Rekomendasi Mingguan GBP/USD 25 – 29 Oktober 2021: Akan Terkoreksi Turun?

1152
Vibizmedia Photo

(Vibiznews – Forex) Setelah sempat turun dari ketinggian di 1.3750 ke kerendahan di 1.3450, GBP/USD berhasil naik kembali ke 1.3758 karena BoE yang cenderung hawkish, berita baik yang membuat optimis mengenai Brexit dan melemahnya USD. Namun, GBP/USD kembali turun ke 1.3753 oleh karena data ekonomi Inggris, Retail Sales bulan September, pada hari Jumat muncul mengecewakan, tanpa terduga mengalami kontraksi.

Pounsterling menerima dorongan naik dari Gubernur BoE Andrew Bailey yang berkata dia siap untuk bertindak menghadapi naiknya inflasi. Sikap Bailey ini bertentangan dengan para banker dari bank sentral lainnya yang kebanyakan melekat kepada narasi bahwa kenaikan harga hanya bersifat sementara.

Sementara harga energi terus mengalami kenaikan, angka Consumer Price Index untuk bulan September muncul di 3.1% YoY dibandingkan dengan yang diperkirakan di 3.2%. Laporan ini menghentikan kenaikan poundsterling meskipun tidak membalikkan trend.

Sementara itu Federal Reserve AS juga sedang menuju kepada kenaikan tingkat bunga. Namun baru akan dilakukan di musim panas 2022.

Pasar optimis pada minggu lalu dan sentimen yang positip ini mengurangi permintaan terhadap dollar AS yang safe-haven.

Kasus Covid – 19 semakin meningkat di Inggris dan menambah ketakutan akan terjadinya lockdown yang baru. Meskipun demikian Menteri Kesehatan Sajid Javid berkata tidak ada niat dari pemerintah untuk kembali kepada restriksi sebelum “Freedom Day”.

Secara keseluruhan spekulasi tingkat bunga Inggris dan sentimen yang positip di pasar mendukung kenaikan GBP/USD.

Minggu ini, menjadi pertanyaan apakah BoE akan menaikkan tingkat bunga pada bulan November? Pasar obligasi memberikan probabilita 82%, tetapi probabilita ini mungkin akan bergerak dengan cepat. Apabila probabilita ini meningkat maka akan membuat Sterling naik dan sebaliknya.

Dengan kurangnya kalender ekonomi Inggris pada minggu ini maka berita mengenai Covid akan mendominasi. Semakin meningkatnya kasus Covid di Inggris akan menekan Sterling dan sebaliknya.

Dari AS, event penting minggu ini antara lain adalah GDP AS kuartal ketiga. Di kuartal kedua ekonomi AS berkembang dengan cepat di 6.7% karena ekonomi kembali dibuka, namun setelah itu kembali dilakukan restriksi-restriksi karena naiknya kembali kasus Covid – 19 sehingga ekonomi melambat. Pertanyaannya adalah seberapa melambatnya?

Selain angka GDP, investor juga menantikan laporan “personal consumption and investment” yang kemungkinan akan tetap tinggi.

Sebelum keluarnya data GDP AS, angka Durable Goods Orders untuk bulan September menarik perhatian, karena akan menjadi salah satu data yang diperhitungkan di dalam penghitungan kalkulasi GDP.

Yang perlu dicatat lagi adalah rilis S&P Case Shiller House Price Index yang kemungkinan bisa mencapai 20% YoY. Ketakutan akan menggelembungnya real-estate AS bisa memicu the Fed untuk menaikkan tingkat bunga bahkan ketika pemulihan ekonomi belum selesai. Hal ini bisa mendorong naik dollar AS.

Seberapa dekat Demokrat mau berkompromi atas undang-undang belanja infrastruktur? Tekanan untuk segera menyetujui kesepakatan meningkat dengan akan adanya pertemuan tingkat tinggi mengenai Perubahan Iklim di Glasssgow.

Jika Kongres menyetujui kesepakatan tersebut, pasar akan bergembira dan membebani dollar AS yang safe-haven. Dan sebaliknya, kegagalan menyetujui kesepakatan bisa memicu sentimen yang risk-off.

“Support” terdekat menunggu di 1.3700 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.3650 dan kemudian 1.3550.  “Resistance” terdekat menunggu di 1.3850 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.3910 dan kemudian 1.3980.

Ricky Ferlianto/VBN/Managing Partner Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here