Perkembangan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah (22 Januari); Arus Dana Masuk Rp6,5 Triliun

233
Vibizmedia Photo

(Vibiznews – Economy and Bonds) – Mencermati kondisi perekonomian Indonesia khususnya sebagai dampak penyebaran COVID-19, Bank Indonesia menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai Rupiah secara periodik, demikian rilis dari Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Jumat ini (22/1).

Indikator dimaksud adalah nilai tukar dan inflasi, sebagai berikut:

A) Perkembangan Nilai Tukar 18-21 Januari 2021

Pada akhir hari Kamis, 21 Januari 2021

  1. Rupiah dibuka pada level (bid) Rp13.980 per dolar AS.
  2. Yield SBN (Surat Berharga Negara) 10 tahun naik ke level 6,25%.
  3. DXY melemah ke level 90,10.
  4. Yield UST (US Treasury) Note 10 tahun naik ke level 1,106%

Pada pagi hari Jumat, 22 Januari 2021

  1. Rupiah dibuka pada level (bid) Rp14.010 per dolar AS.
  2. Yield SBN 10 tahun turun ke 6,22%.

Aliran Modal Asing (Minggu III Januari  2021)

  1. Premi CDS (Credit Default Swaps) Indonesia 5 tahun turun di 71,33 bps per 21 Januari 2021 dari 73,14 bps per 15 Januari 2021.
  2. Berdasarkan data transaksi 18-21 Januari 2021, nonresiden di pasar keuangan domestik beli neto Rp6,49 triliun, dengan beli neto di pasar SBN sebesar Rp5,81 triliun dan beli neto di pasar saham sebesar Rp0,68 triliun.
  3. Berdasarkan data setelmen selama 2021 (ytd), nonresiden di pasar keuangan domestik beli neto sebesar Rp16,00 triliun.

B) Inflasi berada pada level yang rendah dan terkendali

  1. Berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada minggu III Januari 2021, perkembangan harga pada bulan Januari 2021 diperkirakan inflasi sebesar 0,37% (mtm).  Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi Januari 2021 secara tahun kalender sebesar 0,37% (ytd), dan secara tahunan sebesar 1,67% (yoy).
  2. Penyumbang utama inflasi yaitu cabai rawit sebesar 0,10% (mtm), tempe dan tahu masing-masing sebesar 0,03% (mtm), cabai merah dan tarif angkutan antarkota masing-masing sebesar 0,02% (mtm), daging ayam ras, ikan kembung, kacang panjang, bayam, kangkung, ikan tongkol, daging sapi, emas perhiasan, nasi dengan lauk dan tarif angkutan udara masing-masing sebesar 0,01% (mtm). Sementara itu, komoditas yang menyumbang deflasi pada periode laporan berasal dari komoditas telur ayam ras sebesar -0,05% (mtm) dan bawang merah sebesar -0,01% (mtm).

“Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu, serta langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan,” demikian akhir catatan dari Departemen Komunikasi BI, Jumat ini (22/1).

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here