Efek Kebijakan Moneter Bank Sentral Terhadap Reksa Dana Pasar Uang

354

(Vibiznews – Bonds & Mutual Fund) –Kebijakan moneter bank sentral di sejumlah negara yang bervariasi dan berubah secara dinamis mempengaruhi kinerja reksadana pasar uang. Melalui data Infovesta Jumat (19/11), kinerja reksadana pasar uang masih berada di bawah risk free rate.

Kondisi ekonomi global yang mulai berangsur pulih membuat sejumlah negara mulai bersiap menata kembali arah kebijakan moneternya. Dalam riset Infovesta Utama, Senin (22/11), dinamika kebijakan moneter bank sentral di sejumlah negara cenderung bervariasi dari yang mempertahankan hingga menaikkan suku bunga.

Perlu diketahui, saat ini era suku bunga rendah masih terjadi di berbagai negara, seperti suku bunga Amerika Serikat (AS) yang berada di 0,25%, Uni Eropa di 0,00%, Inggris di 0,1%, Australia di 0,1%, Singapura di 0,07%. Sedangkan suku bunga yang lebih tinggi terjadi di India di 4%, China di 3,85%, Indonesia di 3,5%, Filipina di 2%, dan Malaysia di 1,75%.

Negara yang cenderung mempertahankan suku bunga rendah adalah Uni Eropa, Australia, India, dan Jepang. Sementara, Inggris disinyalir akan menaikkan suku bunga pada akhir 2021 sebagai langkah menghadapi inflasi dan biaya listrik yang tinggi.

Sedangkan, The Fed belum akan menaikkan suku bunga hingga pasar tenaga kerja pulih lebih baik lagi, meskipun tapering diperkirakan selesai pada semester I-2022. Namun, apabila inflasi terus mengalami lonjakan, maka percepatan kenaikan suku bunga dapat dilakukan oleh The Fed.

Sementara itu, di Indonesia, sejak Februari 2021 hingga saat ini, suku bunga acuan BI7DRRR dipertahankan stabil di level 3,5% atau terendah sepanjang sejarah.

Level suku bunga yang rendah dipertahankan sebagai bentuk kebijakan moneter bank sentral dalam menjaga stabilisasi pasar keuangan dalam negeri imbas resesi ekonomi.
Pada saat yang sama, likuiditas yang melimpah pada perbankan mendorong Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk menurunkan suku bunga pinjaman menjadi 3,5% untuk September 2021-Januari 2022.

Berdasarkan informasi dari Infovesta bank sentral masih akan mempertahankan suku bunga rendahnya setidaknya hingga 2022, sambil memantau pergerakan tingkat inflasi dan pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Di tengah tren suku bunga yang masih rendah, sepanjang 2021, kinerja reksa dana pasar uang naik 2,84% secara year to date hingga Jumat (19/11). Kinerja tersebut masih berada di bawah risk free rate yang berada di 2,92%.

Sementara itu, terpantau jumlah dana kelolaan dan unit penyertaan reksa dana pasar uang mengalami kenaikan masing-masing 15,64% dan 11,32%. Berdasarkan informasi Infovesta, penempatan investasi pada instrumen pasar uang memang kerap digunakan sebagai sarana untuk memarkirkan dana dalam jangka waktu pendek atau kurang dari satu tahun.

 

Belinda Kosasih/ Partner of Banking Business Services/Vibiz Consulting

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here