Review Mingguan Pergerakan Harga Minyak Sawit 10 – 12 Mei 2021

421

(Vibiznews – Commodity) – Pergerakan harga minyak sawit minggu pertama bulan Mei dari tanggal 10 – 12 Mei 2021. Bursa Malaysia pada minggu lalu dibuka hanya tiga hari, sedangkan hari Kamis dan Jumat bursa ditutup karena libur hari Idul Fitri.
Setelah mengalami penurunan 2 hari berturut-turut pada awal minggu ini maka selama seminggu ini harga minyak sawit naik 2.2%.

Pada hari Senin 10 Mei 2021 the Malaysian Palm Oil Board (MPOB)  mengumumkan Laporan Bulanan Permintaan dan Persediaan untuk bulan April.
• Persediaan Crude Palm Oil (CPO) Malaysia naik pada bulan April 2021 naik 5.8% menjadi 785,384 ton dari 742,242 ton pada bulan sebelumnya.
• Total persediaan minyak sawit di bulan April naik 7.07% menjadi 1.55 juta ton dari 1.44 juta ton di bulan Maret.
• Produksi CPO di bulan April naik 6.98% menjadi 1.52 juta ton dibandingkan 1.42 juta ton di bulan Maret.
• Hasil panen biji sawit naik 6.9% menjadi 383,958 ton di bulan April dari 359,134 ton di bulan Maret.
• Ekspor minyak sawit April naik 12.62% menjadi 1.34 juta ton dari 1.19 juta ton di bulan Maret.
• Ekspor biji sawit di bulan April meningkat 2.49 % dari bulan lalu menjadi 95,546 ton dari 94,073 ton pada bulan Maret.
• Ekspor biodiesel di bulan April melonjak 99.73% dari bulan lalu menjadi 27,640 ton dari 13,839 ton di bulan Maret.

Pergerakan harga minyak sawit pada minggu ini :
• Pada hari Kamis dan Jumat 13 Mei dan 14 Mei Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup, karena hari libur Idul Fitri.
• Harga minyak sawit Juli pada penutupan pasar hari Rabu 12 Mei 2021 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 179 ringgit (4.12 %) menjadi 4,524 ringgit per ton
• Harga minyak sawit Juli di Bursa Malaysia Derivatives Exchange pada penutupan pasar hari Selasa 11 Mei 2021 turun 23 ringgit atau 0.53% menjadi 4,345 ringgit ($1,055.64) per ton, setelah pada perdagangan siang hari naik 1.5%.
• Harga minyak sawit Juli pada penutupan pasar hari Senin 10 Mei 2021 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 62 ringgit atau 1.4% menjadi 4,365 ringgit ($1,063.34) per ton, menghentikan kenaikan harga yang tinggi selama dua hari.

Faktor yang menggerakkan harga minyak sawit naik pada minggu :
• Ekspor minyak sawit Malaysia dari tanggal 1- 10 Mei naik 32.3% dari tanggal 1- 10 April menjadi 455,285 ton menurut Societe Generale de Surveillance.
• Pembelian dari negara-negara Muslim akan berkurang setelah libur Hari Raya di pertengahan Mei, diharapkan ekspor Cina dan India akan meningkat.
• Import kedelai Cina di bulan April naik 11% dari tahun lalu pada bulan yang sama naik karena adanya pengiriman dari Brazil yang masih tertunda. Cina produsen kedelai terbesar dunia membeli 7.45 juta ton kedelai di bulan April naik dari 6.714 juta ton di tahun lalu, menurut General Administration of Customs data.
• Harga minyak sawit sempat menyentuh harga tertinggi sejak 2008 pada 4,231 ringgit perton di perdagangan siang hari.
• Harga minyak sawit kontrak terdekat Mei naik juga ke rekor tertinggi 4,704 ringgit ($1,140.92) per ton pada hari Kamis.
• Hasil panen akan berkurang karena kekurangan pekerja pada saat panen, kekurangan pekerja mempengaruhi hasil panen dan terlebih lagi pada bulan Mei ini.
• Permintaan masih baik karena harga minyak sawit masih lebih murah dari minyak kedelai dan minyak nabati lainnya.
• Harga minyak sawit terdorong naik karena terjadi kenaikan harga di pasar komoditi pertanian global, di Chicago dari jagung dan kedelai, yang harganya naik sampai rekor.
• The Malaysian Palm Oil Association (MPOA) memperkirakan produksi minyak sawit pada minggu ini akan mempengaruhi harga. Persediaan minyak sawit di bulan April turun sedikit karena produksi naik ke jumlah tertinggi enam bulan namun dikurangi dengan peningkatan ekspor dan berkurangnya import data persediaan dan permintaan akan diumumkan oleh the Malaysian Palm Oil Board (MPOB) pada hari Senin 10 Mei.
• Bank Sentral Malaysia diperkirakan akan menaikkan suku bunga meninggalkan tingkat suku bunga yang rendah sehingga terjadi pemulihan perekonomian setelah terjadi peningkatan penyebaran virus corona, dengan demikian lebih menarik permintaan dari luar negeri.
• Kekurangan pekerja :
o Industri sawit mengalami kekurangan pekerja karena pandemi Covid-19, sehingga produksi berkurang di Malaysia negara produsen minyak sawit terbesar ke dua di dunia. Diperkirakan industri sawit mengalami kekurangan tenaga kerja sebesar 30%.
o Industri sawit berusaha untuk menarik penduduk sekitar untuk memanen sawit, namun 60% mengajukan diri untuk berhenti untuk waktu yang tidak dapat ditentukan.
o Pemerintah Malaysia sudah menyetujui untuk kembalinya 32,000 pekerja asing ke ladang sawit tapi pengembalian ini mengalami kendala karena peningkatan kasus virus covid yang baru.
• Laporan dari Indonesia, Negara pengekspor minyak sawit terbesar di dunia:
o Indonesia menurunkan biaya restribusi untuk minyak sawit sebesar $100, sehingga minyak sawit Indonesia lebih kompetitif.
o Indonesia, produsen minyak sawit terbesar dunia diperkirakan produksinya akan meningkat 7.1% menjadi 55.69 juta ton di 2021 karena cuaca yang baik menurut the Indonesia Oil Palm Research Institute (IOPRI).
o Perkiraan produksi CPO Indonesia sebesar 48.4 juta ton sedangkan produksi crude palm kernel oil (CPKO) diperkiraan 7.29 juta ton.
• Padahal hari Senin kemarin harga minyak sawit naik karena peningkatan ekspor dimana ekspor Malaysia pada bulan April naik 13.4% menjadi 1,413,094 ton dari 1,245,567 ton yang dikirim menurut cargo surveyor Societe Generale de Surveillance pada hari Senin.

