Rupiah Review 2021 dan Outlook 2022; Rupiah Siap Bertahan dari Bullish Dollar

529
Photo: Vibizmedia

(Vibiznews – Economy) – Mata uang rupiah dalam mengakhiri tahun 2021 sempat menunjukkan kekuatannya ketika berada di posisi hampir 2 bulan terkuatnya saat menyentuh Rp14.180/USD pada 24 Desember. Kemudian, rupiah terkoreksi yang dapat disebut normal mengingat posisi jangka pendeknya yang overbought. Secara tahunannya rupiah melemah cukup terbatas, yakni 1,54% terhadap US dollar yang cenderung dalam posisi uptrend.

Seperti apa dinamika pergerakan rupiah di tahun 2021, dan bagaimana prospeknya di tahun 2022, apa saja faktor penggerak harganya? Kita bahas berikut ini.

 

Review 2021: Rupiah Fluktuatif dan Penggeraknya

Sepanjang tahun 2021, mata uang rupiah, khususnya terhadap US dollar, telah bergerak dengan cukup fluktuatif. Posisi terkuatnya ada di awal tahun, sekitar Rp13.870/USD, dan posisi terlemahnya di Rp14.634/USD pada pertengahan April 2021. Posisi akhir tahun 2021 dapat dikatakan berada di tengah-tengah antara level terendah dan tertinggi tersebut.

Graph 1: USD/IDR 2021 – Weekly

Source: Investing.com

Kuatnya rupiah di awal tahun karena ditopang oleh US dollar yang saat itu sedang berada di level terendah dua tahun terakhirnya, oleh pandangan pasar bahwa 2021 akan menjadi tahun bearish bagi USD akibat ketidakjelasan kebijakan the Fed -waktu itu- ke depannya. Di awal tahun US Dollar index sempat rendah di level 89.20.

Graph 2: USD Index – Weekly

Source: Investing.com

Kenyataannya, di tahun 2021 the Federal Reserve semakin hawkish dan sudah melakukan tapering-nya, yang mendongkrak naik USD index menembus level 96 pada akhir tahun 2021. Dan rupiah pun terkoreksi ke level Rp14.267/USD di penghujung 2021.

Rupiah berada di posisi terlemahnya tahun ini pada pertengahan April 2021. Saat itu terjadi capital outflow dengan dana investor asing kembali ke negerinya ketika semakin kuat sentimen bahwa the Fed akan segera melakukan normalisasi kebijakan moneternya, yang diperkirakan segera diikuti sejumlah bank sentral global lainnya. Arus modal ke luar memberi tekanan rupiah sampai ke sekitar Rp14.600’an/USD. Tekanan tersebut cepat berakhir dan selama sebulan berikutnya rupiah balik bullish.

Tekanan berikut bagi rupiah muncul pada akhir Juni, di mana sekitar sebulan kemudian berada di rentang level Rp14.500’an/USD, saat gelombang baru Covid-19 membuat pemerintah memberlakukan kebijakan PPKM Darurat, yang disambung dengan kebijakan-kebijakan penyesuaian berikutnya.

Keberhasilan pemerintah mengatasi gelombang baru Covid, yang menekan kuat kasus infeksi baru dan mengangkat rasio kesembuhan yang tinggi sampai 96,5%, telah mengangkat optimisme pasar dan investor. Capital inflow menyerbu masuk, terutama ke pasar SBN, dan mendorong rupiah perkasa sampai level Rp14.040 di pertengahan Oktober.

Rupiah kemudian secara bertahap mengalami koreksi sejalan dengan penguatan dollar secara global karena the Fed semakin hawkish dan menyatakan segera memulai pengurangan pembelian obligasinya, atau tapering, dimulai November. Kebijakan the Fed dilakukan di tengah semakin tingginya laju inflasi di Amerika yang mencapai level tertinggi dalam tiga dekade.

