Rekomendasi GBP/USD Mingguan 8 – 12 Agustus 2022: Inflasi AS & GDP Inggris Menentukan

603

(Vibiznews – Commodity) Pergerakan naik GBP/USD mengalami kelelahan setelah dua minggu berturut-turut mengalami kenaikan sehingga pada minggu lalu berakhir di teritori negatip. Kenaikan tingkat bunga oleh Bank of England (BoE) yang dovish dan ketakutan yang persisten akan resesi menjadi penyebab utama turunnya Poundsterling pada minggu lalu.

Laporan pekerjaan AS bulan Juli yang mengesankan pada hari Jumat minggu lalu memperjelas keraguan dari para pembeli Poundsterling memasuki minggu ini dengan data makro ekonomi inflasi AS yang kritikal dan GDP kuartalan Inggris menanti.

Apa yang Terjadi pada Minggu Lalu?

Memulai minggu perdagangan yang baru pada minggu lalu di 1.2175, GBP/USD mengakhiri minggu lalu turun ke 1.2080 karena menguatnya USD secara signifikan setelah keluarnya laporan NFP AS bulan Juli yang secara mengejutkan naik dua kali lipat dari yang diperkirakan dengan penambahan sebanyak 528.000 pekerjaan. Pada awalnya GBP/USD sempat naik ke 1.2278 dengan USD melanjutkan pelemahannya memulai minggu perdagangan yang baru pada minggu lalu. Namun pada hari Kamis GBP/USD sempat jatuh ke 1.2077 setelah keluar hasil pertemuan kebijakan BoE yang memperkirakan Inggris akan masuk resesi pada akhir tahun ini.

Pergerakan Harian Minggu Lalu

Hari Senin, GBP/USD memperpanjang rally hariannya dan naik ke atas 1.2250 di sekitar 1.2278. Setelah data dari AS menunjukkan bahwa Prices Paid component of the ISM Manufacturing PMI survey turun ke 60 di bulan Juli dari 78.5 di bulan Juni, dollar AS melanjutkan pelemahannya terhadap rival-rivalnya.

GBP/USD berhasil memelihara momentum bullish-nya dan naik ke atas 1.2200 setelah pada minggu lalu mendapatkan keuntungan lebih dari 150 pips. Pasangan matauang ini tetap pada jalurnya untuk menembus 1.2250 dan berhasil pada jam perdagangan sesi AS.

Posisi di pasar menunjukkan bahwa Bank of England (BoE) sekarang ini diperkirakan secara luas akan menaikkan tingkat bunga kuncinya sebesar 50 bps pada hari Kamis. Pertaruhan akan hawkishnya BoE dan sikap the Fed yang berhati-hati kelihatannya berhasil membantu naiknya GBP/USD.

Data dari Inggris menunjukkan bahwa S&P Global Manufacturing PMI Inggris turun ke 52.1 pada bulan Juli (final) dari 52.8 pada bulan Juni.

Hari Selasa, GBP/USD kehilangan daya tariknya dan diperdagangkan turun ke sekitar 1.2214. Ketegangan geopolitik terus meningkat yang membuat dollar AS terus mengumpulkan kekuatannya sehingga membebani pasangan matauang GBP/USD.

Setelah sempat naik ke ketinggian selama lima minggu di dekat 1.2300 pada hari Senin, GBP/USD kehilangan daya tariknya dan jatuh ke bawah 1.2200 pada awal perdagangan sesi Eropa hari Selasa. Pergerakan yang negatip ke arah sentimen terhadap resiko membuat Poundsterling Inggris kesulitan mendapatkan pembeli.

Investor mencari keamanan pada hari Selasa di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dengan Cina. Ketegangan antara AS dengan Cina meningkat pada hari Selasa dengan Jubir Dewan Rakyat AS Nancy Pelosi dilaporkan akan mengunjungi Taiwan pada Rabu pagi. Sementara Cina bersumpah akan membalas.

Meskipun indeks saham FTSE 100 Inggris diperdagangkan datar, pasar saham global kebanyakan turun dalam perdagangan semalam dan indeks saham AS melemah pada saat pembukaan perdagangan sesi New York dimulai.

