Emas: Review 2021 & Outlook 2022

947

(Vibiznews – Commodity) Setelah berhasil naik dari kerendahan di $1,787 ke $1,808, menutup tahun 2021, harga emas melanjutkan kenaikannya ke $1,829 karena arus safe-haven yang sebelumnya sempat menguasai pasar. Kenaikan harga emas berlanjut dengan melemahnya dollar AS mengakhiri tahun 2021 di tengah sentimen pasar yang positip yang ditandai dengan penutupan bursa saham AS Wall Street yang mencatat kenaikan selama tiga tahun terbesar sejak tahun 1999.

Kemana arah dari harga emas pada tahun 2022?

Review 2021

Memulai awal tahun baru 2021, harga emas berada dalam tren naik melanjutkan kenaikannya dari akhir tahun 2020 dimana harga emas masih berkisar di $1,880 karena melemahnya USD, naik pada awal tahun 2021 bergerak mendekati $1,900 di sekitar $1,897 dan sempat tertahan kenaikan lebih lanjut karena pasar saham AS yang naik ke rekor ketinggian baru. Namun, pergerakan bullish emas kembali lanjut dengan harga emas sempat naik ke ketinggian 7 minggu di $1,951.80 pada minggu pertama Januari 2021 sebelum akhirnya terkoreksi kembali ke $1,887.23 karena naiknya imbal hasil treasury AS dan pasar saham AS.

Memasuki minggu pertama bulan Februari 2021, emas sempat mengalami penurunan yang drastis dari harga disekitar $1,850, turun ke level terendah sejak awal Desember tahun 2020 di $1,785, karena terus naiknya USD dengan kuat selama beberapa hari, sebelum akhirnya berhasil naik kembali ke level $1,800 karena berbalik melemahnya USD.

Memasuki bulan Maret, pada minggu pertama, harga emas berjangka turun menembus $1,700.00 ke sekitar $1,698 pada perdagangan malam hari sesi AS. Yields Treasury AS 10 tahun yang naik lebih dari 1.55%, setelah pidato dari Powell mendorong turun harga emas sebanyak 1% dalam sehari.

Pada akhir bulan Maret, 30 Maret, harga emas sempat turun tajam dan menyetuh ke level terendah selama beberapa minggu pada awal perdagangan sesi AS, ditengah rally dari indeks dollar AS, turunnya harga minyak mentah dan naiknya imbal hasil obligasi AS. Ditambah lagi, minat terhadap resiko dari para trader dan investor tetap cukup tinggi yang membuat pasar saham global tetap terangkat. Harga emas turun ke $1,685.60 per troy ons.

Namun, emas menunjukkan ketangguhannya dengan berbalik naik ke atas $1,700, dan tetap bertahan di $1,730-50, meskipun dollar AS berbalik naik karena positipnya laporan NFP AS, karena fundamental emas yang masih tetap kuat.

Setelah sempat naik ke $1,746 pada hari Rabu 14 April, akibat merosotnya dollar AS di pasar forex, harga emas meneruskan kenaikannya ke ketinggian dua bulan yang baru di $1,780 pda hari Jumat 16 April, karena naiknya harga minyak secara signifikan dan imbal hasil Treasury 10-tahun merosot ke level terendah satu bulan di 1,528% turun jauh dari level tertinggi satu tahun di 1,776% yang dicapai pada akhir bulan lalu.

Setelah berhasil kembali menembus level $1,800 per ons,  pada hari Kamis 6 Mei, harga emas mengalami kenaikan dan menyentuh ketinggian selama 10 minggu di $1,837, setelah keluarnya laporan pekerjaan AS, Non-Farm Payrolls yang buruk yang hanya bertambah sebanyak 266.000 pekerjaan dibandingkan dengan yang diperkirakan sebanyak 1 juta pekerjaan.

Harga emas sempat naik dan menyentuh ketinggian 3,5 bulan pada awal perdagangan sesi AS hari Selasa/Rabu 18/19 Mei ke $1,884.70. Metal berharga ini naik didorong oleh jatuhnya indeks dollar AS dan sempat naiknya harga minyak mentah. Keuntungan yang diperoleh metal berharga ini datang pada saat pasar cryptocurrencies sedang berada pada tekanan jual yang hebat. Grafik tehnikal yang bullish bagi emas juga mengundang para spekulator masuk ke posisi beli emas.