Faktor penggerak penurunan harga minyak sawit
• Persediaan minyak sawit Malaysia naik 7.1% dari bulan lalu mencapai tertinggi 5 bulan menjadi 1.55 juta ton karena peningkatan dari produksi.
• Persediaan diperkirakan akan berkurang kalau ekspor naik 4- 7% kalau sesuai dengan perkiraan tapi konsumsi domestik hanya 191,000 ton sehingga persediaan naik .
• Jumlah ini masih sedikit dibanding dari rata-rata persediaan sebelumnya di bulan April selama 10 tahun rata-ratanya 1.98 juta ton.
• Data MPOB bahwa konsumsi domestik sebesar 50,000 ton sangat sedikit dibanding perkiraan pasar sebesar 240,000 – 362,000 ton.
• Impor minyak sawit India akan berkurang di bulan Mei dan Juni karena di beberapa negara bagian di India menutup hotel dan restoran untuk mencegah berjangkitnya virus Corona. India adalah negara pengimpor minyak nabati terbesar di dunia.
• Penyebaran virus corona di India, negara importir minyak sawit terbesar di dunia mencapai 20 juta pada hari Selasa sehingga permintaan minyak sawit dari negara ini berkurang.
• Uni Eropa pembeli terbesar ke tiga dari minyak sawit Malaysia mengimpor 4.23 juta ton di 2020/21 turun 4.55 juta ton dari tahun lalu, menurut European Commission.
• Sementara data di Indonesia negara produsen minyak sawit terbesar di dunia persediaan pada bulan Februari sebesar 4.04 juta ton menurut Indonesian Palm Oil Association (GAPKI ) pada hari Jumat.
• Perkiraan pasar produksi minyak sawit Indonesia di bulan Maret akan meningkat, sementara eksporpun akan meningkat.
• Investor memperkirakan Indonesia akan menaikan pajak ekspor minyak sawit menjadi $144 per ton di bulan Mei dari $116 perton di bulan April, setelah Malaysia menaikkan pajak ekspor pada bulan depan.

Kesimpulan :
Pada awal Mei tanggal 6 Mei 2021 harga minyak sawit mencapai harga tertinggi 13 tahun, tapi kenaikan harga minyak sawit tidak bertahan setelah Laporan Persediaan dan Permintaan bulanan MPOB pada hari Senin 10 Mei 2021 membuat harga kembali turun pada hari Senin dan Selasa namun pada hari Rabu kembali naik. Karena peningkatan persediaan yang tidak terduga pada bulan April.

Harga minyak sawit mengikuti kenaikan harga minyak kedelai karena persediaan kedelai global sedikit, dan juga persediaan minyak kedelai global mencapai jumlah terendah 11 tahun. Harga minyak kedelai juga mengalami kenaikan lagi setelah Laporan Perkiraan Bulanan Persediaan Permintaan WASDE (World Agriculture Supply Demand Estimate ) pada hari Rabu 12 Mei.

Pada minggu depan harga minyak sawit bisa mengalami kenaikan kalau mengikuti harga minyak kedelai, namun kenaikan terhadap karena permintaan selama pandemi akan berkurang, karena lockdown di India dan juga di Malaysia sendiri.

Penambahan penderita positif covid di India yang tinggi menyebabkan ekspor ke India pasti menurun, ditambah dengan pandemi covid juga berlangsung lagi di Malaysia sehingga semakin sulit mencari pekerja di ladang sawit.

Minyak kedelai sebagai minyak nabati saingan terus meningkat sehingga dapat menggerakkan harga minyak sawit naik lagi.

Analisa tehnikal untuk minyak sawit support pertama di 4,400 ringgit dan berikut ke 4,280 ringgit sedangkan resistant pertama di 4, 580 ringgit dan berikut ke 4,640 ringgit.

Loni T / Senior Analyst Vibiz Research Centre Division, Vibiz Consulting
Editor : Asido.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here