Perkembangan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah (20 November); Rupiah Terkoreksi Terbatas

202
Vibizmedia Photo

(Vibiznews – Economy and Bonds) – Mencermati kondisi perekonomian Indonesia khususnya sebagai dampak penyebaran COVID-19, Bank Indonesia menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai Rupiah secara periodik, demikian rilis dari Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Jumat ini (20/11).

Indikator dimaksud adalah nilai tukar dan inflasi, sebagai berikut:

A)   Perkembangan Nilai Tukar 16 – 19 November 2020

Pada akhir hari Kamis, 19 November 2020 

  1. Rupiah ditutup pada level (bid) Rp14.040 per dolar AS.
  2. Yield SBN (Surat Berharga Negara) 10 tahun turun ke level 6,15%.
  3. DXY melemah ke level 92,29.
  4. Yield UST (US Treasury) Note 10 tahun turun ke level 0,851%.

Pada pagi hari Jumat, 20 November 2020

  1. Rupiah dibuka pada level (bid) Rp14.140 per dolar AS.
  2. Yield SBN 10 tahun naik menjadi 6,16%.

Aliran Modal Asing (Minggu III November 2020)

  1. Premi CDS (Credit Default Swaps) Indonesia 5 tahun naik ke 75,10 bps per 19 November 2020 dari 74,16 bps per 13 November 2020.
  2. Berdasarkan data transaksi 16 – 19 November 2020, nonresiden di pasar keuangan domestik beli neto Rp8,53 triliun, dengan beli neto di pasar SBN sebesar Rp7,04 triliun dan beli neto di pasar saham sebesar Rp1,49 triliun.
  3. Berdasarkan data setelmen selama 2020 (ytd), nonresiden di pasar keuangan domestik jual neto sebesar Rp145,54 triliun.

 

B)   Inflasi berada pada level yang rendah dan terkendali

  1. Berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada minggu III November 2020, perkembangan harga pada bulan November 2020 diperkirakan inflasi sebesar 0,23% (mtm). Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi November 2020 secara tahun kalender sebesar 1,19% (ytd), dan secara tahunan sebesar 1,55% (yoy).
  2. Penyumbang utama inflasi, yaitu daging ayam ras sebesar 0,09% (mtm), telur ayam ras sebesar 0,04% (mtm), bawang merah sebesar 0,03% (mtm), cabai merah dan cabai rawit masing-masing sebesar 0,02% (mtm), serta minyak goreng, tomat, bawang putih, dan jeruk masing-masing sebesar 0,01% (mtm). Sementara itu, komoditas yang menyumbang deflasi pada periode laporan berasal dari komoditas emas perhiasan sebesar -0,02% (mtm) dan tarif angkutan udara sebesar -0,01% (mtm).

“Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran COVID-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu, serta langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan,” demikian akhir catatan dari Departemen Komunikasi BI, Jumat ini (20/11).

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here