IHSG Kembali Cetak Rekor dan Inflasi Tetap Rendah — Domestic Market Outlook, 22-26 November 2021 by Alfred Pakasi

470

(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi domestik pada minggu lalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:

  • IHSG kembali mencetak rekor barunya, tertinggi sepanjang sejarah (all time high).
  • BI mempertahankan suku bunga acuannya (BI7DRR) sebesar 3,50%, di tengah prakiraan inflasi yang rendah.
  • Neraca Pembayaran Indonesia triwulan III 2021 mencatat surplus 10,7 miliar dolar AS dari posisi defisit triwulan sebelumnya.
  • Rupiah bertahan stabil terhadap tren penguatan dollar global.

Untuk korban virus di Indonesia, berita resmi terakhirnya, sudah sekitar 4.252 ribu orang terinfeksi, 4.100 ribu sembuh dengan tingkat kesembuhan tinggi 96,43%, dan 143,7 ribu lebih orang meninggal.

Minggu berikutnya, isyu antara perkembangan pandemi virus corona, prospek pemulihan ekonomi dalam dan luar negeri akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Domestic Market Review and Outlook 22-26 November 2021.

===

Minggu lalu IHSG di pasar modal Indonesia terpantau menguat kembali di minggu keduanya serta mencetak rekor penutupan barunya di level 6.720. Sementara itu, bursa kawasan Asia umumnya bias menguat. Secara mingguan IHSG ditutup menguat 1,04%, atau 69,209 poin, ke level 6.720,263. Untuk minggu berikutnya (22-26 November 2021), IHSG kemungkinan masih berpeluang cetak rekor baru lagi namun rawan profit taking karena mencapai overbought-nya. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance di level 6.720 dan 6.781. Sedangkan bila menemui tekanan jual di level ini, support ke level 6.592, dan bila tembus ke level 6.480.

Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan lalu bergerak fluktuatif dan berakhir hampir flat dengan melemah tipis secara mingguannya menahan lagi tren penguatan dollar, sehingga rupiah secara mingguannya berakhir melemah tipis 0,01% ke level Rp 14.237. Sementara, dollar global terpantau melanjutkan rally-nya. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan akan sideways dengan arah menurun, atau kemungkinan rupiah agak fluktuatif dengan bias menguat, dalam range antara resistance di level Rp14.310 dan Rp14.393, sementara support di level Rp14.157 dan Rp14.040.

Harga obligasi rupiah Pemerintah Indonesia jangka panjang 10 tahun terpantau naik secara mingguannya, terlihat dari pergerakan turun yields obligasi dan berakhir ke 6,176% pada akhir pekan. Ini terjadi di tengah aksi jual investor asing di SBN yang agak terbatas. Sementara yields US Treasury balik menurun secara mingguannya.

===

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 17-18 November 2021 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%. Keputusan ini sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan, di tengah prakiraan inflasi yang rendah dan upaya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Menurut BI kinerja ekonomi domestik diprakirakan meningkat pada triwulan IV 2021, didukung oleh perbaikan kinerja ekspor, kenaikan belanja fiskal Pemerintah, maupun peningkatan konsumsi dan investasi. Hal ini tercermin dari kenaikan indikator hingga awal November 2021 seperti mobilitas masyarakat, penjualan eceran, ekspektasi konsumen, PMI Manufaktur, serta realisasi ekspor dan impor.

Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan III 2021 mencatat surplus sehingga menopang ketahanan eksternal. NPI pada triwulan III 2021 mencatat surplus 10,7 miliar dolar AS, setelah mengalami defisit 0,4 miliar dolar AS pada triwulan sebelumnya. Kinerja NPI tersebut ditopang oleh transaksi berjalan yang mencatat surplus, berbalik dari triwulan sebelumnya yang tercatat defisit, serta surplus transaksi modal dan finansial yang makin meningkat.

Berdasarkan data transaksi 15-18 November 2021, nonresiden di pasar keuangan domestik jual neto Rp2,32 triliun terdiri dari jual neto di pasar SBN sebesar Rp0,05 triliun dan jual neto di pasar saham sebesar Rp2,27 triliun.

Perbaikan sejumlah indikator ekonomi menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia sedang bergerak ke arah pemulihannya di tahun 2021 ini.

===

 

Pasar yang terus bergejolak belakangan ini dan sepertinya tidak jelas arahnya membuat hangat diskusi di antara kalangan investor. “Pasar mau ke mana?” begitu yang sering jadi topik hangat diskusi. Memang benar hanya si pasar sendiri yang tahu arah pergerakan pasar. Namun demikian, perilaku pasar dapat dipelajari juga, bukan? Bagi mereka yang telah lama berpengalaman merasakan denyut naik turunnya pasar, biasanya akan cukup bijak untuk melihat pasar dari sudut “bird-eye view”. Vibiznews.com pastinya punya kapabilitas itu sebagai media spesialisasi investasi yang berpengalaman. Mari bersama kami memanfaatkan gerak pasar dan jadilah investor yang ‘profitable’. Tetaplah bersama kami, Anda akan terbantu dalam pengambilan keputusan investasi Anda. Terima kasih pembaca karena telah setia bersama kami, partner sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here