Keberhasilan Bank Digital Tergantung Dari Pengembangan Ekosistem Digital

962

(Vibiznews – Column) – Mencermati transformasi digital maka disrupsi perbankan terjadi besar-besaran. Dulu masing-masing bank punya produk andalan untuk saling bersaing, namun kini tidak demikian, karena terjadi evolusi dalam dunia perbankan. Kemajuan teknologi membantu bank untuk lebih efisien dan aman, dan layanan perbankan sebagian mulai beralih dari konvensional banking menjadi internet banking, dengan munculnya Fintech di negara kita.

Fintech yang berkembang di negara kita ada 2 jenis:

  1. Fintech payment/ pembayaran, ini masuk dalam aturan sistem pembayaran yang diatur dan diawasi oleh Bank Indonesia.
  2. Fintech pembiayaan (P2P) diatur dan diawasi oleh OJK.

Merasa disaingi oleh Fintech, maka bank mulai membuat produk-produk untuk mengatasi Fintech yang kian marak bermunculan di negara kita.

Kapan dan mengapa evolusi perbankan terjadi?

Revolusi perbankan di negeri ini diawali oleh Bank BTPN dengan mengeluarkan aplikasi Jenius pada bulan Agustus 2016, yang menawarkan layanan perbankan lewat smartphone yang dikenal dengan digital banking. Lewat layanan tersebut seseorang tidak perlu ke bank untuk menyetorkan dananya atau mentransfer dananya, cukup lewat handphone semua transaksi pembayaran dapat dilakukan dengan mengandalkan jaringan internet. Hal ini dilakukan karena perkembangan zaman membuktikan masyarakat semakin banyak menggunakan internet dalam kehidupan sehari-hari, demikian juga di Indonesia.

Berdasarkan data Digital 2020 dari We are Social dan Hootsuite, total pengakses internet di Indonesia mencapai 174 juta orang, menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan populasi pengguna internet terbesar di dunia.

Neobank versus Digital Banking.

Akhir-akhir ini dunia perbankan dihebohkan dengan hadirnya neobank, ini bukan sebuah jenis bank. Berdasarkan definisi maka neobank adalah bank yang kemudian memberikan layanan secara fully internet. Jadi neobank adalah bank digital yang tidak punya cabang fisik satupun juga. Keberadaan neobank ini 100% online. Lalu apa bedanya neobank dengan digital banking?

Digital bank itu sesungguhnya adalah digital extension atau perpanjangan digital dari sebuah bank tradisional. Misalnya Jenius adalah perpanjangan/ digital extension bank BTPN, Digibank adalah digital extension dari DBS Bank.

Sementara neobank merupakan bank digital yang murni berdiri sendiri layaknya perusahaan teknologi yang melakukan fungsi perbankan. Neobank di Indonesia saat ini adalah Bank Neo Commerce dan Bank Jago. Karena tidak punya kantor cabang membuat neobank beroperasi sangat efisien, bonus simpanan yang tinggi dan mengurangi semua bentuk biaya transaksi, dan sifatnya customer sentric jadi dibentuk sesuai kebutuhan customer jadi bukan hanya cepat layanannya tetapi juga sangat personal. Sedangkan kelemahannya belum memiliki fungsi layanan perbankan secara penuh, namun fitur-fitur yang membuat transaksi berjalan cepat membuat neobank lebih unggul. (Dr Indrawan Nugroho, CEO dan Co-Founder CIAS, Serangan Maut Neobanks. Inikah ENDGAME Perbankan?)

Ekosistem Digital

Meskipun demikian, tak ada jaminan semua bank digital yang muncul hari ini bisa bertahan dan mencatatkan keuntungan. Agar bisa unggul dan bertahan, maka bank digital harus dilengkapi dengan ekosistem digital atau memilih untuk membidik ekosistem digital yang sudah ada. Seperti yang dilakukan oleh bank-bank besar.

Dengan memiliki ekosistem digital, para pemilik bank berharap, bank bisa mengakuisisi nasabah baru hingga menawarkan fitur yang mencakup berbagai produk bank mulai dari simpanan, layanan transaksi, hingga kredit. Salah satu bank besar yang telah melakukannya adalah BCA dengan BCA Digital misalnya, telah menyasar pengguna e-commerce Blibli. Pengguna Blibli bisa membuka rekening BCA Digital di dalam platform. Mereka sama-sama dimiliki oleh Grup Djarum.

Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin mengatakan tren ini akan terus berlanjut seiring dengan disrupsi teknologi dan bisnis. Dia menilai model bisnis yang mengejar ekosistem digital akan berdampak besar bagi pertumbuhan bisnis bank digital.

Bank digital tidak hanya mengubah model bisnis menjadi digital tapi perlu membangun ekosistem digital dengan platform lain dan marketplace sehingga akan lebih optimal. Juga tantangan agak berat karena melawan bank besar yang juga membangun ekosistem digital melalui platform mobile banking dan internet banking mereka,” ujar Amin (Kontan 12/10/2021).

