Indeks Saham Headline BEI Periode 2015-2021

282
Vibizmedia Picture

(Vibiznews-Kolom) Indeks saham merupakan ukuran statistik yang mencerminkan keseluruhan pergerakan harga sekelompok saham yang dipilih dan dikelompokkan berdasarkan kriteria dan metodologi tertentu serta dievaluasi secara berkala oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Indeks Saham dapat menggambarkan kinerja perdagangan saham secara umum atau menurut kelompok saham pada periode waktu tertentu. Kinerja perdagangan saham tidak terlepas dari perubahan pergerakan harga saham dan jumlah volume saham yang diperdagangkan pada pasar saham. Pergerakan harga saham dan jumlah volume saham selain dipengaruhi kinerja perusahaan juga dipengaruhi oleh stabilitas perekonomian, sehingga indeks saham secara umum memiliki manfaat diantaranya untuk mengukur sentiment pasar, risiko investasi serta kelas dan alokasi asset, menjadi benchmark bagi portofolio aktif serta proksi pengukuran dan pemodelan return.

Indeks saham oleh BEI dibagi menjadi empat bagian diantaranya Indeks headline, Indeks sektor, indeks tematik dan indeks faktor. Setiap bagian indeks saham yang dirilis oleh BEI memiliki tahun dasar penghitungan yang berbeda. Indeks saham komposit atau dikenal dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dirilis pertama kali pada 4 April 1983 dengan tahun dasar waktu penghitungan pada 1 April 1983. Selain itu untuk mengukur harga saham dari 45 saham dengan nilai kapitalisasi pasar tertinggi, likuiditas yang tinggi dan fundamental perusahaan yang baik, BEI merilis Indeks LQ45 dengan tahun dasar 13 Juli 1994 dan dirilis pada tanggal 1 Februari 1997. Kedua Indeks ini merupakan indeks pembanding bagi kinerja saham-saham lainnya di pasar bursa.

Dalam tulisan kali ini akan dibahas tentang Indeks Headline, merupakan indeks yang menjadi acuan utama dalam menggambarkan kinerja pasar modal. Indeks headline terdiri dari indeks komposite, board, liquidity, dan liquidity co-branding.

Indeks Komposit (Composite)

Indeks composite merupakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari seluruh perusahaan yang masuk ke bursa saham. Indeks Komposite dapat digunakan untuk mengukur kinerja saham Pasar Modal Indonesia. Pada gambar 1 ditunjukkan dalam rentang periode waktu 2015-2021 terjadi dua kali penurunan tajam harga saham pada tahun 2015 dan tahun 2020. Sentimen negatif baik dari dalam maupun luar negeri mempengaruhi penurunan harga saham Indonesia pada tahun 2015.

IHSG Bursa Efek Indonesia 2015-2021

Sumber : BEI – BPS

Ketidakharmonisan kondisi politik Indonesia, kinerja keuangan yang menurun, melemahnya nilai rupiah dan menurunnya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2015 mempengaruhi penurunan IHSG pada tahun 2015. Sementara itu sentimen negatif isu global seperti krisis utang Yunani, kenaikan suku bunga Fed, menurunnya harga komoditas serta perlambatan ekonomi China menurunkan IHSG pada harga 4121. Kondisi penurunan IHSG 2015 memang tidak terlalu dalam jika dibandingkan dengan kondisi IHSG tahun 2020 hingga harga terendah 3938 akibat pandemi covid-19 yang melumpuhkan hampir seluruh sektor perekonomian.

Indeks Menurut Papan (Board) Pencatatan

Emiten atau perusahaan yang masuk ke Bursa Saham dapat dibedakan menurut papan pencatatan. Papan Pencatatan pada Bursa saham Indonesia terdiri dari papan utama, pengembangan dan akselerasi. Setiap perusahaan yang dicatat pada papan pencatatan berkesesuaian dengan kriteria pembukuan keuangan masing-masing perusahaan. Kinerja perusahaan dua dari tiga papan pencatatan diukur melalui indeks main board (MBX) dan indeks development board (DBX). Pada awal kasus covid-19 Emiten atau perusahaan pada papan utama lebih terdampak dibandingkan perusahaan pada papan pengembangan dengan penurunan sebesar -39 persen dari harga tertinggi periode sebelumnya. Jika dibandingkan dengan kondisi 2015 kontraksi yang dialami perusahaan pada papan utama lebih besar 11 persen dibandingkan kontraksi harga di tahun 2020.