Pada 28 Mei, harga emas naik melanjutkan kenaikannya ke $1,899.15 dengan masuknya para pembeli diharga rendah – bargain hunter.

Harga emas berhasil menembus $1,900 pada hari Selasa, 1 Juni 2021, menyentuh ketinggian selama 5 bulan di $1,910, namun turun kembali ke $1,892 jelang penutupan perdagangan hari Jumat.

Pada hari Kamis 17 Juni, harga emas turun tajam dan menyentuh kerendahan 5 minggu pada awal perdagangan sesi AS. Emas mengalami reaksi yang bearish terhadap pertemuan FOMC the Fed pada hari Rabu sore yang dipandang sebagai hawkish atas kebijakan moneter AS. Emas sempat turun sampai $92 ke $1,767. Namun dalam perdagangan besoknya pada hari Jumat berhasil naik moderat ke $1,783, karena koreksi normal.

Selanjutnya sampai memasuki bulan Desember harga emas berjuang untuk bisa naik melewati $1,800 namun selalu tertahan di resistance di sekitar $1,800.

Pada minggu terakhir bulan Desember, setelah berhasil naik dari kerendahan di $1,787 ke $1,808, menutup tahun 2021 di 31 Desember, harga emas melanjutkan kenaikannya ke $1,829 karena arus safe-haven yang sebelumnya sempat menguasai pasar. Kenaikan harga emas berlanjut dengan melemahnya dollar AS mengakhiri tahun 2021 di tengah sentimen pasar yang positip yang ditandai dengan penutupan bursa saham AS Wall Street yang mencatat kenaikan selama tiga tahun terbesar sejak tahun 1999.

Analisis 2022

Pandemik Menjadi Endemik?

Vaksin yang dijalankan selama tahun 2021 telah membantu mengurangi pasien di rumah sakit dan kematian secara dramatis. Meskipun segala usaha telah dijalankan, pandemik belum berakhir di tahun 2021 dan akan masih terbawa ke tahun 2022. Dunia sedang belajar untuk hidup bersama dengan virus. Satu hal yang dipelajari selama 2021 adalah bahwa lockdown dan restriksi perjalanan hanya bisa mengurangi kecepatan penularan dengan sangat sedikit. Sementara berhentinya ekonomi karena lockdown dan restriksi perjalanan telah menjadi beban berat yang harus diseret dalam memajukan ekonomi sampai sekarang.

Virus corona masih terus menghasilkan varian-varian yang baru, dan varian baru yang muncul sering mengganggu kemajuan pemulihan ekonomi. Penemuan varian terbaru adalah Omicron yang melanda dunia pada akhir tahun 2021 menjelang memasuki tahun 2022. Omicron dikatakan jauh lebih menular dibandingkan dengan varian Covid – 19 yang pernah ada sebelumnya. Namun berita baiknya adalah varian Omicron ini jauh kurang mematikan dibandingkan dengan varian pendahulunya. Sentimen pelaku pasar membaik setelah 3 hasil studi yang menunjukkan virus corona varian Omicron menyebabkan pasien yang terinfeksi harus dirawat di rumah sakit lebih rendah ketimbang varian lainnya. Artinya, pasien yang positif Omicron menunjukkan gejala yang lebih ringan ketimbang varian lainnya. Studi tersebut dilakukan di Afrika Selatan yang merupakan asal Omicron, di Inggris yang saat ini kasusnya sedang meledak, dan di Skotlandia.

Hal ini menebarkan harapan bahwa ini bisa berarti permulaan dari berakhirnya pandemik, menjadi tinggal endemik. Dan ini sesuai dengan pola evolusi dari virus yang telah diselidiki secara historis, yang akan melemah dengan berjalannya waktu.

Kemana Arah dari Bank Sentral AS?

Pada hari Rabu, 15 Desember 2021, Federal Reserve AS mengumumkan keputusan kebijakan moneternya, sementara European Central Bank (ECB) memberikan hal yang sama pada hari Kamis, 16 Desember 2021.

