Rekomendasi GBP/USD Mingguan 16 – 20 Mei 2022: Apakah Rebound Berlanjut atau Mencari Bottom Baru?

687

(Vibiznews – Forex) GBP/USD mengalami penurunan mingguan yang ke empat kalinya berturut-turut dan menyentuh kerendahan dalam dua tahun dengan pergerakan turun tidak pernah berhenti, di tengah dominasi kekuatan dollar AS. GBP/USD sempat turun lebih dari 200 pips dalam seminggu, ke 1.2157, menembus beberapa level support yang kuat. Dolar AS muncul sebagai matauang safe-haven yang paling disukai karena ketakutan akan inflasi dan melambatnya pertumbuhan ekonomi. Minggu ini kondisi yang sudah oversold bisa memicu technical rebound.

Memulai minggu perdagangan yang baru pada minggu lalu di 1.2354, GBP/USD melanjutkan penurunannya. Pada hari Kamis pagi, GBP/USD sempat turun di bawah 1.2200 untuk pertama kalinya sejak Mei 2020. Naiknya yields obligasi treasury AS membantu dollar AS mendapatkan permintaan dan membebani pasangan matauang GBP/USD. Sebaliknya lingkungan pasar yang enggan terhadap resiko dan komentar the Fed yang hawkish memberikan dorongan naik terhadap dollar AS ke level tertinggi dalam hampir dua dekade di 104.92 sehingga menyebabkan GBP/USD sempat jatuh ke level terendah dalam dua tahun di 1.2165. Namun pada jam perdagangan terakhir GBP/USD berhasil bangkit kembali naik ke atas 1.22 ke 1.2258 karena USD berbalik melemah dan adanya aksi ambil untung.

Pada awalnya GBP/USD melanjutkan penurunannya pada hari Senin, setelah sempat kehilangan lebih dari 200 pips pada minggu lalu. GBP/USD sempat turun ke bawah 1.2300. Outlook pertumbuhan ekonomi yang suram dari Bank of England (BoE) menyebabkan poundsterling Inggris mengalami kerugian besar terhadap rival-rival utamanya pada paruh kedua minggu lalu.  Namun dalam jam perdagangan selanjutnya pada sesi Eropa, GBP/USD berhasil pulih, naik ke atas 1.2300 mengarah ke 1.2400 di sekitar 1.2371 karena naiknya yields obligasi Inggris 10 tahun. Meskipun demikian, memasuki jam perdagangan sesi AS, GBP/USD kembali berbalik jatuh ke arah 1.2300 di sekitar 1.2310, karena dollar AS terus menguat dengan naiknya yields obligasi pemerintah AS. Namun selanjutnya GBP/USD kembali memperoleh kekuatan dan berhasil berbalik naik ke 1.2350 karena berbalik melemahnya USD.

Hal yang menonjol di pasar pada awal minggu lalu adalah naiknya yields obligasi AS. Yield surat berharga treasury AS 10 tahun berada pada ketinggian 4 tahun di 3.180%. Para trader dan investor kuatir inflasi harga global sudah diluar dari kontrol.

GBP/USD bergerak sideways dalam rentang yang sempit di atas 1.2300 di sekitar 1.2308 pada hari Selasa setelah pada hari Senin tidak bergerak jauh dari posisi semula. Koreksi turun atas yields obligasi 10 tahun AS membantu GBP/USD berhasil membatasi kerugiannya pada hari Senin. Presiden the Fed Atlanta Raphael Bostic menentang kenaikan tingkat bunga 75 bps dan mengatakan bahwa ada tanda-tanda bahwa inflasi telah mencapai puncaknya. Presiden the Fed Minneapolis Neel Kashkari juga mengatakan hal yang sama, dia yakin bahwa inflasi akan turun ke target the Fed di 2%.

Sementara, pembuat kebijakan Bank of England (BoE) Michael Saunders mengatakan bahwa dia cenderung membuat kebijakan moneter bergerak dengan cepat ke posisi netral di tengah meningkatnya tekanan inflasi yang menjadi lebih persisten daripada yang diperkirakan sebelumnya. Meskipun demikian, yields obligasi 10 tahun pemerintah Inggris turun lebih dari 3% pada hari Selasa, sehingga membuat sulit Poundsterling Inggris untuk mendapatkan permintaannya. Outlook fundamental dan rentannya persepsi mengenai resiko terus membatasi usaha pemulihan matauang GBP/USD dan membatasi naiknya pergerakan koreksi tehnikal.

