Harga Gula Turun Karena Permintaan Gula Turun Akibat Lockdown Pandemi Covid-19

203

(Vibiznews – Commodity) Harga gula pada penutupan pasar hari Senin turun karena meningkatnya penderita covid-19 sehingga lockdown terjadi membuat pertumbuhan ekonomi turun dan permintaan komoditi menjadi turun.

Harga gula Juli di ICE New York turun 36 sen (2.17%) menjadi $16.21 dan harga gula Agustus di London turun 2.01%.

Harga gula naik karena kekhawatiran bahwa pemerintah akan melakukan lockdown akibat meningkatnya penderita covid-19, sehingga pertumbuhan ekonomi akan turun dan membuat permintaan komoditi juga turun, termasuk gula.

Dengan adanya pembatasan daerah membuat permintaan akan bensin akan berkurang karena kurangnya pergerakan, sehingga petani tebu akan lebih banyak membuat gula dibanding etanol sehingga persediaan gula meningkat dan akibatnya harga gula turun.
Pertambahan jumlah pasien positif covid mingguan di dunia sampai 19 April naik 12% dari minggu lalu menjadi 5.2 juta, tertinggi sejak pandemi dimulai.

Penambahan pasien covid yang positif sehari di India mencapai 273,810 pada hari Senin.
Harga gula pada Jumat lalu sempat naik ke harga tertinggi 1 ½ bulan karena pembelian dari trader akibat kekhawatiran berkurangnya produksi gula. Cuaca kering akan mengganggu hasil panen gula di Brazil, menurut Somar Meteorologia bahwa kelembaban dari tanah dari tanaman tebu tidak memadai untuk menghasilkan panen yang baik .

Wilmar International pada hari Senin mengatakan karena kekeringan dalam waktu yang laman maka tanaman tebu di Brazil pada tahun 2021/22 akan menghasilan panen 530 MMT turun 12 % dari tahun lalu, jumlah terendah.

Di Perancis, produsen gula bit terbesar di Uni Eropa, ladang bit membeku sehingga tanaman bit 10% mengalami kerusakan.
The Green Pool Commodity Specialist pada hari Jumat memperkirakan bahwa produksi gula Thailand di 21021/22 meningkat menjadi 8.8 MM dari 7.57 MT pada musim ini, dibawah perkiraan USDA sebesar 10.6 MMT karena terbatasnya perluasan area penanaman gula di Thailand.

Harga gula di New York menguat karena permintaan etanol Brazil meningkat dari luar negeri. Brazil’s Trade Ministry melaporkan pada Kamis lalu bahwa ekspor etanol Brazil dari bulan Januari – Maret naik 82% dari tahun lalu menjadi 548 juta liter tertinggi 5 tahun pada periode ini.

Permintaan etanol yang meningkat membuat pabrik tebu menggiling tebu untuk memproduksi etanol lebih banyak dari pada gula, sehingga persediaan berkurang.

Pada 1 April dikatakan produksi gula India dari Oktober sampai 15 April naik 17% dari tahun lalu menjadi 29.1 MMT dari 24.83 MMT karena peningkatan panen dan kenaikan penggilingan tebu.

Permintaan gula di India yang biasanya sebesar 1% setiap tahun, turun 0.8% di 2019/20 menjadi 25.3 juta ton karena lockdown yang ketat pada Maret tahun lalu. Permintaan kembali menjadi normal pada tahun 2020 namun pada saat ini permintaan kembali turun karena lockdown.

Analisa tehnikal untuk gula dengan support sebesar $16.00 kemudian $15.80 sementara resistant $16.60 dan berikut $16.70.

Loni T / Senior Analyst Vibiz Research Centre Division, Vibiz Consulting
Editor : Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here