The Fed meningkatkan kecepatan tapering menjadi $30 miliar per bulan dari sebelumnya $15 miliar per bulan yang akan dimulai sejak Januari 2022. Perubahan ini akan membuat program pembelian assets bank sentral AS akan berakhir lebih cepat daripada yang direncanakan sebelumnya yaitu pada awal tahun 2022, yang berarti kenaikan tingkat bunga yang lebih cepat juga.  Dot-plot dari the Fed menunjukkan akan ada tiga kali kenaikan tingkat bunga pada tahun 2022 dan tiga kali lagi pada tahun 2023.

Proyeksi inflasi juga dinaikkan menjadi 5.6% untuk tahun 2021 dan 2.6% untuk 2022, naik dari sebelumnya 4.2% dan 2.2% sebelumnya. Sementara GDP sekarang diproyeksikan berada pada 4%  pada tahun 2022, naik dari sebelumnya 3.8%, dan untuk tahun 2023 bertumbuh sebesar 2.2%, turun dari 3.5% pada bulan September.

Dengan akan dinaikkannya tingkat bunga the Fed sebanyak 3 kali pada tahun 2022, ada dua pandangan mengenai pergerakan harga emas di tahun 2022.

Pandangan pertama, harga emas akan turun karena kenaikan tingkat bunga the Fed sebanyak 3 kali.

Pada tahun 2021 juga banyak kali ada desakan atau perkiraan yang kuat bahwa the Fed akan terpaksa menaikkan tingkat bunganya tiba-tiba, lebih cepat daripada yang diperkirakan, namun naiknya kembali kasus Covid – 19 dengan varian barunya Omicron, membuat keragu-raguan the Fed akan berani melakukannya di tengah masih maraknya kasus Covid – 19. Dengan perkiraan pada tahun 2022 pandemik akan berakhir, berganti menjadi endemik, maka tidak ada lagi alasan bagi the Fed untuk menunda kenaikan tingkat bunganya.

Dengan harapan berakhirnya pandemik, maka prospek pemulihan ekonomi AS juga semakin meningkat. Ditambah lagi dengan rencana the Fed sebagaimana yang terlihat di dalam “dot-plot” dari the Fed yang akan menaikkan tingkat bunga sebanyak tiga kali pada tahun 2022, maka pada tahun 2022 indeks dollar AS akan meneruskan kenaikannya. Dorongan naik USD akan dimulai pada kuartal kedua 2022 dimana program pembelian assets obligasi treasury AS akan berakhir pada akhir bulan Maret 2022. Kemungkinan the Fed akan menaikkan tingkat bunganya pada tiap kuartal setelah kuartal pertama 2022 yang membuat USD akan terus menguat sampai pada akhir tahun 2022 yang akan menekan harga emas turun.

Lihat: USD: Review 2021 & Outlook 2022

Kenaikan harga emas tertahan oleh karena apresiasi yang signifikan dari dollar AS yang pada bulan November mencapai level tertingginya sejak bulan Juli 2022, menguat 7% dari sejak awal tahun.

Mulai dari kuartal ke dua tahun 2022, emas kemungkinan sudah akan turun, dengan Federal Reserve AS mulai menaikkan tingkat bunga untuk mengkontrol inflasi, meskipun mayoritas aksi jual emas kemungkinan akan terjadi pada paruh kedua dari tahun 2022. Selama paruh ke dua tahun 2022, emas kemungkinan akan mengalami trend turun dan bisa mencapai $1,600 pada akhir dari tahun 2022.

Dari review pergerakan harga emas tahun 2021, kita bisa melihat bagaimana kenaikan yields obligasi treasury AS yang mendorong juga naiknya dollar AS membuat turun harga emas dengan investor melakukan “rebalance” atas portofolio investasi mereka. Apalagi bila terjadi kenaikan dari tingkat bunga umum dari the Fed, harga emas pasti tertekan turun dengan kuat.

Kondisi yang sempurna bagi terjadinya rally emas adalah dari kondisi yang sebagian besar ada dibelakang pasar termasuk adanya kebijakan moneter yang longgar, tingkat bunga yang rendah, inflasi yang tinggi dan dukungan fiskal yang masif.

Pandangan kedua, harga emas akan naik meskipun terjadi kenaikan tingkat bunga the Fed sebanyak 3 kali.

