Sentimen Ini Tekan IHSG Akhir Pekan, Terjerembab 1.7% ke Level Di Bawah 6800

322

(Vibiznews – IDX Stocks) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup ke zona merah turun 1,7 persen pada perdagangan akhir pekan, Jumat (1/7/2022), atau 117.25 poin ke level 6794.32.

Sejumlah sentimen negatif menjadi penyebab tumbangnya IHSG. Sepanjang perdagangan IHSG bergerak pada rentang 6.940–6.777.

Seluruh sektor ditutup di zona merah, dipimpin IDX Transport yang ambruk 4.31% disusul IDX Industrial 3.02% dan IDX Basic-Industry yang anjlok 2.99 persen.

Dari catatan perdangan terlihat ada 123 saham yang masih dapat bertahan di zona hijau, 435 saham turun dan 133 saham stagnan.

Jumlah saham yang diperjualbelikan pada sepanjang jam perdagangan hari ini ada sebanyak 17.75 miliar dengan nilai transaksi sebesar Rp10.77 triliun dan nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp8914.10.

Saham 10 besar big caps juga mengalami penurunan, hanya saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang menguat 0,5 persen ke level 4.020. Didampingi saham stagnan BBCA dan BBNI.

Di antara saham-saham yang melemah, PT Bank Jago Tbk. (ARTO) yang melemah paling dalam 6,83 persen atau 625 poin ke level 8.525. Jajaran big caps yang turut anjlok, di antaranya GOTO, BMRI, EMTK, TPIA, ASII, dan BBRI yang masing-masing terdepresiasi 4,64 persen, 4,1 persen, 2,8 persen, 2,78 persen, 1,51 persen, dan 0,24 persen.

Terjerembabnya IHSG lantaran data inflasi Juni 2022 yang mencapai 4,35 persen yang berada di luar ekspektasi pasar, bahkan melebihi batasan pagu yang telah dinaikkan oleh Bank Indonesia belum lama ini sebesar 4,2 persen.

Inflasi Indonesia Tertinggi Sejak Juli 2017, Harga Makanan Termahal dalam 5 Tahun Lebih

Tentunya hal ini membuat semua mata memandang Gubernur BI yang mana tempo hari mengatakan belum terburu-buru menaikkan suku bunga karena tingkat inflasi Indonesia masih terkendali.

Sentimen berikutnya adalah Amerika Serikat (AS) berencana menaikkan kembali suku bunganya 75 basis poin (BPS) pada Juli ini. Di tengah perjalanan panjang untuk menekan inflasi AS yang telah mencapai 8,6 persen ke cita-citanya di kisaran 3,15 persen pada kuartal IV/2022.

Selanjutnya, kenaikan suku bunga The Fed akan membuat dolar AS semakin menguat, dan rupiah semakin melemah.

Dengan kondisi ini, sepertinya pasar khawatir sebentar lagi BI tak punya pilihan lain selain turut menaikkan suku bunga.

Di sisi lain, kasus Covid-19 nasional yang terus meninggi juga sedikit banyak menambah kekhawatiran di pasar. Walau tidak terdata jumlah fatalitas yang signifikan, muncul kekhawatiran hal ini mulai tidak dapat dikendalikan dan mobilitas harus kembali ditekan alias PPKM diketatkan lagi.

Dari pasar Eropa sendiri, Bank Sentral Eropa punya target untuk bisa menekan inflasi sampai 2 persen. Tren kenaikan suku bunga sudah mulai diikuti beberapa negara Eropa. tampaknya isu resesi atau perlambatan ekonomi global mulai terasa lebih kental dari biasanya.

Selasti Panjaitan/Vibiznews