Rupiah Tembus Level Rp 15.000/USD; Bank Indonesia Beri Pernyataan

162
Vibizmedia Photo

(Vibiznews – Economy & Business) Hari ini, Rabu (06/07), mata Rupiah menembus level Rp 15.000. Dimana level ini merupakan  tertinggi selama 2 tahun lebih, tepat nya sejak Mei 2020

Di pembukaan  perdagangan hari ini, Rupiah sempat  bertengger di Rp 14.990/US$ atau melemah 0,03% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Setelahnya Rupiah sempat menyentuh Rp 14.995/US$, sebelum berbalik menguat tipis 0,03% ke Rp 14.981/US$.

Penguatan rupiah tak berlangsung lama,karena pada pukul 09.06 Rupiah kembali melemah dan menembus level Rp 15.000/US$

Pejabat BI, Edi Susianto selaku Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI),  seperti yang disapaikan ke media memberikan penjelasan mengenai kondisi rupiah terkini.

Pelemahan mata uang garuda, tidak lepas dari dampak terjadinya ketidakpastian perekonomian global yang semakin tinggi. Menurut Edi,  para pelaku pasar memiliki rasa khawatir dunia akan masuk ke resesi. Terlebih negara adikuasa Amerika serta  sederet negara  kini sudah hadapi lonjakan inflasi yang cukup tinggi, seperti Inggris, Jerman, Turki, dan lain lain.

“Pasar global khawatir akan terjadinya perlambatan lebih jauh atas ekonomi global bahkan khawatir bisa masuk ke kondisi resesi, khususnya ekonomi AS dimana data yang terkini sepertinya mendukung terhadap kekhawatiran tersebut,” jelasnya.

Akhirnya  opsi yang dipilih adalah mengamankan modal ke tempat yang dianggap paling aman, adalah dolar AS dan US Treasury. Karena itu penguatan dolar AS kini sudah mencapai level tertinggi sejak 20 tahun terakhir.  Kondisi ini memicu pelaku pasar global untuk terus mencari mata uang dan aset yang aman (safe haven).

Saat ini safe haven yang dipilih pelaku pasar bukanlah emas, tetapi mata uang dollar Amerika. Terlihat juga  indeks dolar AS terus menguat sudah di atas 106, tertinggi selama 20 tahun terakhir.

“Artinya dari pergerakan nilai tukar, banyak mata uang non USD khususnya mata uang EM (Emerging Market) mengalami pelemahan, tentunya termasuk Rupiah,” paparnya.

“Di Kawasan  Asia, tidak hanya  Rupiah yang alami pelemahan, tetapi mata uang lainnya seperti Thailand Baht, Malaysia Ringgit, Peso Philipina, India Rupee dan Korea Won, juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Akan tetapi, Edi menuturkan , posisi Rupiah masih lebih baik dibandingkan dengan mata uang Thailand, Malaysia, Filipina, India, dan Korea Selatan.

BI akan selalu berada di pasar, memastikan rupiah bergerak stabil. Ada beragam intervensi yang bisa dilakukan sesuai dengan kebutuhan. Meskipun hingga saat ini kebutuhan valuta asing sudah dipenuhi oleh eksportir.

“BI memastikan ada di pasar melalui triple intervention agar supaya mekanisme pasar dapat bekerja dengan  baik melalui menjaga keseimbangan supply – demand valas di market,” ujarnya

“BI akan tetap berupaya menjaga kondisi likuiditas Rupiah dalam level yang optimal,” tegas Edi.

Terpantau nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah siang ini per 10.16 WIB menyentuh level Rp 15.010 berdasarkan data Reuters.

Untuk menghadapi hal ini BI memastikan ada di pasar melalui triple intervention agar mekanisme pasar dapat bekerja dengan baik melalui menjaga keseimbangan supply dan demand valas di market. BI juga melihat support dari perusahaan eksportir untuk turut menjaga supply-demand valas masih sangat baik, sehingga pelemahan rupiah lebih managable.

Hannah Rebecca/ Journalist
Editor : Asido