Hari Rabu, GBP/USD berfluktuasi dalam rentang harga yang sempit sedikit di bawah 1.2200 sejak permulaan hari Rabu. Investor menahan diri untuk membeli Poundsterling sementara menunggu pengumuman keputusan dari Bank of England (BoE) mengenai tingkat bunga yang baru pada hari Kamis.

Pada jam perdagangan sesi AS, GBP/USD tertekan turun ke sekitar 1.2140  dengan naiknya USD. Dolar AS terus mengatasi rival-rivalnya khususnya setelah keluar data PMI AS yang lebih baik daripada yang diperkirakan pasar ditambah lagi dengan komentar-komentar yang hawkish dari para pembuat kebijakan FOMC the Fed.

Komentar yang hawkish dari beberapa pejabat Federal Reserve AS yang berbeda, yang memberikan petunjuk akan tetap berlanjutnya kecepatan pengetatan yang agresif. Pada pertemuan the Fed yang terakhir spekulasi di pasar merasa bank sentral AS ini akan mengambil langkah mundur dalam kebijakan moneternya. Namun para pejabat the Fed menyorot kepada tekanan inflasi yang persisten dan memperkirakan tekanan inflasi ini akan meluas. Ketua the Fed Jerome Powell menegaskan bahwa inflasi adalah keprihatinan utama mereka.

Sementara itu data ekonomi dari Inggris menunjukkan bahwa aktifitas bisnis Inggris di sektor jasa berkembang dengan kecepatan yang paling rendah dalam 17 bulan dengan S&P Services PMI Inggris turun ke 52.6 pada bulan Juli dari sebelumnya 54.3 di bulan Juni. Angka ini juga lebih rendah daripada yang diperkirakan pasar di 53.3.

Hari Kamis, GBP/USD berada di bawah tekanan bearish yang berat dan turun ke bawah 1.2100 di sekitar 1.2077 selama berlangsungnya konferensi pers Gubernur Bank of England (BoE) Andrew Bailey. BoE menaikkan tingkat bunga kuncinya sebesar 50 bps sebagaimana dengan yang telah diperkirakan namun memberikan catatan bahwa mereka memperkirakan ekonomi Inggris akan memasuki resesi pada kuartal ke empat.

Namun dalam jam perdagangan selanjutnya pada sesi AS, GBP/USD berhasil bangkit dan naik ke atas 1.2100 diperdagangkan di sekitar 1.2135, karena berbalik melemahnya dollar AS. USD berbalik turun karena data makro ekonomi yang keluar dari AS mengecewakan.

Initial Jobless Claims AS untuk minggu yang berakhir pada tanggal 29 Juli meningkat menjadi 260.000, lebih buruk daripada yang diantisipasikan 254.000.

Keputusan untuk menaikkan tingkat bunga sebesar 50 bps diambil dengan pemungutan suara 9 – 0. Mayoritas menginginkan kenaikan tingkat bunga bank sentral Inggris sebesar 0.5% sampai 1.75%. Hanya satu anggota yang cenderung untuk menaikkan tingkat bunga sebesar 0.25%.

Kenaikan tingkat bunga sebesar 50 bps yang sesuai dengan yang diperkirakan pasar telah memicu reaksi pasar “buy the rumour and sell the fact” sehingga membuat tekanan turun terhadap pasangan matauang GBP/USD.

Di dalam pernyataannya BoE memperkirakan inflasi akan berada pada level 9.53% dalam setahun dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya pada bulan Mei di level 6.65%. Selain itu mereka memperkirakan ekonomi Inggris akan memasuki resesi pada kuartal ke empat.

Pada bulan lalu, BoE pernah berkata bahwa ada resiko bahwa ekonomi Inggris akan memasuki resesi pada tahun 2023. Pada pertemuan kebijakan moneter hari ini, BoE memperkirakan resesi ekonomi Inggris akan datang lebih cepat yaitu pada tahun ini juga pada kuartal ke empat. Hal ini membuat Poundsterling jatuh tajam.

