Kenaikan Kasus Virus vs Perkembangan Vaksin — Market Outlook, 16-20 November 2020 by Alfred Pakasi

503

(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi global pada minggu lalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:

  • Investor global mengkhawatirkan kenaikan kasus virus corona yang mencapai rekor baru melebihi bulan Maret – April yang lalu, baik di Eropa maupun di AS.
  • Ada harapan pemulihan dengan perkembangan efektifnya vaksin dari Pfizer dan BioNTech. Ditambah dengan proyek pembuatan vaksin dari Presiden Trump -disebut Operation WARP- yang sekarang sudah siap didistribusikan.
  • Pelaksanaan pemilihan presiden AS yang belum final hasilnya, dan diwarnai dengan penyelidikan kecurangan suara yang bersifat TSM.

Untuk korban virus, berita resmi terakhirnya, sudah sekitar 53.7 juta orang terinfeksi di dunia dan 1.3 juta orang meninggal, dan menyebar ke 217 negara dan teritori.

Pasar saham dunia umumnya menguat, harga emas agak terkoreksi, US dollar balik menanjak, sedangkan IHSG dan Rupiah melanjutkan rally-nya.

Minggu berikutnya, isyu antara perkembangan pandemi virus corona, prospek pemulihan ekonomi, dan hasil Pilpres AS akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Market Review and Outlook 16-20 November 2020.

===

Minggu lalu IHSG di pasar modal Indonesia terpantau lanjutkan rally didukung aksi beli investor asing, walau sempat dihadang profit taking di overbought area-nya. Sementara itu, bursa kawasan Asia umumnya menguat. Secara mingguan IHSG ditutup menguat signifikan 2.53%, atau 125.529 poin, ke level 5,461.058. IHSG membukukan rally mingguan yang keenamnya, dan sempat mencapai 8 bulan tertingginya. Untuk minggu berikutnya (16-20 November 2020), IHSG kemungkinan agak konsolidasi tetapi umumnya masih tren bullish, dengan tetap mengacu kepada fundamental bursa kawasan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance level di 5521 dan kemudian 5751, sedangkan support level di posisi 5105 dan kemudian 5063.

Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan lalu terpantau masih menguat, rally di minggu yang ketujuh dan sempat mencapai 19 minggu tertingginya, lalu terkoreksi di 3 hari terakhir, sementara dollar global merangkak naik, sehingga rupiah secara mingguannya menguat 0.09% ke level Rp 14,197. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan masih turun dengan agak tertahan, atau kemungkinan rupiah menguat kembali dalam tempo lebih lambat, dalam range antara resistance di level Rp14,303 dan Rp14,440, sementara support di level Rp13.992 dan Rp13.887.

===

Bank Indonesia melaporkan Stabilitas Sistem Keuangan selama semester I 2020 sebagai tetap terjaga, di tengah meluasnya dampak pandemi Covid-19. Kondisi ini tidak terlepas dari berbagai respons kebijakan dan langkah-langkah yang tidak biasa yang telah ditempuh oleh otoritas anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Ke depannya pertumbuhan ekonomi domestik dan stabilitas sistem keuangan diprakirakan akan terus membaik.

Bank Indonesia merilis indeks penjualan eceran pada September 2020 yang melanjutkan tren perbaikan sejak Juni 2020. Pertumbuhan Indeks Penjualan Riil (IPR) September 2020 tercatat sebesar -8,7% (yoy), membaik dibandingkan pertumbuhan IPR pada Agustus sebesar -9,2% (yoy).

Di sisi lain, Survei Konsumen Bank Indonesia mengindikasikan perbaikan keyakinan konsumen masih tertahan pada Oktober 2020. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Oktober 2020 sebesar 79,0, lebih rendah dibandingkan dengan 83,4 pada September 2020.

===

Pasar Forex

Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar secara umum menguat terbatas di tengah naiknya kasus baru virus corona di Amerika dan Eropa yang menaikkan permintaan safe haven, dimana indeks dolar AS secara mingguan berakhir menguat ke 92.76. Sementara itu, pekan lalu euro terhadap dollar terpantau melemah terbatas ke 1.1835. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level resistance pada 1.1918 dan kemudian 1.2011, sementara support pada 1.1602 dan 1.1507.

Pound sterling minggu lalu terlihat menguat tipis ke level 1.3192 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.3266 dan kemudian 1.3483, sedangkan support pada 1.2675 dan 1.2480. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir menguat ke level 104.55.  Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 105.35 dan 108.17, serta support pada 103.08 serta level 101.18. Sementara itu, Aussie dollar terpantau menguat tipis ke level 0.7264. Range minggu ini akan berada di antara resistance level di 0.7435 dan 0.7712, sementara support level di 0.6807 dan 0.6776.

Pasar Saham

Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia secara umum menguat oleh optimisme perkembangan vaksin walau kemudian dihadang naiknya kasus baru virus. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau berakhir menguat ke level 25,385. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 24448 dan 25167, sementara support pada level 22948 dan 22205. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir menguat ke level 26,157. Minggu ini akan berada antara level resistance di 26474 dan 26783, sementara support di 24030 dan 23124.

Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau menguat setelah Presiden Trump sampaikan proyek pembuatan vaksin -disebut Operation WARP- yang sekarang sudah siap didistribusikan, yang memberi harapan pemulihan ekonomi pada tahun depan. Indeks Dow Jones secara mingguan menguat tajam ke level 29,479.82, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 29934 dan 30100, sementara support di level 28190 dan 26143. Index S&P 500 minggu lalu menguat ke level 3,586.7, dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 3590 dan 3675, sementara support pada level 3327 dan 3233.

Pasar Emas

Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau fluktuatif dengan bias terkoreksi oleh penguatan dollar, walau di 2 hari terakhirnya berupaya rebound oleh menanjaknya kasus virus, sehingga harga emas spot secara mingguan melemah ke level $1,889.56 per troy ons. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistant di $1966 dan berikut $1993, serta support pada $1850 dan $1795.

 

Dinamika, atau bagi sebagian lainnya gejolak, dari pasar investasi sepertinya semakin fluktuatif saja belakangan ini. Semakin jelas bahwa koreksi pasar memang ada. Rebound atau reversal adalah bagian dari pergerakan pasar. Dalam situasi demikian ini, timing untuk masuk serta keluar pasar (market entry and exit) merupakan komponen kunci keberhasilan investasi. Terpeleset di sini maka keuntungan menjadi tipis atau bahkan kerugian membengkak. Anda, kalau boleh disarankan, perlu teman investasi. Tetaplah bersama kami, karena kami hadir demi sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here