Ia menilai kerja sama antar bank digital dan fintech peer to peer (P2P) lending dalam menyalurkan kredit sah-sah saja. “Fintech dan bank digital memiliki segmen tersendiri. Khususnya untuk bank digital, mereka bisa menyasar niche market yang tidak disasar oleh bank tradisional. Terlebih masih ada 60% penduduk yang belum bisa dijangkau oleh bank. Ini pasar yang besar untuk dijangkau dengan memanfaatkan kemajuan teknologi,” kata dia.

Pengembangan Bank Digital

Direktur Utama Bank Digital BCA Lanny Boedianti mengatakan untuk menjaring nasabah, pihaknya fokus mengembangkan pelayanan, fitur, dan produk. Hingga pertengahan November 2021, BCA Digital telah mencatatkan lebih dari 300.000 nasabah.

“Blu (Bank Digital BCA) akan dikembangkan menjadi platform all-in-one yang dapat menjawab berbagai kebutuhan segmen nasabah modern. Kami juga mengembangkan skala ekosistem digital di Indonesia dengan menggandeng berkolaborasi dengan partner multi-industri yang memiliki visi yang sama dan sudah ahli di bidangnya,” jelas Lanny( Kontan, 11 Desember 2021).

Hingga saat ini, BCA Digital sudah memiliki mitra eksklusif di bidang e-commerce yakni Blibli. Selain itu, perseroan juga sudah menjalin kerjasama eksklusif dengan Telkom. Kemitraan dengan keduanya merupakan strategi yang memperkuat komitmen BCA Digital untuk menghadirkan nilai tambah kepada pelanggan.

Lain halnya dengan Bank Neo Commerce dikabarkan mengandalkan Akulaku sebagai pemegang saham. Direktur Utama Bank Neo Commerce Tjandra Gunawan menyatakan akan melakukan terus kerja sama dengan group besar Alibaba sebagai investor Akulaku. Karena banyak perusahaan di Indonesia yang diinvestasi oleh Alibaba Group. Beredar informasi bahwa Bank Neo Commerce berencana akan melakukan sinergis dengan tujuan memberikan layanan terbaik bagi nasabah. Tentu saja dengan sinergi dan kolaborasi Bank Neo Commerce bisa meminimalisir biaya-biaya, jadi bukan kompetisi.

Tjandra menambahkan bahwa, Bank Neo Commerce telah bekerja sama dengan Sunline, Tencent, Alicloud, Arrash, dan Huawei dalam mengembangkan infrastruktur digital bank. Dalam menjalankan model bisnis, Bank Neo terus mengembangkan layanan kebutuhan sehari-hari pengguna seperti top up, utility, makanan dan minuman, serta transportasi. Juga layanan lewat QR payment yang direncanakan rilis pada tahun depan. (Kontan, 11 Desember 2021)

Yang cukup menarik adalah PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (Bank BJB) dari sebuah bank pembangunan daerah kini melakukan evolusi menjadi bank digital. Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renal mengatakan: “Fenomena bank digital merupakan masa depan dari industri keuangan, sehingga kita perlu melakukan inovasi dan bertransformasi agar bisa bersaing di industri perbankan.”

Dia mengimplementasikan program budaya perusahaan tahun 2022 BJB Trust Crost Collaboration, karena prinsipnya di era digital, kolaborasi diyakini menjadi satu hal yang harus dilakukan dalam mencapai visi dan misi perusahaan. Perbedaan lokasi, jarak, dan waktu bukan menjadi penghambat aktivitas untuk berkolaborasi dan Cross Collaboration adalah momentumnya. Let’s make BJB Better, Through Better Engangement and Productivity,” kata Yuddy.

Ia mengatakan, bank BJB di tahun 2021 telah melakukan berbagai inovasi dan pengembangan digitalisasi. Adapun hal tersebut berdampak pada pendapatan fee-based income yang naik signifikan. Tak terkecuali dari kanal-kanal atau layanan digital yang semakin digandrungi. Hal ini, sambung Yuddy, tidak terlepas dari semakin luasnya ekosistem digital bank BJB yang tumbuh sepanjang tahun 2021.

Pengembangan juga dilakukan terhadap pemberian fasilitas kredit berbasis digital melalui aplikasi Loan on Boarding, seperti aplikasi BJB Laku untuk segmen UMKM dan Kredit Mesra dan Kredit Usaha Rakyat (KUR), BJB Koin untuk pembiayaan segmen konsumer ASN, serta pengembangan aplikasi pada segmen lainnya. Hal tersebut mendorong percepatan pertumbuhan ekspansi bisnis bank, ke depannya seluruh aplikasi ini akan menjadi satu kesatuan dalam suatu Super Apps untuk memenuhi seluruh kebutuhan nasabah. (CNBC, 18/1/2022)

Kesimpulan

Bank digital akan berhasil jika memiliki ekosistem digital dan keberhasilan tersebut ditunjang oleh konsistensi dalam menggarap ekosistem digital yang ada, dengan melakukan pengembangan terhadap aplikasi sesuai kebutuhan nasabah, bukan mengandalkan valuasi yang tinggi. Ekosistem yang dikembangkan harus memadai karena akan memberikan manfaat yang cukup signifikan bagi nasabahnya.

 

Belinda Kosasih/ Partner of Banking Business Services/Vibiz Consulting

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here