Hari Jumat, GBP/USD turun tajam kembali ke sekitar level 1.2065 pada hari Jumat setelah laporan pekerjaan AS bulan Juli memicu terjadinya rally dollar AS.

Setelah turun ke level terendah dalam hampir satu minggu di 1.2065 pada hari Kamis, GBP/USD semula sempat mengalami rebound karena melemahnya dollar AS dan ditutup di atas 1.2100. Namun pada jam perdagangan sesi AS hari Jumat, GBP/USD kembali turun ke bawah 1.2100 setelah keluarnya laporan Non-Farm Payrolls AS bulan Juli.

Laporan Non-Farm Payrolls (NFP) AS untuk bulan Juli menunjukkan kenaikan yang sangat kuat dengan pertambahan sebesar 528.000 pekerjaan dibandingkan dengan yang diperkirakan pertambahan sebesar 260.000 pekerjaan. Sementara laporan NFP bulan Juni hanya menunjukkan kenaikan pekerjaan Non-Farm sebanyak 372.000.

Tingkat pengangguran di bulan Juli turun menjadi 3.5% dari sebelumnya di bulan Juni 3.6%. Para analis pasar mengatakan bahwa setelah keluarnya angka pekerjaan AS yang kuat pada hari ini, berbaliknya the Fed menjadi dovish tidak akan terjadi. Indeks dollar AS dan yields treasury AS melompat naik karena berita mengenai naiknya pekerjaan AS secara mengejutkan yang mengakibatkan berbalik turunnya GBP/USD dengan tajam.

Inflasi AS & GDP Inggris

Minggu ini investor Poundsterling khususnya akan fokus pada dua data makro ekonomi penting bagi pergerakan GBP/USD yaitu Consumer Price Index (CPI) AS yang kritikal pada hari Rabu dan GDP Kuartalan Inggris pada hari Jumat. Selain itu, ketegangan geopolitik antara AS dengan Cina mengenai Taiwan, ketakutan akan resesi global dan ekspektasi pengetatan moneter oleh the Fed akan terus memimpin sentimen pasar pada minggu ini.

Pada hari Senin tidak ada data ekonomi baik dari AS maupun dari Inggris. Pada hari Selasa akan keluar laporan minor dari AS yaitu Preliminary Unit Labor Costs and Prelim Nonfarm Productivity.

Data inflasi bulanan AS akan dilaporkan pada hari Rabu yang akan berdampak kuat terhadap pasar, dengan tingkat inflasi yang ada sekarang berada pada level tertinggi sejak bulan November 1981 di 9.1% secara basis tahunan. Angka inflasi CPI yang lebih tinggi akan memaksa kenaikan tingkat bunga yang super besar oleh the Fed pada pertemuan mereka berikutnya yang akan mengangkat naik dollar AS dan menekan turun Poundsterling.

Pada hari Kamis dari AS akan dipublikasikan Jobless Claims mingguan dan data Producer Price Index (PPI) yang kritikal untuk membentuk ekspektasi dari the Fed.

Pada hari Jumat, perhatian investor akan beralih ke Inggris dimana akan dipublikasikan data makro ekonomi GDP kuartalan dan bulanan. Ini adalah perkiraan yang pertama dari GDP kuartal ke dua Inggris dan akan sangat signifikan bagi para trader Poundsterling, terutama dengan BoE dalam pertemuan kebijakan moneternya pada hari Kamis minggu lalu memberikan outlook ekonomi Inggris yang suram dan Gubernur BoE Andrew Bailey mengatakan Inggris akan memasuki resesi pada akhir tahun ini. Selain itu akan dipublikasikan juga data produksi manufaktur dan industri secara parallel.

Dari AS, pada hari Jumat akan dipublikasikan data Preliminary UoM Consumer Sentiment and Inflation Expectations yang akan mengakhiri minggu yang krusial pada perdagangan Poundsterling minggu ini.

Support & Resistance

“Support” terdekat menunggu di 1.2030 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.2000 dan kemudian 1.1900. “Resistance” terdekat menunggu di 1.2100 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.2200 dan kemudian 1.2250.

Ricky Ferlianto/VBN/Head Research Vibiz Consulting

Editor: Asido