Indeks Papan Utama (MBX) dan Indeks Papan Pengembangan Bursa Efek Indonesia 2015-2021

Sumber : BEI – BPS

Liquidity

Kinerja perusahaan selain dapat diukur melalui harga saham dapat diukur melakui kecepatan transaksi jual beli saham dan besarnya nilai kapitalisasi yang didukung oleh baiknya fundamental perusahaan. Ketiga kriteria tersebut dibedakan dalam tiga kelompok menurut jumlah perusahaannya dengan tiga jenis indeks likuiditas diantaranya Indeks 30, Indeks 80 dan Indeks LQ 45. Berdasarkan 30 perusahaan dengan likuiditas terbesar, pada awal masa pandemi harga saham menurun hingga 567 per lembar saham, akan tetapi untuk kelompok 45 perusahaan dengan likuiditas terbesar berada pada harga 312 per lembar. Sementara itu indeks liquiditas 80 perusahaan baru rilis pada awal tahun 2019.

Indeks Likuiditas Menurut Kelompok Perusahaan Bursa Efek Indonesia 2015-2021

Sumber : BEI – BPS

Liquidity Co-branding

Bursa Efek Indonesia (BEI) bekerjasama dengan pihak lain dalam menghasilkan beberapa indeks untuk mengukur kinerja kelompok saham tertentu. Kerjasama tersebut menghasilkan suatu kombinasi saham yang dapat menggambarkan kinerja pasar saham secara umum. Kerjasama yang dilakukan antara BEI dengan pihak lain untuk mengukur kelompok saham tertentu dikenal dengan indeks liquidity co-branding. Indeks Liquidity Co-Branding yang telah dirilis BEI diantaranya Indeks BISNIS-27 yang bekerja sama dengan Komite Indeks Bisnis Indonesia, Indeks MNC36 yang bekerjasama dengan Media Nusantara Citra (MNC) Group, Indeks Investor 33 yang bekerjasama dengan PT Media Investor Indonesia (penerbit Majalah Investor) serta indeks Kompas100 yang bekerjasama dengan media Kompas Gramedia Group.

Indeks Likuiditas Co-Branding Menurut Kelompok Perusahaan Bursa Efek Indonesia 2015-2021

Sumber : BEI – BPS

Jumlah perusahaan atau emiten disetiap keempat kelompok indeks tersebut berbeda dengan dasar pemilihan perusahaan yang juga berbeda antar kelompok indeks. Secara umum keseluruhan indeks mendasari pemilihan perusahaan atas nilai kapitalisasi pasar terbesar dalam bursa. Sementara itu Indeks MNC36 dan Investor33 mendasari pemilihan emiten selain dari kapitalisasi pasar juga mendasari pemilihan emiten atau perusahaan berdasarkan likuiditas transaksi, fundamental perusahaan serta rasio keuangan.

Dengan membandingkan kinerja perusahaan melalui indeks liquidity co-branding, perusahaan atau emiten pilihan media kompas gramedia group memiliki median harga saham yang lebih tinggi dibandingkan indeks lainnya. Akan tetapi jika membandingkan pada periode penurunan harga di tahun 2015 dan 2020 keempat indeks menunjukkan nilai kontraksi harga saham yang sama, dimana pada saat 2015 dimana Bursa Saham terdampak Krisis Utang Yunani dan ketidakstabilan politik dalam negeri rata-rata keempat indeks mengalami kontraksi sebesar 30 persen dari harga tertinggi yang pernah dicapai pada periode sebelumnya. Sementara itu disaat masa pandemi tahun 2020 keempat indeks mengalami kontraksi sebesar 43 persen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here