Pada jam perdagangan hari Rabu pagi, GBP/USD naik ke arah 1.2350, karena menemukan pembeli pada saat harga turun mendekati 1.2300. Poundsterling memperpanjang keuntungannya dengan membaiknya sentimen terhadap resiko sehingga membebani dollar AS yang safe-haven.

Setelah sempat naik karena muncul angka inflasi AS bulan April yang lebih tinggi daripada yang diperkirakan, indeks dollar AS kembali melemah dan berada di teritori negatip di bawah 104.00 sehingga membuat GBP/USD melanjutkan kenaikannya ke sekitar 1.2336.

Pada hari Rabu, Departemen Tenaga Kerja AS mengatakan bahwa Consumer Price Index (CPI) AS bulan April naik 0.3% turun dari kenaikan di bulan Maret sebesar 1.2%. Meskipun demikian angka ini lebih tinggi dari yang diperkirakan pasar sebesar 0.2%. Untuk angka tahunan, laporan dari Departemen Tenaga Kerja AS mengatakan bahwa inflasi umum naik 8.3% yang adalah lebih tinggi daripada yang diperkirakan kenaikan sebesar 8.1%, meskipun lebih rendah dari bulan Maret sebesar 8.5% yang merupakan level tertinggi dalam 40 tahun. Selain itu, angka CPI inti yang mengeluarkan harga energi dan makanan, naik 0.6% di bulan April, lebih tinggi dari bulan sebelumnya di 0.3% dan juga di atas dari yang diperkirakan.

Sementara itu penurunan yields obligasi 10 tahun pemerintah Inggris yang lebih dari 5% membatasi kenaikan dari poundsterling sementara indeks dollar AS melemah.

GBP/USD berhasil mendapatkan daya tariknya pada awal perdagangan sesi AS dan naik ke sekitar 1.2228.

Pada hari Kamis pagi, GBP/USD sempat turun di bawah 1.2200 untuk pertama kalinya sejak Mei 2020 tertekan oleh rilis data ekonomi yang buruk dari Inggris dan menguatnya dollar AS.

Office for National Statistics Inggris melaporkan bahwa ekonomi Inggris hanya bertumbuh 0.8% secara kuartalan pada kuartal pertama. Angka ini lebih rendah daripada yang diperkirakan pasar di 1% dan mengingatkan investor akan peringatan dari Bank of England’s (BOE) bahwa pada tahun 2022 bisa ada resesi, menyebabkan poundsterling berada di bawah tekanan jual yang kuat. Data ekonomi lainnya dari Inggris Manufacturing Production dan Industrial Production kedua-duanya mengalami kontraksi sebesar 0.2% per bulan di bulan Maret.

Selain itu, kekuatiran akan Brexit menambah beban terhadap pounsterling. Uni Eropa melaporkan bahwa mereka sudah siap untuk menghentikan kesepakatan perdagangan dengan Inggris jika protokol Irlandia Utara dirubah secara sepihak.

Keengganan terhadap resiko tetap tinggi di tengah terus berlangsungnya perang Rusia – Ukraina yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan berakhir, lockdown karena Covid di Cina dan inflasi harga yang problematik yang mencengkeram dunia. Para trader kuatir AS dan negara-negara maju lainnya akan tergelincir ke resesi pada bulan-bulan yang akan datang, karena faktor-faktor tersebut. Hal ini membuat dollar AS mendapatkan permintaan safe-haven. Keengganan terhadap resiko terefleksi dari turunnya indeks saham FTSE 100 Inggris sebanyak 2.5% dalam sehari dan indeks saham berjangka AS yang turun antara 0.5% – 0.8%.

AS mempublikasikan angka inflasi berikutnya pada hari Kamis, Producer Price Index (PPI)  bulan April yang naik 0.5% dari bulan Maret setelah kenaikan 1.4% dari bulan Februari ke bulan Maret.

GBP/USD kehilangan daya tariknya setelah berusaha pulih sebentar dan jatuh di bawah 1.2200 di sekitar 1.2196. Naiknya yields obligasi treasury AS membantu dollar AS mendapatkan permintaan dan membebani pasangan matauang GBP/USD.

Pada hari Jumat pagi, GBP/USD sempat mendapatkan kekuatan naik sedikit di atas 1.2200 dengan membaiknya sentimen pasar sehingga membuat dollar AS tertekan. GBP/USD mengalami rebound pada jam perdagangan terakhir hari Jumat dan naik ke atas 1.2200 ke 1.2258. Kenaikan GBP/USD pada jam perdagangan terakhir kelihatannya digerakkan oleh aksi ambil untung menjelang akhir minggu.

