Perkembangan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah (9 April); Pasar Keuangan Beli Neto Rp2,3 Triliun

353
Photo: Vibizmedia

(Vibiznews – Economy and Bonds) – Mencermati kondisi perekonomian Indonesia khususnya sebagai dampak penyebaran COVID-19, Bank Indonesia menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai Rupiah secara periodik, demikian rilis dari Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Jumat ini (9/4).

Indikator dimaksud adalah nilai tukar dan inflasi, sebagai berikut:

A)  Perkembangan Nilai Tukar 5 – 9 April 2021

Pada akhir hari Kamis, 8 April 2021

  1. Rupiah ditutup pada level (bid) Rp14.530 per dolar AS.
  2. YieldSBN (Surat Berharga Negara) 10 tahun turun ke level 6,43%.
  3. DXY melemah ke level 92,06.
  4. Yield UST (US Treasury) Note 10 tahun turun ke level 1,619%.

Pada pagi hari Jumat, 9 April 2021

  1. Rupiah dibuka pada level (bid) Rp14.530 per dolar AS.
  2. Yield SBN 10 tahun turun ke level 6,39%.

 

Aliran Modal Asing (Minggu II April 2021)

  1. Premi CDS Indonesia 5 tahun naik ke 84,07 bps per 8 April 2021 dari 82,73 bps per 2 April 2021.
  2. Berdasarkan data transaksi 5 – 8 April 2021, nonresiden di pasar keuangan domestik beli neto Rp2,34 triliun dengan beli neto di pasar SBN sebesar Rp4,15triliun, dan jual neto di pasar saham sebesar Rp1,81 triliun.
  3. Berdasarkan data setelmen selama 2021 (ytd), nonresiden jual neto Rp9,68

B)   Inflasi berada pada level yang rendah dan terkendali

  1. Berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada minggu II April 2021, perkembangan harga pada bulan April 2021 diperkirakan inflasi sebesar 0,08% (mtm).  Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi April 2021 secara tahun kalender sebesar 0,53% (ytd), dan secara tahunan sebesar 1,37% (yoy).
  2. Penyumbang utama inflasi April 2021 sampai dengan minggu kedua yaitu komoditas daging ayam ras sebesar 0,05% (mtm), jeruk dan cabai merah masing-masing sebesar 0,02% (mtm) dan minyak goreng sebesar 0,01% (mtm). Sementara itu, komoditas yang menyumbang deflasi pada periode laporan berasal dari komoditas telur ayam ras sebesar -0,04% (mtm), cabai rawit sebesar -0,03% (mtm), kangkung, bawang merah, bayam dan beras masing-masing sebesar -0,01% (mtm).

Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu, serta langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan.

Sumber: BI, 9-4-2021

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting
Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here