Sekalipun the Fed akan menaikkan tingkat bunga sebanyak 3 kali pada tahun 2022, hal ini tidak akan mengubah lingkungan dengan tingkat bunga riil yang tetap negatip yang menguntungkan emas.

Faktor yang paling signifikan yang menggerakkan emas naik adalah ancaman naiknya inflasi. Sementara Federal Reserve menaikkan tingkat bunga untuk mengkontrol inflasi, hal ini akan mendorong naik yields obligasi sehingga tingkat bunga riil masih akan tetap negatip yang akan menguntungkan bagi emas.

Menurut studi dari World Gold Council, harga emas cenderung tinggi apabila inflasi berada di rentang antara 2% sampai 5%, sementara inflasi di AS saat ini berada di ketinggian 39 tahun di 6.8%.

The Fed menaikkan tingkat bunga dalam rangka menurunkan inflasi kembali ke 2%-3%, namun hal ini memerlukan waktu dan tidak mudah. Dalam waktu inflasi tetap tinggi, maka investor akan tetap mencari emas untuk lindung nilai investasi yang aman.

Pergerakan harga emas tidak hanya tergantung kepada tingkat bunga dari the Fed, tetapi juga dari supply dan demand. Tahun lalu, bank-bank sentral menurunkan pembelian emas fisik ke kerendahan selama 10 tahun di 225 ton, namun pada tahun ini minat beli dari para bank sentral meningkat dan sudah hampir mendekati 400 ton. Kenaikan permintaan fisik emas ini pasti menaikkan harga emas. Sementara dari sisi supply problem rantai supply komoditi yang terganggu akibat banyaknya lockdown dan restriksi yang dilakukan pemerintah negara-negara, akan membuat kekurangan supply dari fisik emas yang tidak mudah untuk diselesaikan.

Hal lain yang bisa membuat harga emas tidak menjadi turun dengan the Fed menaikkan tingkat bunganya adalah pasar sudah memperhitungkan dari sekarang akan kenaikan tingkat bunga sebanyak tiga kali pada tahun 2022, sehingga pada saat the Fed menaikkan tingkat bunganya harga emas tidak akan terpengaruh menjadi turun.

Dalam hal pandangan yang kedua, maka harga emas masih bisa naik sampai ke $2,000 pada akhir dari tahun 2022.

Pandangan mana yang benar?

Kedua pandangan sama-sama bisa terjadi. Masalahnya peluang mana yang akan lebih besar?

Dari survey yang diadakan oleh Kitco.com, sebanyak 84% retail investor memperkirakan harga emas bisa naik melewati $2,000 pada tahun 2022.  Sementara hanya 5% yang memperkirakan harga emas akan turun ke $1,600 pada tahun 2022. Sisanya memperkirakan harga emas akan stabil pada tahun 2022.

Dengan demikian, kemungkinan harga emas turun ke $1,600 bisa jadi peluangnya lebih kecil  dan sebelum turun sampai ke $1,600, harga emas harus menghadapi “support” terdekat di $1,750, dan selanjutnya $1,700 dan $1,650.

Sementara itu kemungkinan harga emas naik ke $2,000 bisa jadi peluangnya lebih besar dan sebelum naik sampai ke $2,000, harga emas harus berhadapan dengan “resistance” terdekat di $1,850 dan selanjutnya $1,900 dan $1,950.

Kemungkinan yang lebih besar untuk harga emas naik adalah juga karena pandangan di dalam dunia trading bahwa “history repeat itself”. Bagaimana history antara kenaikan tingkat bunga dari the Fed dengan harga emas?

Dari historinya, antara 2015 – 2019, the Fed menaikkan tingkat bunga sampai 9 kali, namun dalam periode yang sama harga emas malah naik 35%. Antara 2004 – 2005 the Fed menaikkan tingkat bunga sebanyak 17 kali, namun dalam periode yang sama harga emas malah naik 70%. Investor harus melihat melampaui kebijakan tingkat bunga yang nominal dan memperhatikan faktor lainnya dalam memprediksi pergerakan harga seperti tingkat bunga riil, tingkat inflasi, dinamika supply dan demand, dan banyak faktor lainnya.

Ricky Ferlianto/VBN/Managing Partner Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here