Faktor fundamental yang mempengaruhi pasangan matauang GBP/USD kurang lebih tetap sama, tidak berubah. Aksi jual yang disebabkan oleh pengumuman kebijakan moneter dari Bank of England (BoE) berlanjut memasuki minggu kedua, membuat poundsterling turun ke kerendahan baru dalam beberapa bulan setiap hari perdagangan yang baru.

BoE memproyeksikan terjadinya resesi atas ekonomi Inggris di kuartal terakhir dari tahun ini setelah memutuskan kenaikan tingkat bunga yang hawkish sebesar 0.25% pada pertemuan kebijakan moneternya pada tanggal 5 Mei. Pernyataan resesi dari BoE membuat GBP mengalami tekanan bearish sementara komentar dari the Fed yang hawkish dan arus “risk-off” membuat dollar AS terus terdorong naik.

Kebijakan zero-Covid Cina dan perang Rusia – Ukraina yang berkepanjangan menambah parah krisis rantai supply dan dampaknya yang negatip terhadap pertumbuhan global, meningkatkan keprihatinan akan melambatnya pertumbuhan ekonomi di Cina. Pelarian ke assets yang aman telah mendorong permintaan terhadap dollar AS yang safe-haven menambah arus keluar dari GBP/USD.

Panasnya inflasi AS yang lebih daripada yang diperkirakan sebagaimana yang terlihat dari angka Consumer Price Index (CPI) menambah keprihatinan akan pertumbuhan ekonomi global karena meneguhkan langkah pengetatan the Fed yang agresif.

Pada saat yang bersamaan, ekonomi Inggris terkontraksi 0.1% MoM pada bulan Maret sementara hanya mencetak angka ekspansi yang lemah di 0.8% pada kuartal pertama 2022, menambah tekanan turun terhadap Poundsterling.

GBP/USD mengalami aksi jual yang agresif pada paruh kedua minggu lalu, dengan data makro ekonomi, dan juga, bertolak belakangnya kebijakan moneter antara Inggris dan AS menjadi perhatian utama dari para investor dan trader. Ditambah lagi sentimen pasar yang risk-off  berpihak kepada dollar AS yang safe-haven di tengah memuncaknya kekuatiran akan pertumbuhan ekonomi global. Kelegaan terjadi pada hari perdagangan terakhir pada minggu lalu dengan dollar AS mengalami koreksi karena membaiknya sentimen pasar. Meskipun demikian yields treasury AS terus naik sepanjang minggu mendekati puncak beberapa tahun karena komentar the Fed yang hawkish.

Minggu ini, apakah rebound GBP/USD pada jam terakhir perdagangan akan berlanjut atau sebaliknya poundstrerling mencari bottom yang baru? Minggu ini kondisi yang sudah oversold bisa memicu technical rebound.

Pada hari Senin, akan keluar data aktifitas Cina yang bisa memberikan dampak yang signifikan atas sentimen terhadap resiko dan mempengaruhi sentimen pasar sepanjang minggu. BoE diskedulkan untuk memberikan laporan mengenai kebijakan moneternya.

Pada hari Selasa, akan keluar data pasar tenaga kerja Inggris dan data Retail Sales AS. Selain itu pada hari yang sama, kepala the Fed Jerome Powell akan berbicara di Wall Street Journal’s Future of Everything Festival, dimana dia kemungkinan akan menyinggung mengenai inflasi.

Pada hari Rabu, akan keluar data CPI Inggris bulan April. Tingkat inflasi pada bulan Maret mencetak ketinggian beberapa dekade yang baru di 7.0% YoY.

Pada hari Kamis, dari AS akan keluar Jobless Claims mingguan dan data Existing Home Sales.

Pada hari Jumat, Inggris akan mempublikasikan Retail Sales bulanan yang pada bulan lalu menunjukkan kontraksi yang tajam di dalam belanja konsumen. Sementara itu kepala ekonom BoE Huw Pill akan berpidato. Selain data-data makro ekonomi, ekspektasi dari the Fed dan sentimen pasar yang lebih luas akan diamati investor dan trader karena akan berdampak signifikan terhadap GBP/USD.

“Support” terdekat menunggu di 1.2200 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.2100 dan kemudian 1.2020. “Resistance” terdekat menunggu di 1.2300 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.2400 dan kemudian 1.2450.

Ricky Ferlianto/VBN/Head Research Vibiz Consulting

Editor: Asido.