Pertumbuhan Ekonomi Mengesankan, Pasar Optimis — Domestic Market Outlook, 8-12 August 2022 

301

(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi domestik pada minggu lalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:

  • BPS merilis ekonomi Indonesia tumbuh tinggi pada triwulan II 2022, mencapai 5,44% (yoy), jauh di atas triwulan sebelumnya 5,01% (yoy), serta di atas estimasi polling Reuters sebesar 5,13% (yoy).
  • Data ekonomi tersebut ikut menopang optimisme pasar dan IHSG terus menghijau sepekan penuh.
  • Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2022 dilaporkan BI tetap tinggi sebesar 132,2 miliar dolar AS, meskipun menurun dibandingkan dengan posisi akhir Juni.

Minggu berikutnya, isyu antara prospek pemulihan ekonomi dalam dan luar negeri, akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Domestic Market Review and Outlook 8-12 August 2022.

===

Minggu lalu IHSG di pasar modal Indonesia terpantau menguat di minggu ketiganya, berada di level 7 minggu tertingginya, terpicu oleh data pertumbuhan ekonomi RI kuartal II yang melampaui estimasi serta rilis kinerja emiten kuartal II -terutama perbankan- yang mengesankan. Sementara itu, bursa kawasan Asia umumnya menguat. Secara mingguan IHSG ditutup menguat 1,92%, atau 133,532 poin, ke level 7.084,655. Untuk minggu berikutnya (8-12 Agustus 2022), IHSG kemungkinan akan diintip profit taking karena mendekati area overbought, dengan mencermati sentimen bursa regional sepekan depan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance di level 7.138 dan 7.258. Sedangkan bila menemui tekanan jual di level ini, support ke level 6.810, dan bila tembus ke level 6.778.

Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan lalu terkoreksi oleh rebound-nya dollar global, namun di akhir pekan balik menguat dengan bagusnya data PDB Indonesia Q2, sehingga rupiah secara mingguannya berakhir melemah 0,38% ke level Rp 14.892. Sementara, dollar global bangkit dari koreksi 2 minggunya. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan akan bias menurun, atau kemungkinan rupiah berupaya menguat lagi secara bertahap, dalam range antara resistance di level Rp15.033 dan Rp15.153, sementara support di level Rp14.830 dan Rp14.727.

Harga obligasi rupiah Pemerintah Indonesia jangka panjang 10 tahun terpantau berakhir menguat terbatas secara mingguannya, terlihat dari pergerakan turun tipis yield obligasi dan berakhir ke 7,143% pada akhir pekan. Ini terjadi di tengah berlanjutnya aksi beli investor asing di SBN. Sementara yields US Treasury bergerak bangkit dari koreksi 3 minggunya.

===

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia tumbuh tinggi pada triwulan II 2022, di tengah risiko pelemahan ekonomi global dan tekanan inflasi yang meningkat. Perkembangan tersebut tercermin pada pertumbuhan ekonomi triwulan II 2022 yang mencapai 5,44% (yoy), jauh di atas capaian triwulan sebelumnya 5,01% (yoy).
Akselerasi kinerja ekonomi ditopang oleh permintaan domestik yang terus meningkat, terutama konsumsi rumah tangga, dan kinerja ekspor yang tetap tinggi.
Namun demikian, BI menilai bahwa dampak perlambatan ekonomi global terhadap kinerja ekspor dan potensi tertahannya konsumsi rumah tangga akibat kenaikan inflasi patut diwaspadai.

Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2022 tetap tinggi sebesar 132,2 miliar dolar AS, meskipun menurun dibandingkan dengan posisi pada akhir Juni 2022 sebesar 136,4 miliar dolar AS. Penurunan posisi cadangan devisa pada Juli 2022 antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri Pemerintah dan kebutuhan untuk stabilisasi nilai tukar Rupiah sejalan dengan masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan global. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor.

Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Berdasarkan data transaksi 1 – 4 Agustus 2022, nonresiden di pasar keuangan domestik jual neto Rp0,80 triliun terdiri dari beli neto Rp3,42 triliun di pasar SBN dan jual neto Rp4,22 triliun di pasar saham.

===

Isyu ancaman resesi ekonomi global kembali di tengah tekanan inflasi dan pengetatan kebijakan moneter para bank sentral global terus mengemuka. Isyu lain, panasnya situasi geopolitik di Ukraina, Taiwan – China, juga Timur Tengah dan sejumlah negara lainnya bisa begitu menggerakkan pasar. Kita melihat bahwa faktor fundamental ekonomi serta politik begitu signifikan dalam memengaruhi pasar. Bagi investor lokal yang, katakanlah, bukan berlatar belakang pendidikan ekonomi kadang tidak mudah untuk memahami dinamika berbagai indikator perekonomian dan yang terkait tersebut. Kendala itu bukan merupakan masalah kalau Anda terus menyimak berita dan analisis pasar di vibiznews.com. Banyak orang telah mengakuinya. Terima kasih tetap bersama kami karena kami hadir demi mendukung sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting