Kinerja BEI April 2021: Nilai Transaksi Rp.396,21 Triliun, Menyusut Dibandingkan Bulan Lalu

136

(Vibiznews – IDX Stocks) – Nilai transaksi pialang saham secara bulanan terpantau kembali menyusut pada April 2021. Berdasarkan data BEI, transaksi sepanjang April 2021 hanya mencapai Rp396,21 triliun, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai sekitar Rp569,04 triliun. Nilai transaksi ini juga jauh lebih rendah dibandingkan awal tahun ini, yang mana sepanjang Januari 2021 nilai transaksi broker menyentuh rekor Rp849,12 triliun selama sebulan.

Sekuritas asal Korea Selatan Mirae Asset Sekuritas masih bercokol di posisi pertama sebagai sekuritas dengan transaksi bulanan tertinggi dengan total nilai transaksi Rp36,62 triliun.

Akan tetapi, sejalan dengan tren industri, nilai transaksi sekuritas berkode YP ini juga mengalami penurunan sepanjang bulan April, dari total nilai transaksi yang dibukukan sepanjang bulan sebelumnya yakni Rp58,67 triliun.

Adapun, Mirae Asset Sekuritas paling banyak mentransaksikan saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) dengan total transaksi Rp2,29 triliun. Kemudian saham PT MD Pictures Tbk. (FILM) sebanyak Rp1,65 triliun dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. sebanyak Rp1,41 triliun.

Selanjutnya, di posisi kedua ada Mandiri Sekuritas dengan nilai transaksi Rp25,74 triliun sepanjang April, juga mengalami penurunan dibandingkan Rp37,94 triliun sepanjang Maret.

Berbeda dengan YP, sekuritas berkode CC terpantau paling banyak mentransaksikan PT Bank Centak Asia Tbk. (BBCA) dengan total Rp2,43 triliun. Baru disusul ANTM senilai Rp1,44 triliun dan BBRI senilai Rp1,22 triliun.

Pada posisi tiga ada UBS Sekuritas Indonesia dengan nilai transaksi Rp21,38 triliun. Sama seperti dua sekuritas sebelumnya, UBS Sekuritas juga mencatatkan penurunan dari posisi Rp31,45 triliun pada bulan sebelumnya.

UBS Sekuritas Indonesia berturut-turut paling banyak mentransaksikan BBCA, BBRI, dan BMRI (PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.), dengan total nilai transaksi masing-masing Rp3,38 triliun. Rp1,97 triliun, dan Rp1,13 triliun.

Mengekor ketiga sekuritas tersebut, di posisi 4-6 ada CIMB Securities Indonesia (Rp21,21 triliun), Indo Premier Sekuritas (Rp20,07 triliun), dan JP Morgan Sekuritas Indonesia (Rp17,39 triliun).

Kemudian berturut-turut diikuti oleh Credit Suisse Securities Indonesia (Rp16,96 triliun), Maybank Kim Eng Securities (Rp14,09 triliun), Macquarie Capital Securities (Rp12,40 triliun), serta CLSA Sekuritas Indonesia (Rp11,60 triliun).

Kalangan sekuritas memperkirakan tren penurunan nilai transaksi pialang saham diperkirakan masih akan berlanjut dan mulai membaik pada pertengahan tahun ini.

Berdasarkan data BEI, nilai transaksi pialang saham sepanjang April 2021 hanya mencapai Rp396,21 triliun, lebih rendah dibandingkan nilai transaksi sepanjang Maret yang mencapai sekitar Rp569,04 triliun.

Transaksi broker terus membukukan penyusutan sepanjang tahun ini. Sebagai gambaran, meski nilai transaksi sepanjang Maret lebih dari Rp500 triliun, jumlah tersebut lebih rendah dibanding Februari yang mencapai Rp624,93 triliun.

Nilai transaksi Februari juga jauh lebih rendah dibandingkan awal tahun ini. Sepanjang Januari 2021 nilai transaksi broker menyentuh Rp849,12 triliun selama sebulan sekaligus memecahkan rekor tertinggi.

Bursa Efek Indonesia menyebut sejumlah hal yang menyebabkan penurunan nilai transaksi pialang saham menyusut di bulan pertama kuartal II/2021 ini. Berdasarkan data BEI, transaksi sepanjang April 2021 hanya mencapai Rp396,21 triliun, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai sekitar Rp569,04 triliun.

Nilai transaksi ini juga jauh lebih rendah dibandingkan awal tahun ini, yang mana sepanjang Januari 2021 nilai transaksi broker menyentuh rekor Rp849,12 triliun selama sebulan.

Ini Tanggapan BEI Direktur Perdagangan dan Penilaian Anggota Bursa BEI Laksono W. Widodo mengatakan ada beberapa penyebab yang membuat nilai transaksi di bursa terus menipis belakangan ini. Pertama, saat ini investor asing masih rajin “berjualan” alias keluar dari pasar saham Indonesia.

BEI mencatat, meski asing masih net buy secara year to date, aksi jual asing sepanjang tahun berjalan ini telah mencapai Rp2,85 triliun. “Mereka masih net sell di bulan Maret dan April ini setelah mencatatkan net buy di Januari dan Februari. Sepertinya kondisi global yang menyebabkan hal ini terkait dengan perkembangan di pasar luar negeri utamanya di AS,” jelas Laksono, akhir pekan lalu.

Kedua, lanjut Laksono, adanya penurunan transaksi dari BPJS Ketenagakerjaan turut memengaruhi aktivitas transaksi investor lainnya, terutama institusi domestik yang memiliki kemiripan dengan BPJS Ketenagakerjaan seperti Taspen, Dapen, dan lainnya.
“BPJS TK dianggap sebagai leader atau mercusuar bagi institusi-institusi domestik tersebut sehingga pasang surutnya aktivitas BPJS TK akan mempengaruhi tindakan institusi-institusi tersebut,” tutur Laksono.

Dia juga mengatakan pergerakan ekonomi yang berangsur pulih memicu adanya perpindahan dana dari pasar keuangan ke sektor riil, terlihat dari Purchasing Manager’s Index dan statistic barang impor yang terus naik.

Kemudian, dia menyebut adanya tren investasi lain yang sedang digandrungi masyarakat seperti investasi aset kripto turut menjadi penyebab transaksi bursa tak seramai awal tahun lalu.

“Adanya kompetisi dari cryptocurrency. Mungkin, namun belum ada data konkrit,” ujar dia.

Selasti Panjaitan/Vibiznews
Editor : Asido Situmorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here