Single Submission Pabean Karantina Diperluas Implementasinya ke Merak, Upaya Efisiensi NLE

369
Sumber: Kemenkeu

(Vibiznews – Economy & Business) –Meningkatnya perdagangan internasional baik ekspor maupun impor barang maka diperlukan penciptaan ekosistem logistik yang efisien, standar, sederhana, murah dan transparan. Guna mendukung hal tersebut maka pemerintah melalui Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2020 mengatur tentang Penataan Ekosistem Logistik Nasional (National Logistics Ecosystem/NLE), penggunaan Single Submission Pabean Karantina (SSm QC) diperluas implementasinya ke Merak. NLE merupakan wujud nyata upaya pemerintah dalam menghilangkan hambatan, meningkatkan kecepatan arus barang, serta mendorong pengurangan biaya logistik dalam perdagangan internasional maupun domestik.

“Kita berupaya untuk melakukan simplifikasi layanan pemerintah,” ungkap Kepala Subdirektorat Integrasi Proses Bisnis Lembaga National Single Window (LNSW) Kementerian Keuangan Erwin Hariadi dalam Sosialisasi Modul SSm QC kepada importir dan perusahaan pengurusan jasa kepabeanan di wilayah kerja Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Merak, Senin (04/10), dilansir dari Kemenkeu.

Dengan menerapkan SSm QC yang didukung kolaborasi profil risiko instansi Karantina dan Bea Cukai, pelaku usaha hanya perlu melakukan satu kali submit data terkait pemeriksaan barang melalui Sistem Indonesia National Single Window (INSW). Pertimbangan profil risiko tersebut yang akan menentukan pemeriksaan dilakukan secara bersama antara BC dan Karantina atau dilakukan pemeriksaan mandiri oleh instansi terkait.

Selain memudahkan pelaku usaha, implementasi SSm QC juga menjadikan proses pengajuan pada Kementerian/Lembaga terkait dapat diukur karena Standar Operational Procedure bersama dan service level agreement. Pada gilirannya selain meningkatkan validitas dan sinkronisasi data, SSm QC diyakini mampu menurunkan biaya dan membuat waktu proses layanan makin efisien.

“Implementasi SSm QC terbukti mampu mengefisiensikan waktu dan biaya layanan importasi komoditas karantina,” jelas Kepala LNSW M. Agus Rofiudin dalam kesempatan terpisah. Hal ini terbukti sejak bulan Juni 2020 hingga September 2021, estimasi penghematan biaya melalui program ini tercatat 25,29% Singleserta rata-rata efisiensi waktu sebesar 14,72%.

Sebelumnya, SSm QC telah diberlakukan pada empat pelabuhan yakni Belawan, Tanjung Emas, Tanjung Perak, dan Tanjung Priok. SSm QC akan terus diperluas implementasinya di sejumlah pelabuhan lain. Dengan demikian SSm QC diharapkan akan dapat berkontribusi positif bagi penataan ekosistem logistik nasional dan meningkatkan kemudahan berusaha di Indonesia.

Belinda Kosasih/ Partner of Banking Business Services/Vibiz Consulting
Editor : Asido Situmorang

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here