Indonesia Punya Unicorn Terbanyak di ASEAN, Siapkah BEI untuk Rencana IPOnya?

220

(Vibiznews – IDX Stocks) – Rencana initial public offering (IPO) beberapa start up pengguna teknologi atau enable tech company berstatus unicorn dan decacorn masih memantik penasaran para pelaku pasar Indonesia.

Bukan hanya soal perusahaan rintisan yang belum menampakan laporan perusahaan untung, IPO yang berpotensi menjadi jalan keluar bagi pemegang saham yang mayoritas investor luar negeri untuk merealisasikan keuntungan, juga masalah perusahaan rintisan juga membutuhkan perubahan aturan regulator.

Ketua Indonesia Fintech Society (IF Soc) Mirza Adityaswara menyebut, perusahaan rintisan atau start up digital memiliki nilai strategis bagi Indonesia baik untuk pertumbuhan ekonomi serta berperan dalam pemulihan ekonomi.

“Mereka mempercepat old economy menjadi new economy. Ini sudah menjadi kebutuhan,” tandas Mirza, dalam press briefing, Rabu (9/6). Nyaris banyak kebutuhan masyarakat yang kini beralih ke digital, dari kebutuhan transportasi, makan, kesehatan hingga belanja.

Dalam perkembangannya, kata Mirza, start up digital masih membutuhkan pendanaan untuk terus melakukan inovasi. Hingga saat ini, investor asing masih mendominasi pembiayaan bagi startup digital. Ini lantaran masih banyak investor lokal yang belum memahami model bisnis start up digital.

Kondisi ini berberbeda dengan investor luar negeri yang sudah lebih dulu memahami model bisnis digital. Alhasil, mereka bersedia melakukan injeksi modal besar meski perusahaan masih mengalami rugi.

“Hanya dalam perkembangannya, pasca digital ekonomi terbentuk, perusahaan digital ini meraih keuntungan,” ujar dia. Ini pula yang kemudian membuat investor memilih exit dari perusahaan digital baik saat IPO maupun menjual ke investor lain. Meskipun keluar masuknya investor adalah hal biasa dalam bisnis model start up digital.

Perusahaan digital ekonomi masih akan terus membutuhkan tambahan modal di awal. Investor masih akan terus membenamkan dananya. “Salah satu jalan adalah dengan IPO, dengan begitu Indonesia harus mempersiapkan peraturan dengan cepat agar tak kehilangan peluang,”ujar Mirza.

Sebagai perbandingan pada tahun 2010, kapitalisasi pasar terbesar dipegang Exxon dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai US$ 368,71 miliar, lalu Apple (US$ 295,89 miliar), Microsoft( US$238,78 miliar), disusul Bekshire US$ 198, 31 miliar.

Peta berubah 10 tahun kemudian. Pada tahun 2020, Apple Inc mencatatkan rekor dengan nilai kapitalisasi terbesar, yakni US$ 2,02 triliun. Microsoft (US$1,62 triliun), Facebook Inc (US$766,36 miliar), hingga Alphabet Inc (US$1,07 triliun).

Ini artinya: “Perusahaan digital menciptakan new economy, sementara perusahaan seperti Exxon, P&G, menjadi old economy,” ujarnya

Mirza menyakini, Indonesia memiliki potensi besar dalam new economy. Populasi usia muda yang besar, jumlah unicorn terbanyak di Asia, Indonesia berpeluang menciptakan unicorn baru.

Hanya saja, belum ada start up digital yang listing di pasar modal Indonesia. Alhasil, investor memanfaatkan start up yang menggarap pasar Indonesia seperti Sea Group yang listing di AS.

Kata Mirza, kesempatan ini tak boleh dilewatkan. Apalagi, kini porsi investor domestik dalam pasar modal dalam negeri juga terus membesar. Menurut data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), porsi investor domestik terus menjadi 50,79% pada akhir 2020.

Dari segi regulasi, bursa Indonesia juga semakin akomodatif dengan melakukan reklasifikasi emiten pada Januari 2021. Hadirnya klasifikasi baru seperti teknologi, kata Mirza, menjadi bukti perusahaan teknologi semakin dilirik untuk melantai di bursa.

“Di Januari 2021 PT BEI (Bursa Efek Indonesia) sudah memasukan klasifikasi perusahaan teknologi, ini menjadi tanda bursa kita sudah semakin mature,” ujarnya

Jika tak ada aral melintang, ada dua perusahaan start up digital yang akan masuk bursa, yakni GoTo, perusahaan hasil merger Gojek dan Tokopedia yang valuasinya menembus US$40 miliar. Selain Go To, Bukalapak juga disebut akan masuk bursa dengan incaran dana US$ 300 juta.

Menteri Komunikasi dan Informatika periode 2014-2019 Rudiantara menambahkan, masuknya GoTo bisa mendorong perusahaan lain lebih berani untuk tercatat di bursa.
Menurutnya, pendanaan oleh publik menjadi opsi yang bisa ditempuh, bahkan bila perusahaan teknologi tersebut masih belum mencatatkan keuntungan.

“Lost (kerugian) perusahaan di bursa sudah bisa sampai 6 tahun, kebijakan juga harus akomodatif untuk perusahaan teknologi yang belum bisa mencetak keuntungan ,” kata Rudiantara.

Apalagi, Indonesia memiliki banyak start up yang tengah melakukan ekspansi. Memiliki jumlah start up terbesar di Asean, ada 7 dari 11 startup berstatus Unicorn di Asia Tenggara dari Indonesia.Total valuasi dari 11 start up tersebut ditaksir mencapai US$28 miliar.

Start up berstatus centaur atau selevel di bawah unicorn di Indonesia menguasai 38% dari keseluruhan start up dengan nilai valuasi berkisar berkisar US$100 juta-US$999 juta .

Ekosistem ini yang menjadi keunggulan Indonesia dalam membangun perusahaan teknologi. Ekosistem itu, kata Rudiantara, perlu diakselerasi dengan menambah modal melalui opsi IPO di bursa dalam negeri.

“Di Amerika itu sudah didominasi oleh perusahaan teknologi. Dengan inovasi yang tinggi di Indonesia, saya rasa opsi IPO ini bisa menjadi alternatif karena tidak jarang proses private placement dari modal ventura perlu waktu lama,” ujar Rudiantara.

Selasti Panjaitan/Vibiznews
Editor : Asido Situmorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here