Sektor Properti 2022 Tumbuh Seiring Berlanjutnya Pemulihan Ekonomi Indonesia

1253

(Vibiznews – Properti) – Sektor properti dapat disebut baru mulai pulih pada tahun 2021 yang lalu. Karena baru mulai pulih, maka pertumbuhannya pun masih sangat terbatas. Selama 9 bulan pertama 2021, sektor real estate baru tumbuh sebesar 2,40% (year on year / yoy) dan sektor kontruksi tumbuh sebesar 2,43% (year on year / yoy). Pertumbuhan yang masih sangat terbatas tersebut disebabkan karena pengeluaran konsumsi masyarakat juga belum pulih. Selama 9 bulan pertama tahun 2021, pengeluaran konsumsi rumah tangga (RT) baru tumbuh 1,50% (year on year / yoy).

Pertanyaannya, apakah pemulihan sektor properti akan berlanjut pada tahun 2022 ini ?

Kita berharap bahwa pemulihan ekonomi yang terjadi pada tahun 2021 akan terus berlanjut di sepanjang tahun 2022. Bila pemulihan ekonomi berlanjut, sektor properti juga akan turut mengalami pemulihan.

Dana Moneter Internasional (IMF), dalam outlook-nya pada Desember 2021, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2022 akan mencapai 5,9% (year on year / yoy) lebih tinggi dibanding proyeksi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2021 sebesar 3,2% (year on year / yoy).

Proyeksi IMF ini juga senada dengan proyeksi dari lembaga lainnya. Misalnya Lembaga pemeringkat Fitch pada November 2021 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2022 diperkirakan mencapai 6,8% (year on year / yoy) yang berarti lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2021 sebesar 3,2% (year on year / yoy).

Bank Dunia (World Bank) pada Desember 2021 memprediksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mencapai 5,0% (year on year / yoy) pada 2022. Sementara, Bank Indonesia (BI) pada November 2021 memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022 mencapai 4,7% – 5,5% atau lebih tinggi dari perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun 2021 yang tumbuh 3,4% – 4%.

Dari pertumbuhan ekonomi pada tahun 2022 yang diperkirakan lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2021, maka sektor properti juga dipastikan akan mengalami pertumbuhan.

Hal- hal yang akan menumbuhkan bisnis properti pada tahun 2022, antara lain :
1) Jika stimulus dari Menteri Keuangan berupa PPN DTP diperpanjang hingga tahun 2022 diyakini dapat menjaga kondisi pasar properti pada tahun 2022 tetap stabil karena stimulus ini terlihat memberikan hasil yang nyata bagi antusiasme warga untuk membeli rumah.

2) Perpanjangan stimulus dari Bank Indonesia berupa pelonggaran /relaksasi rasio Loan to Value (LTV) untuk kredit properti dan rasio Financing to Value (FTV) untuk pembiayaan properti menjadi paling tinggi 100% untuk semua jenis properti (rumah tapak, rumah susun maupun ruko / rukan) bagi bank yang telah memenuhi kriteria rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/Non Performing Financing) tidak boleh melebihi 5 %.

Pelonggaran / relaksasi rasio Loan to Value dan Financing to Value (LTV / FTV) yang berlaku pada 1 Maret 2021 dan diperpanjang hingga 31 Desember 2022 ini memungkinkan seseorang bisa mendapatkan kredit pemilikan rumah (KPR) untuk membeli properti tanpa membayar uang muka alias dengan uang muka (Down Payment) 0% dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko.
Insentif / stimulus ini meningkatkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dimana pada September 2021 lalu, KPR rumah tinggal tumbuh 9,32% (year on year/yoy) dan KPR apartemen tumbuh 10,93% (year on year / yoy).

3) Kemudahan finansial dari pemerintah daerah berupa keringanan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang sangat diharapkan konsumen untuk mempermudah mereka mendapatkan properti idaman.

4) Program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk membantu masyarakat berpenghasilan rendah supaya bisa mengakses Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bersubsidi dengan suku bunga yang rendah dan tetap sepanjang jangka waktu kredit dan cicilan yang ringan untuk membeli rumah tapak dan rumah susun. Program ini akan berlangsung sampai 2024.
Program ini diharapkan bisa makin mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan bantuan perumahan sekaligus mendorong program sejuta rumah.

5) Adanya proyek infrastruktur transportasi yang dapat menumbuhkan sektor properti dari sisi harga, khususnya jalan tol baru yang menghubungkan kawasan hunian dengan jalur tol lingkar luar Jakarta.

6) Program vaksinasi nasional yang diselenggarakan pemerintah membantu meningkatkan optimisme konsumen properti, karena konsumen merasa lebih aman saat melakukan survei langsung hunian idaman mereka jika sudah divaksin. Vaksinasi membuat masyarakat merasa lebih aman saat melakukan kontak erat dengan orang lain.

7) UU Cipta Kerja
Dampak UU Cipta kerja dapat memicu perbaikan iklim investasi dan peluang bisnis di 2022, termasuk sektor properti, karena :
A. Pembentukan Badan Percepatan Penyelenggaraan Perumahan (UU Cipta Kerja bab IX A pasal 117 (A)) yang membuat para pengembang properti menjadi optimis, karena penyediaan rumah umum dipercepat dan dijamin bahwa rumah umum hanya dimiliki dan dihuni oleh Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

B. WNA diizinkan memiliki hunian rumah susun (UU Cipta Kerja pasal 144 Ayat (1)), selain kepada warga negara Indonesia, badan hukum Indonesia, warga negara asing yang mempunyai izin sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, badan hukum asing yang mempunyai perwakilan di Indonesia atau perwakilan negara asing dan lembaga internasional yang berada atau mempunyai perwakilan di Indonesia.
Hal ini disambut baik oleh para pengembang dikarenakan kepemilikan asing dapat meningkatkan keuntungan di sektor properti.

C. Perizinan menjadi lebih sederhana. Contoh proses perizinan mendirikan bangunan yang semula berbelit-belit akan disederhanakan dengan sistim Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), yaitu perizinan yang diberikan kepada pemilik bangunan gedung untuk membangun baru, mengubah, memperluas, mengurangi dan/atau merawat bangunan gedung sesuai dengan standar teknis bangunan Gedung (UU Cipta Kerja pasal 1 Angka 11)

Menurut analis Vibiz Research Centre, para investor akan tetap mengincar sektor properti sebagai lahan investasi mereka pada tahun 2022. Sektor properti bisa tumbuh pada tahun 2022 melihat ekonomi Indonesia yang semakin pulih dan penanganan varian Omicron yang semakin terkendali.

Jika pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2022, seperti perkiraan Bank Indonesia, menjadi 5,5 % (year on year / yoy) dibandingkan 4% (year on year / yoy) pada tahun 2021 berarti ada peningkatan hampir 40 persen. Ini adalah kabar baik untuk sektor properti.

Primadona akan tetap didominasi oleh perumahan, khususnya rumah tapak di bawah Rp 1 miliar. Apartemen juga lebih baik dari tahun 2021, namun permintaannya tak akan tumbuh secara signifikan karena pangsa pasar apartemen tidak terlalu banyak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here