Perkembangan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah (5 Maret); Inflasi Maret Diperkirakan Rendah 1,37% (ytd)

355

(Vibiznews – Economy and Bonds) – Mencermati kondisi perekonomian Indonesia khususnya sebagai dampak penyebaran COVID-19, Bank Indonesia menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai Rupiah secara periodik, demikian rilis dari Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Jumat ini (5/3).

Indikator dimaksud adalah nilai tukar dan inflasi, sebagai berikut:

A) Perkembangan Nilai Tukar 1-5 Maret 2021

Pada akhir hari Kamis, 4 Maret 2021

  1. Rupiah ditutup pada level (bid) Rp14.260 per dolar AS.
  2. Yield SBN (Surat Berharga Negara) 10 tahun turun ke level 6,56%.
  3. DXY menguat ke level 91,63.
  4. Yield UST (US Treasury) Note 10 tahun naik ke level 1,564%

Pada pagi hari Jumat, 5 Maret 2021

  1. Rupiah dibuka pada level (bid) Rp14.260 per dolar AS.
  2. Yield SBN 10 tahun naik ke level 6,60%.

Aliran Modal Asing (Minggu I Maret 2021)

  1. Premi CDS Indonesia 5 tahun turun ke 76,05 bps per 4 Maret 2021 dari 77,4 bps per 26 Februari 2021.
  2. Berdasarkan data transaksi 1-4 Maret 2021, nonresiden di pasar keuangan domestik jual neto Rp0,40 triliun, dengan jual neto di pasar SBN sebesar Rp1,00 triliun dan beli neto di pasar saham sebesar Rp0,60 triliun.
  3. Berdasarkan data setelmen selama 2021 (ytd), nonresiden di pasar keuangan domestik beli neto sebesar Rp1,56 triliun.

 

B) Inflasi berada pada level yang rendah dan terkendali

  1. Berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada minggu I Maret 2021, perkembangan harga pada bulan Maret 2021 tetap terkendali, dan diperkirakan inflasi sebesar 0,09% (mtm). Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi Maret 2021 secara tahun kalender sebesar 0,45% (ytd), dan secara tahunan sebesar 1,37% (yoy).
  2. Penyumbang utama inflasi Maret 2021 sampai dengan minggu pertama yaitu komoditas cabai rawit sebesar 0,04% (mtm), bawang merah sebesar 0,03% (mtm), ikan mas, ikan kembung, tomat dan telur ayam ras masing-masing sebesar 0,01% (mtm). Sementara itu, beberapa komoditas mengalami deflasi, antara lain komoditas cabai merah sebesar -0,03% (mtm) dan emas perhiasan sebesar -0,02% (mtm).

Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu, serta langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan.

Sumber: BI, 5-3-2021

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here