Rekomendasi Minyak Mingguan 19 – 23 September 2022: Masihkah Tertekan Turun?

409

(Vibiznews – Commodity) Harga minyak mentah WTI telah jatuh hampir 17% dari ketinggian di bulan Agustus dan pada minggu lalu harga minyak mentah WTI kembali mengalami penurunan untuk tiga minggu berturut-turut. Meskipun demikian, harga minyak mentah WTI masih sanggup bertahan di atas atau dalam zona support kritikal di atas $83.00. Bagaimana dengan minggu ini?

Apa yang Terjadi Pada Minggu Lalu?

Memulai minggu perdagangan yang baru pada minggu lalu, di $85.78, harga minyak mentah WTI mengakhiri  minggu lalu dengan sedikit penurunan ke $84.75. Pada awalnya hari Senin, harga WTI naik ke $88.24 karena sentimen pasar yang positip terhadap resiko. Pada hari Selasa berbalik turun ke $85.30 karena kekuatiran kurangnya demand akibat lockdown yang masih berlangsung di Cina dan naiknya USD secara tajam akibat keluarnya data CPI AS yang memanas. Pada hari Rabu, harga minyak mentah WTI berhasil naik ke $89.50 karena outlook permintaan minyak mentah yang dikeluarkan OPEC yang optimis akan naik pada tahun 2022 dan 2023. Namun berbalik turun pada hari Kamis ke $85.11 karena naiknya persediaan minyak mentah AS. Dan pada hari Jumat melanjutkan penurunan ke $84.99.

Pergerakan Harian Harga Minyak Mentah WTI Minggu Lalu

Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada awal jam perdagangan sesi AS hari Senin melanjutkan kenaikannya, diperdagangkan di sekitar $88.24 per barel,

Harga minyak mentah WTI naik karena sentimen pasar yang positip terhadap resiko telah mengangkat naik harga – harga assets yang berpenghasilan tinggi yang diikuti dengan resiko yang tinggi pula seperti saham dan minyak mentah.

Pasar saham global kebanyakan menguat dalam perdagangan semalam. Pasar saham di Asia Pasifik memulai minggu yang baru dengan kenaikan yang solid setelah Wall Street mengalami “stellar performance” pada hari Jumat minggu lalu. Indeks saham berjangka Eropa berada pada area hijau. Indeks saham AS mengarah naik pada saat pembukaan perdagangan sesi New York dimulai.

Hal lain yang menyebabkan kenaikan harga minyak mentah WTI adalah turunnya indeks dollar AS secara signifikan yang menyentuh kerendahan selama dua minggu dalam perdagangan semalam dan dibarengi dengan turunnya yields treasury AS.

Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada awal jam perdagangan sesi AS hari Selasa turun dan diperdagangkan di sekitar $85.30 per barel,

Harga minyak mentah WTI mengalami kenaikan karena keprihatinan akan ketatnya supply dan melemahnya dollar AS.

Mogoknya negosiasi antara Teheran dan Washington membantu mendorong harga minyak mentah WTI naik karena membuat keprihatinan akan ketersediaan supply minyak mentah. Respon Iran terhadap proposal yang dipresentasikan oleh Uni Eropa mengecewakan para pemimpin Barat.

Iran menginginkan investigasi oleh International Atomic Energy Agency (IAEA) untuk dihentikan, namun hal ini tidak ada dalam perencanaan AS dan Uni Eropa. Secretary of State AS Anthony Blinken pada hari Senin mengatakan bahwa tidak mungkin tercapai kesepakatan dalam jangka pendek. Komentar dari Anthony Blinken ini membuat kerugian karena turunnya harga minyak mentah WTI berhasil diambil kembali hampir sepenuhnya.

Kanselir Jerman Olaf Scholz bersepakat dengan pendapat dari rekannya Anthony Blinken. Sementara itu intelijen Israel memberitahukan bahwa Iran sudah sangat dekat dalam usahanya untuk memiliki cukup banyak senjata dengan uranium untuk dibuat menjadi bom.

