Tingginya Harga Minyak Sawit, Importir Mencari Minyak Nabati Lain, Review Mingguan Harga Minyak Sawit

503

(Vibiznews – Commodity) – Harga minyak sawit tidak bisa menanjak lebih lagi pada minggu ini setelah mencapai harga tertinggi baru di 5,380 ringgit pada hari Senin siang maka hari Senin kembali turun 1.18% dan pada hari Selasa kembali naik sedikit data fundamental masih menyebabkan harga minyak sawit naik juga mengikuti kenaikan dari harga minyak kedelai.

Harga minyak sawit April pada hari Selasa naik 0.44% menjadi 5,283 ringgit ($1,261.46) per ton .

Pasar menantikan kebijakan ekspor dari Indonesia dan Malaysia juga memperhatikan persediaan dan permintaan mereka sendiri untuk menanggapi kebijakan ekspor ini.

Harga minyak sawit naik selama 5 minggu berturut-turut dan mencapai rekor tertinggi baru. Pada minggu ini harga minyak sawit naik 4 hari berturut-turut dan berada diatas 5,000 ringgit. Pada minggu lalu harga minyak sawit naik 3.9%.

Pergerakan harga minyak sawit dari 17 – 21 Januari 2022

Harga minyak sawit April di Bursa Malaysia Derivatives Exchange Jumat 21 Januari 2022 naik 136 ringgit atau 2.62% menjadi 5,323 ringgit ($1,271.92) per ton. Kenaikan harga mingguan sebesar 3.9%.

Harga minyak sawit April pada hari Kamis 20 Januari 2022 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup naik 66 ringgit atau 1.29% menjadi 5,190 ringgit ($1,239.55) kenaikan untuk hari kedua.

Harga minyak sawit April pada hari Rabu 19 Januari 2022 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 91 ringgit atau 1.1% menjadi 5,125 ringgit ($1,222.86) per ton. Harga sempat naik 3.2% ke harga tertinggi sejak 21 Oktober pada pasar siang hari.

Pada hari Selasa 18 Januari 2022 di Bursa Malaysia Derivatives ditutup, hari Libur di Malaysia

Harga minyak sawit April pada hari Senin 17 Januari 2022 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 78 ringgit atau 1.57% menjadi 5,034 ringgit ($1,203.73) per ton

 

Indonesia sejak 24 Januari ini membuat kebijakan untuk eksportir minyak sawit membuat surat ijin pengiriman ke Departemen Perdagangan, sementara pemerintah sedang mendiskusikan untuk melakukan pembatasan ekspor minyak nabati.

Rencana Indonesia membatasi ekspor minyak sawit membuat importir terbesar di dunia India mengganti impor minyak sawit ke minyak substitusinya minyak kedelai dan minyak bunga matahari sehingga kenaikan harga minyak sawit akan terhenti.

 

Pemerintah Indonesia akan membatasi ekspor supaya persediaan dari minyak goreng di domestik harganya dapat dikontrol. Pembatasan ini berlaku selama 6 bulan sejak 24 Januari 2022.

Menurut perkiraan pasar bahwa 70% persediaan untuk kebutuhan domestik dan 30% untuk ekspor.

Pembatasan ekspor dari Indonesia diperkirakan akan meningkatkan permintaan ekspor dari Malaysia sebagai negara alternatif bagi negara pembeli sawit. Sedangkan produksi Malaysia sedang mengalami penurunan sehingga persediaan berkurang, sedangkan saat ini merupakan moment yang baik untuk menjual.

Harga minyak mentah naik karena tekanan geopolitical di Eropa Timur dan di Timur Tengah sehingga menambah kekhawatiran persediaan minyak mentah yang sudah sedikit akan berkurang lagi, sementara OPEC dan negara penghasil minyak lainnya berjuang untuk meningkatkan hasilnya.

Naiknya harga minyak mentah akan membuat permintaan akan biodiesel meningkat sebagai bahan bakar pengganti.

Harga jagung kembali naik ke harga tertinggi 7 bulan pada hari Kamis karena kekhawatiran bahwa produksi Amerika Selatan akan berkurang dan membuat permintaan jagung AS meningkat.

Pasar saham Asia turun pada hari Senin karena Federal Reserve

Perkiraan Southern Peninsula Palm Oil Millers’ Association (SPPOMA) produksi Malaysia dari 1-20 Januari turun 16.7% dari bulan sebelumnya.

Ekspor minyak sawit Malaysia dari 1 – 20 Januari turun 43.1% menjadi 626,029 ton dari 1-20 Desember menurut cargo surveyor Societe Generale de Surveillance.

Produksi minyak sawit Malaysia turun karena kekurangan pekerja di ladang sawit karena pandemi covid.

Kesimpulan :

Tingginya harga minyak sawit membuat para pembeli India dan Cina beralih ke minyak nabati yang lain seperti minyak kedelai dan minyak bunga matahari, ini akan membuat ekspor Malaysia turun, sekalipun pembatasan ekspor Indonesia terjadi, sehingga kenaikan harga diperkirakan tidak berlanjut lagi.

Di tahun 2022 produksi akan kembali meningkat dengan kembalinya tenaga kerja asing di Ladang sawit Malaysia sehingga harga minyak sawit bisa turun.

Analisa tehnikal untuk minyak sawit dengan support pertama di 5,110 ringgit kemudian ke 5,040 ringgit sedangkan resistant pertama di 5,330 ringgit kemudian ke 5,360 ringgit.

Loni T / Senior Analyst Vibiz Research Centre Division, Vibiz Consulting

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here