Perkembangan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah (23 April); Pasar Keuangan Beli Neto 3,9 Triliun

285
Vibizmedia Photo

(Vibiznews – Economy and Bonds) – Mencermati kondisi perekonomian Indonesia khususnya sebagai dampak penyebaran COVID-19, Bank Indonesia menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai Rupiah secara periodik, demikian rilis dari Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Jumat ini (23/4).

Indikator dimaksud adalah nilai tukar dan inflasi, sebagai berikut:

A)  Perkembangan Nilai Tukar 19 – 23 April 2021

Pada akhir hari Kamis, 22 April 2021

  1. Rupiah ditutup pada level (bid) Rp14.515 per dolar AS.
  2. YieldSBN (Surat Berharga Negara) 10 tahun turun ke level 6,40%.
  3. DXY melemah ke level 91,33.
  4. Yield UST (US Treasury) Note[2] 10 tahun turun ke level 1,538%.

Pada pagi hari Jumat, 23 April 2021

  1. Rupiah dibuka pada level (bid) Rp14.510 per dolar AS.
  2. Yield SBN 10 tahun naik ke level 6,41%.

Aliran Modal Asing (Minggu IV April 2021)

  1. Premi CDS Indonesia 5 tahun naik ke 78,90 bps per 22 April 2021 dari 78,37 bps per 16 April 2021.
  2. Berdasarkan data transaksi 19 – 22 April 2021, nonresiden di pasar keuangan beli neto Rp3,88 triliun terdiri dari beli neto di pasar SBN sebesar Rp4,68 triliun, dan jual neto di pasar saham sebesar Rp0,80 triliun.
  3. Berdasarkan data setelmen selama 2021 (ytd), nonresiden jual neto Rp6,82 triliun.

B)   Inflasi berada pada level yang rendah dan terkendali

  1. Berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada minggu IV April 2021, perkembangan harga pada bulan April 2021 diperkirakan inflasi sebesar 0,18% (mtm).  Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi April 2021 secara tahun kalender sebesar 0,63% (ytd), dan secara tahunan sebesar 1,47% (yoy).
  2. Penyumbang utama inflasi April 2021 sampai dengan minggu keempat yaitu komoditas komoditas daging ayam rassebesar 0,10% (mtm), jeruk sebesar 0,05% (mtm), cabai merah, daging sapi, minyak goreng dan emas perhiasan masing-masing sebesar 0,01% (mtm). Sementara itu, komoditas yang menyumbang deflasi pada periode laporan berasal dari komoditas cabai rawit sebesar -0,04% (mtm), kangkung, bawang merah, bayam, beras dan telur ayam ras masing-masing sebesar -0,01% (mtm).

Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu, serta langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan.

Sumber: BI, 23-4-2021

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here