Review Pergerakan Harga Minyak Sawit Mingguan : 4 – 8 Januari 2021

423

(Vibiznews – Commodity) – Pergerakan harga minyak sawit pada seminggu di awal  tahun 2021 ini dari tanggal 4 Januari sampai 8 Januari 2021 mengalami kenaikan 4 hari dan pada hari Kamis sempat turun. Pada minggu ini kenaikan harga ke tertinggi 10 tahun berlangsung mulai dari hari Senin 4 Januari, dan selanjutnya harga terus meningkat sampai pada hari Rabu.  Pada penutupan pasar hari Jumat harga minyak sawit naik membuat kenaikan tujuh kali selama 8 hari terakhir dan kenaikan selama 4 minggu berturut-turut. Pasar menantikan laporan bulanan persediaan dan permintaan pada hari Senin 11 Januari 2021.

Pergerakan harga minyak sawit  pada minggu ini :

  • Harga minyak sawit Maret Bursa Malaysia Derivatives Exchange pada penutupan pasar Jumat 8 Januari 2021 ditutup naik 3 ringgit atau 0.08% menjadi $3,820 ringgit ($947.89) per ton.
  • Harga minyak sawit Maret pada penutupan pasar hari Kamis 7 Januari 2021 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 60 ringgit atau 1.55% menjadi 3,817 ringgit ($945.97) per ton.
  • Harga minyak sawit Maret pada hari Rabu tanggal 6 Januari 2021 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 122 ringgit atau 3.2% menjadi 3,877 ringgit ($967.32) per ton, naik lagi dari harga tertinggi sejak Februari 2011 pada hari Selasa.
  • Harga minyak sawit Maret pada hari Selasa 5 Januari 2021 di Bursa Malaysia Derivatif Exchange naik 32 ringgit atau 0.86% menjadi 3,756 ringgit ($935.72) per ton. Harga minyak sawit naik lima hari berturut-turut mencapai harga tertinggi sejak 18 Februari 2011.
  • Harga minyak sawit Maret pada hari Senin tanggal 4 Januari 2021 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 124 ringgit atau 3.44% menjadi 3,724 ringgit ($930.07) per ton. Kenaikan 4 hari berturut-turut dan mencapai harga tertinggi sejak Februari 2011.

Pergerakan pasar pada minggu ini yang menyebabkan kenaikan harga :

  1. Persediaan minyak sawit :
  • Perkiraan Reuter untuk persediaan akhir Desember akan mencapai terendah 13 tahun di 1.22 juta ton, produksi akan turun 11 % dari bulan sebelumnya dan ekspor akan naik 15%.
  • Persediaan minyak sawit Malaysia turun 23% dari bulan lalu menjadi 1.21 juta ton pada bulan Desember karena meningkatnya ekspor dan turunnya produksi.
  • Harga minyak sawit masih akan naik di Bulan Januari karena perkiraan persediaan yang turun, akibat produksi turun di beberapa daerah perkebunan karena banjir. Produksi diperkirakan kembali akan naik pada pertengahan tahun ini, pada saat cuaca kembali normal.
  • Persediaan minyak sawit akan ketat tahun ini, karena pola cuaca dari La Nina . Persediaan minyak sawit global sedikit pada tahun ini, karena  pola cuaca dari La Nina.
  1. Produksi minyak sawit global turun karena cuaca buruk dan kekurangan pekerja namun diperkirakan produksi masih akan naik sehingga produksi akan lebih dari 6 juta ton pada tahun ini.
  2. Persediaan minyak sawit Malaysia akan tetap rendah pada 2021, karena menguatnya permintaan Cina dan turunnya pajak impor India akan membuat permintaan naik, menurut Malaysian Palm Oil Council (MPOC)
  3. MPOC memperkirakan hasil minyak sawit Malaysia, negara produsen minyak terbesar ke 2 di dunia, akan naik menjadi 19.6 juta ton dari 19.4 juta ton di 2020.
  4. Ekspor Malaysia di 2021 akan meningkat 4.5 juta ton dari 3.7 juta ton pada tahun lalu.
  5. Harga minyak kedelai sangat mempengaruhi kenaikan harga minyak sawit. Harga minyak kedelai pada akhir Desember sempat mencapai harga tertinggi 6 ½ tahun sehingga memberikan kontribusi kenaikan harga minyak sawit.
  • Cuaca kering di Amerika Selatan membuat produksi kedelai turun, sehingga harga minyak kedelai naik mendorong harga minyak nabati lainnya termasuk harga minyak sawit naik.
  • Pengaruh kenaikan harga minyak mentah yang naik ke harga tertinggi sejak Februari 2020 akibat Arab Saudi menyetujui untuk mengurangi produksinya, sehingga membuat bahan bakar pengganti seperti biodiesel menjadi menarik