Rupiah menutup hari terakhir pasarnya di tahun 2021 pada level Rp14.267/USD. Dibandingkan dengan penutupan pasar tahun 2020 di Rp14.050/USD, maka berarti rupiah melemah sekitar 1,54% dalam setahun. Untuk durasi satu tahun depresiasi ini dapat dikatakan terbatas dan berkinerja baik di tengah bullish-nya dollar secara global. Apalagi bila dibandingkan dengan kenaikan indeks dollar yang menguat yoy sebesar hampir 7% (atau 6,97% dari 89.94 ke 96.21), maka koreksi rupiah di tahun ini adalah relatif terbatas.

 

Market Mover 2022

Dari review pasar aktual di tahun 2021, maka dapat disebutkan beberapa komponen penggerak pasar (market mover) yang dapat diantisipasi akan menentukan nilai rupiah tahun 2022, di antaranya:

  • Prospek US Dollar, yang akan didominasi dengan aksi pengetatan moneter the Fed, berupa kenaikan suku bunga acuan.
  • Prospek pengetatan moneter bank sentral global lainnya.
  • Perkembangan pandemi global dan domestic, sehubungan dengan adanya varian baru, Omicron.
  • Prospek pemulihan ekonomi dalam negeri serta normalisasi kebijakan moneter.

 

Bullish USD

Berbeda dengan awal tahun 2021 yang semula dipandang pasar sebagai bearish bagi dollar, memasuki tahun 2022 pasar cenderung sepakat melihat ini tahun “bullish” untuk dollar. Pandangan ini diwarnai dengan sikap the Fed yang lebih hawkish. Di antaranya akan mempercepat pemangkasan pembelian obligasi dan mengakhirinya di kuartal I – 2022. Setelah itu, di awal kuartal II, pasar mengantisipasi the Fed mulai menaikkan suku bunga acuannya, kemungkinan sampai tiga kali di tahun 2022. The Fed nyaris tidak memiliki opsi lain di tengah laju inflasi konsumen dan produsen di Amerika yang melaju sampai level 30 tahun tertingginya.

Rencana menaikkan suku bunga the Fed, nampaknya dari waktu ke waktu akan memberikan support bertahap untuk rally US Dollar. Kenaikan USD index ke level 97, lalu beranjak naik sampai tembus 100 -posisi Mei 2020- dan naik lagi, menurut penulis, sudah ada dalam prediksi untuk tahun 2022. Di kuartal I – 2022, sebelum the Fed secara resmi mulai menaikkan suku bunganya, USD sudah akan menanjak.

Prediksi ini akan memberikan tekanan secara global bagi sejumlah mata uang Asia, termasuk juga rupiah. Agak sulit untuk rupiah menghindari tekanan ini karena hal tersebut terjadi secara global. Dollar akan cenderung rally lagi di triwulan pertama 2022.

Namun demikian, masih ada faktor penahan atau rem atas laju kenaikan dollar ini, yakni penguatan euro dan pound sterling secara bergantian. Ini dimungkinkan terjadi mengingat bank sentral di Inggris (BOE) dan Eropa (ECB) juga berencana akan menaikkan suku bunga acuan mereka. BOE bahkan sudah memulainya. Sikap hawkish dan kebijakan pengetatan dari kedua bank sentral utama tersebut akan membawa apresiasi bagi euro dan pound sterling, yang akan menghambat untuk beberapa saat rally USD. Bisa jadi di termin waktu tersebut, rupiah akan mengalami beberapa kali rebound.

 

Covid vs Rupiah dan USD

Pandemi global nampaknya masih berlanjut, dan itu berdampak kepada kinerja mata uang. Euro, misalnya, tertekan ketika beberapa negara di Zona Eropa memberlakukan lockdown kembali atau menambah restriksi karena melejitnya penyebaran baru Covid, khususnya varian Omicron.

Di tahun 2022 ini, kita harapkan Covid jangan menanjak lagi di Indonesia. Melihat kepada semakin terbentuknya herd immunity di negeri kita, serta ketatnya protokol kesehatan yang berlaku, kita harapkan Indonesia tetap dapat menekan penyebaran baru kasus Covid. Ini bisa menjadi faktor penopang bagi rupiah nantinya saat di sejumlah negara besar, mungkin, masih terhambat pemulihannya karena penyebaran berlanjut Covid-19.