Namun lockdown di Cina karena merebaknya Covid – 19 terus membebani outlook permintaan minyak mentah dan lebih kuat daripada keprihatinan akan ketatnya supply. Hari Selasa pagi,  National Health Commission Cina melaporkan terjadinya 1.048 kasus baru pada tanggal 12 September. Beijing tidak mungkin akan melonggarkan sikapnya dalam menangani virus Covid sebelum bulan Oktober, dimana Presiden Xi Jinping diperkirakan sedang mengamankan jabatannya untuk tiga periode.

Tekanan turun terhadap harga minyak mentah bertambah dengan berbalik naiknya dollar AS yang sebelumnya jatuh tajam. Berbalik naiknya indeks dollar AS terjadi karena keluarnya laporan inflasi AS, diukur dari data Consumer Price Index (CPI), yang lebih panas daripada yang diperkirakan.

Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada awal jam perdagangan sesi AS hari Rabu naik dan diperdagangkan di sekitar $89.50 per barel,

Harga minyak mentah WTI mengalami kenaikan karena pada saat ini pasar lebih percaya kepada outlook permintaan akan minyak mentah yang dikeluarkan oleh Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) daripada kepada ancaman akan terjadinya resesi karena inflasi dan melimpahnya supply minyak mentah.

Dalam laporan bulanannya, OPEC mengatakan bahwa permintaan minyak mentah akan naik sebanyak  3,1 juta barel per hari pada tahun 2022 dan 2,7 juta barel per hari pada tahun 2023, tidak berubah dari pernyataan pada laporan bulan lalu. Laporan ini juga menyebutkan adanya tanda – tanda bahwa ekonomi di negara – negara utama menunjukkan data ekonomi yang lebih baik daripada yang diperkirakan meskipun di tengah badai naik tingginya inflasi.

Selain itu, hal yang mendorong naiknya harga minyak mentah WTI adalah pembicaraan bahwa kesepakatan minyak mentah Barat dengan Iran masih jauh dari terlaksana. Mogoknya negosiasi antara Teheran dan Washington membantu mendorong harga minyak mentah WTI naik karena membuat keprihatinan akan ketersediaan supply minyak mentah. Respon Iran terhadap proposal yang dipresentasikan oleh Uni Eropa mengecewakan para pemimpin Barat.

Tertekannya dollar AS ikut menopang harga minyak mentah WTI. Dollar AS tetap dalam kondisi tertekan setelah keluarnya rilis data Producer Price Index (PPI) yang melemah. PPI umumnya bulan Agustus turun 0.1% dan angka tahunan turun ke 8.7%, lebih rendah dari sebelumnya 9.8% dan dari yang diperkirakan sebesar 8.8%.

Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada awal jam perdagangan sesi AS hari Kamis turun dan diperdagangkan di sekitar $85.11 per barel,

Turunnya harga minyak mentah WTI antara lain disebabkan oleh keluarnya data inventori minyak mentah AS dari Energy Information Administration (EIA) yang mengatakan persediaan minyak mentah AS meningkat 2.442.000 untuk minggu yang berakhir pada tanggal 9 September, dibandingkan dengan perkiraan pasar sebesar 833.330.

Penurunan harga minyak mentah WTI disebabkan juga oleh naiknya kembali dollar AS dan ketakutan akan resesi global yang menurunkan permintaan akan minyak mentah.

Indeks dollar AS membalikkan penurunannya dan kembali ke ketinggian di sekitar 109,263 dengan munculnya angka Producer Price Index (PPI) AS yang lebih rendah pada bulan Agustus. PPI AS turun ke 8.7% YoY dari 9.8% pada bulan Juli dan lebih kecil daripada yang diperkirakan pasar sebesar 8.8%.

Ketakutan akan resesi global juga menambah tekanan turun terhadap harga minyak mentah, di tengah situasi dimana para bank sentral di Barat sedang bersiap untuk memasuki siklus kenaikan tingkat bunga yang baru berikutnya dalam rangka menyelesaikan persoalan inflasi. Kenaikan tingkat bunga yang terus menerus diperkirakan akan mendorong perekonomian dunia masuk ke dalam resesi global.

Saat ini pasar melihat probabilita the Fed akan menaikkan tingkat suku bunganya sebesar 75 bps adalah 90%.

Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada awal jam perdagangan sesi AS hari Jumat turun dan diperdagangkan di sekitar $84.99 per barel,

Harga minyak mentah WTI tetap berada di bawah tekanan dengan Energy Information Administration (EIA) terus menunjukkan naiknya inventori minyak mentah di Amerika Serikat.

Kenaikan inventori minyak mentah AS ini juga menunjukkan penurunan permintaan minyak mentah di AS.

Meningkatnya kemungkinan the Fed akan menaikkan tingkat suku bunga lebih tinggi lagi berpotensi mengurangi permintaan akan minyak mentah lebih jauh. Data ekonomi AS yang muncul bervariasi namun hanya sedikit yang lebih lemah daripada yang diperkirakan, kebanyakan lebih baik daripada yang diperkirakan.

Dengan demikian tidak cukup untuk berharap agar Federal Reserve AS merubah sikap hawkishnya yang agresif. Saat ini pasar melihat probabilita the Fed akan menaikkan tingkat suku bunganya sebesar 75 bps adalah 90%.

Lockdown di Cina masih terus berlangsung yang ikut membuat ekspektasi akan permintaan minyak mentah terus menurun, membuat harga minyak mentah WTI terus berada di bawah.

Beijing tidak mungkin akan melonggarkan sikapnya dalam menangani virus Covid sebelum bulan Oktober, karena Presiden Xi Jinping diperkirakan akan mengamankan periode ketiga jabatannya.

Perhatian Pada Minggu Ini

Minggu ini, para trader minyak akan digerakkan, selain oleh laporan mengenai persediaan minyak mentah AS oleh Energy Information Administration (EIA) dan berita – berita ketatnya supply dan naik turunnya outlook demand, juga oleh keputusan kenaikan tingkat bunga the Fed, pada hari rabu malam waktu AS atau hari Kamis dinihari WIB.

Dengan kenaikan tingkat bunga sebesar 75 bps sudah sepenuhnya diperhitungkan dalam harga, Summary of Economic Projections (SEC) dari the Fed, akan mendapatkan perhatian khusus. Dolar AS akan tetap terdorong naik tidak peduli apapun hasil dari the Fed. Dolar AS akan bisa naik ke ketinggian yang baru apabila the Fed mengejutkan pasar dengan kenaikan yang 100%.

Namun kemungkinan besar para pembuat kebijakan di Federal Reserve AS akan berpegang kepada kenaikan tingkat bunga sebesar 75 bps. Meskipun demikian, pasar harus siap dengan bank sentral AS ini tetap mempertahankan kecepatan kenaikan tingkat bunga sampai kepada pertemuan di bulan November. Dan hal ini akan membuat harga minyak mentah WTI tetap berada di bawah tekanan turun.

Harga minyak mentah WTI  seharusnya sudah bersiap – siap mengalami kerugian di tengah retorika dari the Fed yang hawkish pada hari Rabu malam waktu AS atau Kamis pagi dinihari WIB.

Naiknya tingkat bunga the Fed yang agresif selain membuat naik dollar AS yang menekan turun harga minyak mentah WTI sebagai komoditi yang berbasiskan dollar AS, juga berpotensi memperlambat perekonomian AS yang bisa membawa ekonomi AS ke jurang resesi yang pada gilirannya akan membuat ekonomi global terseret masuk ke dalam resesi dan akan mengakibatkan turunnya permintaan terhadap minyak mentah.

Outlook turunnya permintaan minyak mentah dengan sendirinya akan menekan harga minyak mentah. Dengan demikian pada minggu ini, sehubungan dengan akan adanya pengumuman kenaikan tingkat bunga oleh the Fed dalam pertemuan FOMC hari Rabu malam waktu AS atau hari Kamis pagi dinihari WIB, maka sentimen pasar akan terpengaruh kepada kekuatiran akan turunnya permintaan minyak mentah yang akan membebani minyak mentah.

Support & Resistance

Support” terdekat menunggu di $84.28 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $83.88 dan kemudian $83.00. “Resistance” yang terdekat menunggu di $85.56 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $86.33 dan kemudian $87.00.

Ricky Ferlianto/VBN/Head Research Vibiz Consulting

Editor: Asido.