Rekomendasi Minyak Mingguan 16 – 20 Mei 2022: Bisakah Naik Lebih Lanjut?

387
harga minyak

(Vibiznews – Commodity) Setelah naik signifikan pada minggu lalu, memulai minggu perdagangan yang baru pada hari Senin, harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex berbalik turun dari ketinggian $109.62 ke $102.50, pada hari Selasa harga minyak mentah WTI melanjutkan penurunannya dari $102.50 ke $99.25 per barel. Pada hari Rabu, berbalik naik ke $103.70 dan pada hari Kamis naik lagi ke $105.20. Pada hari Jumat harga WTI melanjutkan kenaikannya dari $105.20 ke $108.78 per barel.

Setelah naik signifikan pada minggu lalu, memulai minggu perdagangan yang baru pada hari Senin, harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex berbalik turun dari ketinggian $109.62 ke $102.50 per barel.

Penurunan harga minyak mentah WTI disebabkan karena terjadinya kerugian yang besar di pasar saham global karena para investor terus ketakutan dengan pengetatan kebijakan moneter yang dilakukan oleh bank sentral, tingginya angka inflasi dan melambatnya pertumbuhan ekonomi global yang membebani pasar minyak mentah pada hari Senin.

Selain itu ada laporan yang mengatakan bahwa usulan larangan impor minyak dari Rusia oleh Uni Eropa tidak berhasil disepakati untuk diberlakukan sehingga supply minyak mentah dari Rusia diperkirakan akan tetap ada. Berita ini menambah dorongan turun terhadap harga minyak mentah WTI.

Sempat naiknya dollar AS juga membebani harga minyak mentah WTI. Indeks dollar AS menguat dan menyentuh ketinggian selama 20 tahun, terdorong oleh naiknya yields obligasi pemerintah AS. Yield surat berharga treasury AS 10 tahun berada pada ketinggian 4 tahun di 3.180%. Para trader dan investor kuatir inflasi harga global sudah diluar dari kontrol.

Setelah turun signifikan pada hari Senin, harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada hari Selasa melanjutkan penurunannya dari $102.50 ke $99.25 per barel.

Penurunan tajam di dalam minat terhadap resiko global pada hari Senin telah memicu aksi jual yang massif terhadap minyak mentah. Setelah turun lebih dari $10 dari di atas $110 per barel, harga minyak mentah berjangka WTI pada hari Selasa mendapatkan support di atas batas psikologis yang penting yaitu $100 per barel.

Kondisi “risk-off” pada hari Senin dan Selasa yang membebani harga minyak mentah WTI adalah sebagai akibat investor mengkuatirkan kombinasi dari berbagai faktor bearish yaitu:

Pertama, kekuatiran akan pengetatan oleh bank sentral di tengah tingginya inflasi di AS, Eropa dan lainnya.

Kedua, kekuatiran mengenai perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan inflasi yang berkelanjutan karena resiko inflasi yang terus berkelanjutan.

Pada hari Rabu, harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex berhasil menahan penurunannya dan berbalik naik ke $103.70 per barel.

Masuknya para pembeli yang membeli dari bawah ketika harga minyak mentah WTI jatuh menembus $100 di $99 an, telah berhasil membuat harga minyak mentah WTI berbalik naik ke atas $100 ke sekitar $102.

Menteri Energi UAE Suhail Mohamed Al Mazrouei mengatakan bahwa pasar minyak mentah telah seimbang. Tidak ada kebutuhan untuk memproduksi lebih banyak minyak mentah. OPEC dan sekutunya (OPEC+) pada pertemuan hari Kamis minggu lalu sepakat untuk memperpanjang sedikit kenaikan produksi untuk bulan Juni di tengah keprihatinan yang berlangsung terus menerus atas melemahnya permintaan minyak dari Cina karena lockdown di kota-kota besar akibat naiknya kasus Covid – 19 baru – baru ini.