Dengan demikian ada peluang bagi rupiah untuk tetap bertahan kuat menghadapi tekanan US dollar, terutama bila semakin nyata keberhasilan Indonesia dalam mengatasi gelombang Covid nantinya. Bagi dollar sendiri di pasar global, perkembangan Covid ini kadang menjadi penekan USD ketika investor di posisi risk-on, kadang menjadi penopang bila dollar dipandang sebagai safe haven. Dinamika sentimen ini perlu dicermati investor dari waktu ke waktu.

 

Prospek Pemulihan Ekonomi

Ekonomi Indonesia diyakini banyak pihak akan terus melanjutkan pemulihannya di tahun 2022. Dari perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun 2021 di hampir atau sekitar 4% (yoy), untuk tahun 2022 ekspektasi pertumbuhan ekonomi ada di sekitar 5% (yoy). Bank Indonesia memasang perkiraan dalam range 4,7%-5,5%, dan dari Kemenkeu menaruh figur 5%-5,2%. Beberapa lembaga ekonomi dalam dan luar negeri juga menaruh proyeksi di atas angka 5%-an.

Pertumbuhan ekonomi yang semakin kuat ini akan menjadi penopang bagi penguatan mata uang rupiah. Capital inflow akan masuk, mungkin akan cukup seimbang antara pasar SBN dan pasar modal, dan memberi tenaga bagi kenaikan rupiah. Di satu sisi, ini merupakan kekuatan penahan di tengah uptrend US dollar secara global nantinya.

Sementara itu, dari Bank Indonesia mengindikasikan baru akan mulai menaikkan suku bunga acuannya pada triwulan IV – 2022, atau di akhir tahunnya. BI nampaknya cukup confident untuk menghadapi tekanan pengetatan moneter -kenaikan suku bunga- dari sejumlah bank sentral global nantinya, seperti the Federal Reserve, BOE, ECB, dan mungkin juga Bank of Japan (BOJ). BI menyatakan akan terus mendukung pemulihan ekonomi Indonesia dengan menahan suku bunga acuan ini. Tetapi pembelian obligasi akan dapat dikurangi.

Kebijakan BI ini, menurut penulis, sudah pas karena yang diutamakan adalah pemulihan ekonomi domestik. Dana asing juga masuk nampaknya lebih karena melihat prospek ekonomi Indonesia ke depannya.

Dari sini, kita dapat perkirakan bahwa rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia dari triwulan I – 2022 dan seterusnya akan menjadi market mover apresiasi rupiah. Bisa jadi ini akan cukup signifikan bila melihat kepada mayoritas negara ekonomi maju yang masih akan berkutat dengan gejolak tekanan inflasi dan terbatasnya pertumbuhan karena isyu pandemic sepanjang tahun 2022.

 

Kesimpulan: Rupiah Tegar vs USD Uptrend

Tahun 2022 akan menjadi tantangan bagi mata uang rupiah terhadap US dollar. Dollar secara global punya sejumlah amunisi untuk bullish uptrend, mulai dari kebijakan pengetatan moneter dan kenaikan suku bunga the Fed, sampai kepada pilihan permintaan safe haven asset di tengah ketidakpastian perkembangan pandemi.

Tetapi, rupiah juga punya kekuatan untuk tegar dan bertahan dari tekanan global. Positifnya pemulihan ekonomi dalam negeri serta baiknya penanganan Covid negeri kita, merupakan faktor dominan tenaga untuk rupiah.

Bila di tahun 2021 khususnya semester II, kinerja rupiah dapat dikategorikan baik, stabil dengan volatilitas yang terjaga, kemungkinan tren ini yang akan berlanjut. Tekanan dollar global akan masuk, tetapi rupiah akan memiliki kekuatan untuk bertahan. Menurut penulis, perkiraannya rupiah akan berada dalam range: Rp13.800/USD – Rp14.700/USD untuk sepanjang tahun 2022 ini.

 

Rupiah sampai nantinya akan tetap dikenal sebagai mata uang yang tegar dan stabil di pasar keuangan global.

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here