Pergerakan pasar pada minggu ini yang menyebabkan penurunan harga :

  1. Ekspor minyak sawit Malaysia dari 1 – 10 Januari 2021 turun 35.4% menjadi 260,080 ton dari 402,880 ton yang dikirim 1-10 Desember 2020 menurut cargo surveyor Intertek Testing Services pada hari Minggu
  2. Laporan dari GAPKI ( Indonesian Palm Oil Association):
  • Persediaan Indonesia meningkat. Persediaan minyak sawit Indonesia di 2020 diperkirakan sebesar 7.33 juta ton, naik 4.57 juta ton dari tahun sebelumnya.
  • Produksi minyak sawit diperkirakan akan meningkat 4.4 juta ton di 2020/21 dan perkiraan produksi Indonesia meningkat  4 juta ton dan Malaysia 0.3 juta ton.
  • Harga minyak sawit turun setelah Indonesian Palm Oil Association (GAPKI) melaporkan bahwa Indonesia melaporkan akan menunda penggunaan B40, biodiesel yang 40% bahan campurannya dari minyak sawit, sampai akhir tahun 2022.
  • Kapasitas pembuatan biodiesel Indonesia sebesar 10.2 juta ton di 2020 dan akan ditingkatkan menjadi 12.2 juta ton pada tahun 2021 dan 13.2 juta ton di 2022 menurut GAPKI.
  • Konsumsi biodiesel di negara Asia Tenggara pada tahun 2021 diperkirakan akan meningkat menjadi 8 juta ton dari 7.2 juta ton di 2020, menurut GAPKI.
  • Indonesia mengkonsumsi 8.46 juta kl biodiesel di 2020 dan akan memproduksi 9.2 juta kl pada tahun 2021 menurut Menteri ESDM.
  • Malaysia akan menunda pemakaian B20, biodiesel berbasis minyak sawit sampai awal 2020, sementara Indonesia menunda penggunaan biodiesel B40.
  • Indonesia, produsen minyak sawit terbesar dunia, ekspornya akan turun 500, 000 ton karena tingginya biaya retribusi.

Kesimpulan :

  • Pada seminggu pertama di awal tahun 2021 harga minyak sawit terus meningkat mencapai harga tertinggi 10 tahun, dan masih akan meningkat lagi apabila persediaan turun dan produksi menurun.
  • Kenaikan harga akan terhambat apabila terjadi penurunan ekspor karena harga minyak sawit yang tinggi, membuat eksportir beralih ke minyak nabati lain terutama ke minyak kedelai.
  • Pasar menantikan laporan bulanan persediaan dan permintaan dari MPOB yang akan diumumkan pada hari Senin 11 Desember 2021.

Analisa tehnikal untuk minyak sawit dengan support pertama di 3,770 ringgit dan berikut ke 3,630 ringgit sedangkan resistant pertama di 3, 890 ringgit dan berikut ke 3,910 ringgit.

Loni T / Senior Analyst Vibiz Research Centre Division, Vibiz Consulting

Editor : Asido

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here