Sementara itu Menteri Urusan Eropa dari Perancis Clement Beaune mengatakan bahwa negara-negara Uni Eropa akan sudah bisa mencapai kesepakatan untuk menghentikan pembelian minyak mentah dari Rusia sebagai sanksi berikutnya terhadap Rusia pada minggu ini.

Harga minyak mentah WTI semula diperdagangkan di bawah tekanan jual yang berat pada hari Kamis, sempat turun lebih dari 2% mengetes support kuat di $101.50, membalikkan hampir seperempat keuntungan yang diperoleh pada hari Rabu.

Namun dalam jam perdagangan selanjutnya harga minyak mentah WTI berbalik naik kembali dan diperdagangkan di sekitar $105.50 karena laporan yang mengatakan bahwa kasus Covid – 19 di Shanghai telah turun sehingga memberikan ekspektasi akan naiknya permintaan minyak mentah WTI.

Penurunan harga minyak mentah WTI sebelumnya disebabkan karena meningkatnya keengganan terhadap resiko dan menekan assets yang berpenghasilan lebih tinggi seperti minyak pada jam perdagangan sesi Eropa.

Dollar AS memperpanjang kenaikannya, diuntungkan oleh arus “risk-off” dengan indeks dollar AS diperdagangkan pada level tertinggi dalam dua dekade mendekati 104.30.

Pasar menghindarkan diri dari assets yang lebih beresiko ditengah meningkatnya kekuatiran atas naiknya inflasi dan ketakutan melambatnya pertumbuhan ekonomi global setelah angka inflasi CPI AS memperkuat kebenaran pengetatan kebijakan moneter oleh the Fed. Selanjutnya, lockdown Cina karena Covid yang menambah krisis rantai supply membuat kepercayaan investor berkurang.

Pada pembukaan perdagangan sesi AS, sentimen “risk-off” di pasar terus berlanjut yang terefleksi dalam penurunan S&P 500 berjangka sebesar 0.50%.

Pada hari Jumat harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex melanjutkan kenaikannya dari $105.20 ke $108.60 per barel.

Rebound yang terjadi pada pasar saham global ditengah berkurangnya keengganan terhadap resiko di pasar pada akhir minggu menjadi penyebab harga minyak mentah WTI berhasil melanjutkan kenaikannya. Pasar saham global kebanyakan naik pada perdagangan semalam. Indeks saham AS mengarah naik pada saat pembukaan perdagangan sesi New York dimulai.

Banyak fokus terarah kepada memburuknya hubungan Rusia dengan Uni Eropa karena Finlandia dan Swedia semakin dekat untuk bergabung dengan NATO dan Jerman menuduh Rusia memakai ekspor energinya sebagai senjata perang. Hal ini membuat terus ada ketakutan akan dampak dari hilangnya output minyak Rusia akibat sanksi dari Barat.

Kombinasi dari kedua hal di atas membuat para pembeli minyak dari bawah berdatangan kembali ke pasar minyak mentah WTI pada saat harga minyak mentah WTI sudah turun mendekati $100.

Minggu ini kekuatiran akan melambatnya pertumbuhan ekonomi global dan masih berlangsungnya lockdown di Cina kemungkinan membuat harga minyak mentah WTI sulit untuk naik lebih lanjut. Lockdown di Cina sampai saat ini masih menunjukkan pelonggaran yang luas meskipun beberapa kota kunci seperti Shanghai kasus barunya sudah mulai turun. Selain itu, laporan mengatakan bahwa Uni Eropa kemungkinan akan meninggalkan rencananya untuk melakukan embargo impor minyak dari Rusia di tengah terus berlangsungnya oposisi dari Hungaria.

“Support” terdekat menunggu di $108.32 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $107.44 dan kemudian $102.38. “Resistance” yang terdekat menunggu di $108.88 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $109.98 dan kemudian $111.32.

Ricky Ferlianto/VBN/Head Reseach Vibiz Consulting

Editor: Asido.