SHFE), khusus untuk kontrak bulan Januari 2021 ditutup menguat 490 poin atau 3,2% ke posisi 15725 yuan. Harga karet di SHFE sudah bergerak rally selama 17 sesi berturut sejak perdagangan 5 Oktober. Kekuatan harga karet di SHFE dipicu oleh menurunnya pasokan karet alam di gudang bursa SHFE pasca permintaan industri otomotif dalam negeri yang meningkat. 

Harga karet Tocom di bursa Osaka untuk kontrak paling ramai yaitu kontrak bulan Maret 2021 akhir perdagangan sesi sore ditutup menguat 3,8 yen atau 1,52% ke posisi 254.2 yen per kg, tertinggi sejak 17 Maret 2017. Sempat bergerak tinggi ke posisi 270,1 setelah dibuka pada  posisi 267,0.

Sempat terkoreksinya harga karet Tocom dipicu oleh profit taking yang merespon penguatan yen Jepang terhadap dolar AS yang biasanya melemahkan aset yang dijual dengan dominasi mata uang yen. Kemudian terangkat kembali oleh berita industri sarung tangan di Malaysia berkembang pesat  setelah meningkatnya kasus virus korona yang mendorong demand.

Untuk harga karet di bursa Singapura – Sicom,  kontrak yang sedang ramai diperdagangkan yaitu kontrak bulan Januari 2021 ditutup naik US$2 atau 1,17% dari harga sesi sebelumnya ke posisi 172,4, masih di posisi rekor tertinggi sepanjang sejarah. Harga karet Sicom sudah bergerak rally selama 7 sesi berturut sebelumnya. 

Selain kondisi demand yang meningkat, permasalahan supply yang terus menurun menambah sentimen positif bagi pergerakan harga karet dunia.  Asosiasi Negara Produsen Karet Alam memperkirakan produksi global telah turun hampir lima persen hingga akhir tahun 2020.   

Jul Allens / Senior Analyst Vibiz Research Center   

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here