Perkembangan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah (17 September); Perkiraan Inflasi September 1,65% (yoy)

400
Vibizmedia Photo

(Vibiznews – Economy and Bonds) – Mencermati kondisi perekonomian Indonesia khususnya sebagai dampak penyebaran COVID-19, Bank Indonesia menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai Rupiah secara periodik, demikian rilis dari Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Jumat ini (17/9).

Indikator dimaksud adalah nilai tukar dan inflasi, sebagai berikut:

 

A) Perkembangan Nilai Tukar 13-17 September 2021

Pada akhir hari Kamis, 16 September 2021

  1. Rupiah ditutup pada level (bid) Rp14.250 per dolar AS.
  2. Yield SBN (Surat Berharga Negara) 10 tahun turun ke level 6,12%.
  3. DXY menguat ke level 92,93.
  4. Yield UST (US Treasury) Note 10 tahun turun ke level 1,338%.

Pada pagi hari Jumat, 17 September 2021

  1. Rupiah dibuka pada level (bid) Rp14.250 per dolar AS.
  2. Yield SBN 10 tahun naik ke level 6,14%.

Aliran Modal Asing (Minggu III September 2021)

  1. Premi CDS Indonesia 5 tahun naik ke level 66,68 bps per 16 September 2021 dari 66,02 bps per 10 September 2021.
  2. Berdasarkan data transaksi 13-16 September 2021, nonresiden di pasar keuangan domestik jual neto Rp2,99 triliun terdiri dari jual neto di pasar SBN sebesar Rp4,03 triliun dan beli neto di pasar saham sebesar Rp1,04 triliun.
  3. Berdasarkan data setelmen selama 2021 (ytd), nonresiden beli neto Rp18,21 triliun.

 

B) Inflasi berada pada level yang rendah dan terkendali

  1. Berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada minggu III September 2021, perkembangan harga pada September 2021 tetap terkendali dan diperkirakan inflasi sebesar 0,01% (mtm). Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi September 2021 secara tahun kalender sebesar 0,85% (ytd), dan secara tahunan sebesar 1,65% (yoy).
  2. Penyumbang utama inflasi September 2021 sampai dengan minggu ketiga yaitu komoditas daging ayam ras sebesar 0,03% (mtm), minyak goreng sebesar 0,02% (mtm), sawi hijau, bayam, dan rokok kretek filter masing-masing sebesar 0,01% (mtm). Sementara itu, beberapa komoditas mengalami deflasi, antara lain telur ayam ras sebesar -0,07% (mtm), bawang merah, cabai rawit dan cabai merah masing-masing sebesar -0,03% (mtm), serta bawang putih sebesar -0,01% (mtm).

Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu, serta langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan.

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here