Pasar Keuangan Sideways dan Peringkat Investment Grade — Domestic Market Outlook, 26-30 April 2021 by Alfred Pakasi

348

(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi domestik pada minggu lalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:

  • RDG BI mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,50%.
  • BI menyebutkan bahwa perbaikan ekonomi domestik terus berlangsung terutama didukung oleh membaiknya kinerja ekspor dan belanja fiskal.
  • S&P mempertahankan Credit Rating RI pada BBB/outlook negatif (Investment Grade), sementara R&I mempertahankan peringkat RI pada BBB+/outlook stabil (Investment Grade).

Untuk korban virus di Indonesia, berita resmi terakhirnya, sudah sekitar 1,632 ribu orang terinfeksi, 1,487 ribu sembuh dengan tingkat kesembuhan tinggi 91.12%, dan 44 ribu lebih orang meninggal.

Minggu berikutnya, isyu antara perkembangan pandemi virus corona, prospek pemulihan ekonomi dalam dan luar negeri akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Domestic Market Review and Outlook 26-30 April 2021.

===

Minggu lalu IHSG di pasar modal Indonesia terpantau terkoreksi setelah dua minggu menguat di tengah perdagangan yang relatif terbatas, dengan rebound di hari terakhirnya. Sementara itu, bursa kawasan Asia umumnya variatif. Secara mingguan IHSG ditutup melemah 1.14%, atau 69.394 poin, ke level 6,016.864. Untuk minggu berikutnya (26-30 April 2021), IHSG kemungkinan akan meneruskan rebound-nya di awal pekan nanti, dengan tetap mengacu kepada fundamental bursa kawasan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance di level 6.115 dan 6.231. Sedangkan bila menemui tekanan jual di level ini, support ke level 5.883, dan bila tembus ke level 5.735.

Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan lalu terpantau berakhir rebound setelah 9 minggu bearish, dengan pergerakan sideways di tiga hari terakhirnya, sementara dollar global lanjut terkoreksi, sehingga rupiah secara mingguannya berakhir menguat 0.12% ke level Rp 14,547. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan menurun perlahan, atau kemungkinan rupiah menguat di rentang terbatas, dalam range antara resistance di level Rp14,634 dan Rp14,717, sementara support di level Rp14.470 dan Rp14.390.

Harga obligasi rupiah Pemerintah Indonesia jangka panjang 10 tahun terpantau beranjak naik secara mingguannya, terlihat dari pergerakan turun yields obligasi dan berakhir ke 6,484% pada akhir pekan. Ini terpicu oleh naiknya kembali permintaan investor asing atas SBN. Sementara yields US Treasury cenderung turun selama tiga minggu terakhirnya.

===

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19-20 April 2021 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%. Keputusan ini sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dari dampak masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, meskipun prakiraan inflasi tetap rendah.

Perbaikan ekonomi domestik terus berlangsung terutama didukung oleh membaiknya kinerja ekspor dan belanja fiskal. Kinerja ekspor juga diprakirakan terus membaik, lebih tinggi dari proyeksi awal tahun, terutama didorong oleh komoditas CPO, bijih logam, pulp and waste paper, serta kendaraan bermotor dan besi baja.

Lembaga pemeringkat Standard and Poor’s (S&P) mempertahankan Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada BBB/outlook negatif (Investment Grade) pada 22 April 2021. Dalam laporannya, S&P menyatakan bahwa peringkat Indonesia dipertahankan pada level BBB karena prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat dan rekam jejak kebijakan yang berhati-hati yang tetap ditempuh otoritas. Pada sisi lain, S&P juga menyatakan bahwa risiko fiskal dan risiko eksternal terkait pandemi Covid-19 perlu menjadi perhatian.

BI juga menyebutkan bahwa berdasarkan data transaksi 19 – 22 April 2021, nonresiden di pasar keuangan beli neto Rp3,88 triliun terdiri dari beli neto di pasar SBN sebesar Rp4,68 triliun, dan jual neto di pasar saham sebesar Rp0,80 triliun.

Perbaikan sejumlah indikator ekonomi menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia sedang bergerak ke arah pemulihannya di tahun 2021 ini.

===

Pasar investasi, kadang demikian, suatu saat seperti terpuruk. Situasi demikian sering membuat investor gamang, kapan untuk entry atau exit di pasar. Mau masuk, takut merosot lagi. Mau keluar, siapa tahu nanti pasar rebound. Tidak keluar, jangan-jangan profit bisa berbalik loss. Di sinilah perlunya analisis pasar, baik teknikal maupun fundamental. Kalau Anda masih kurang menguasainya, Anda harus belajar. Biaya belajar itu adalah sebuah investasi. Return-nya pasti lebih tinggi dan berdampak jangka panjang. Sekali lagi: jangan lupa belajar, dan belajar terus! Sukses bagi investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here