Pasar Obligasi Menguat Dengan Masuknya Dana Asing ke SBN

184
Vibizmedia Picture

(Vibiznews – Bonds & Mutual Funds) – Investor kini mulai melirik obligasi sebagai instrumen investasi dalam portfolionya, hal ini terlihat dari kinerja pasar obligasi yang menguat pada periode pekan lalu. Tercatat dari periode 7 Juni -11 Juni 2021 kinerja indeks total return obligasi Indonesia atau dikenal dengan Indonesia Composite Bond Index (ICBI) naik sebesar 0,68% ke level 320,05.

Kenaikan ini didorong kinerja obligasi negara yang naik 0,70% week on week (wow) ke level 314,00. Demikian pula diikuti kinerja obligasi korporasi juga naik 0,44% wow ke level 348,31.

Berdasarkan riset Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), Senin (14/6), aktivitas perdagangan seperti volume harian dan frekuensi harian obligasi di pasar sekunder meningkat di pekan lalu.

PHEI memandang tren positif di pasar obligasi terdorong oleh respon positif pelaku pasar terhadap data domestik. Data ekonomi tersebut meningkatkan optimisme percepatan pemulihan ekonomi domestik. Salah satunya, data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia periode Mei berlanjut di zona optimistis yakni di level 104,4.

Sedangkan, jelang akhir pekan lalu Bank Indonesia merilis hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) yang mengindikasikan perbaikan kinerja penjualan eceran secara bulanan maupun tahunan pada April 2021. Indeks Penjualan Riil (IPR) April 2021 tumbuh 17,3% (mtm) dan 15,6% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 6,1% (mtm) dan -14,6% (yoy). Berdasarkan data tersebut terlihat penjualan ritel periode April tumbuh signifikan di luar dugaan, pelaku pasar tumbuh sebesar 15,6% year on year. Sementara, konsensus minus di 10% yoy.

Beberapa sentimen positif tersebut akhirnya turut mendorong masuknya aliran dana asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN), sebesar Rp 9,95 triliun dalam sepekan lalu. Kondisi ini membuat rupiah sempat menguat ke Rp 14.189 per dolar AS di pekan lalu.

Namun, PHEI mengamati pergerakan pasar juga masih dibayangi beberapa sentimen penekan di antaranya, potensi tapering off oleh The Fed dalam waktu dekat karena cepatnya pemulihan ekonomi AS. Selain itu lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia juga masih mengancam.

 

Belinda Kosasih/ Partner of Banking Business Services/Vibiz Consulting
Editor : Asido Situmorang

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here