Outlook Ekonomi Global dan Regional 2023: Resesi Dunia dan Pemulihan Asia – Bagian 2

434
Sebuah truk melintas di jalur US0-40, Byers, Colorado, USA. Sumber: Vibizmedia Photo, Taken by: Bernhard Sumbayak

(Vibiznews – Economy) – Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada bulan Oktober juga memberi tekanan pada kondisi pertumbuhan ekonomi global yang melambat disertai dengan tekanan inflasi yang tinggi dan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Menurut BI, setelah membaik di tahun 2022, pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2023 diprakirakan akan lebih rendah dari prakiraan sebelumnya, bahkan disertai dengan risiko resesi di beberapa negara. Revisi ke bawah pertumbuhan ekonomi terjadi di sejumlah negara maju terutama Amerika Serikat (AS) dan Eropa, dan juga di Tiongkok.

Perlambatan ekonomi global dipengaruhi oleh berlanjutnya ketegangan geopolitik yang memicu fragmentasi ekonomi, perdagangan dan investasi, serta dampak pengetatan kebijakan moneter yang agresif. Dampak rambatan dari fragmentasi ekonomi global diprakirakan juga akan menyebabkan perlambatan ekonomi di Emerging Markets (EMEs). Sementara itu, tekanan inflasi dan inflasi inti global masih tinggi seiring dengan berlanjutnya gangguan rantai pasokan sehingga mendorong bank sentral di banyak negara menempuh kebijakan moneter yang lebih agresif.

Kenaikan Fed Funds Rate yang diprakirakan lebih tinggi dengan siklus yang lebih panjang (higher for longer) mendorong semakin kuatnya mata uang dolar AS sehingga memberikan tekanan pelemahan atau depresiasi terhadap nilai tukar di berbagai negara, termasuk Indonesia. Tekanan pelemahan nilai tukar tersebut semakin tinggi dengan ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat, dan di negara EMEs termasuk Indonesia diperberat pula dengan aliran keluar investasi portofolio asing, demikian disampaikan BI saat RDG terakhir (BI, 20 Oktober 2022).

 

Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia dalam merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III-2022 (November 2022) menunjukkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan melambat dari 6,0% pada tahun 2021 menjadi 3,2% pada 2022. Lalu, akan turun lagi menjadi 2,7% pada tahun 2023.

Sementara itu, tingkat inflasi global diperkirakan akan meningkat dari 4,7% pada tahun 2021 menjadi 8,3% pada tahun 2022. IMF, yang dikutip BPS, memprakirakan bahwa nantinya tingkat inflasi dunia akan turun lagi di sepanjang tahun 2023 dan menjadi 4,1% pada akhir tahun depan.

Sumber: BPS, 7 November 2022

 

Potret Dinamika Ekonomi Regional

Sementara perekonomian global secara umum sedang menghadapi risiko resesi menuju tahun 2023, pemulihan ekonomi justru sedang berlangsung di sebagian besar negara-negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik, demikian menurut laporan the World Bank terakhir, “East Asia and Pacific Economic Update, Reforms for Recovery” edisi Oktober 2022.

Laporan menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Timur dan Pasifik yang sedang berkembang, kecuali China, diproyeksikan bertumbuh menjadi 5,3% pada tahun 2022 dari 2,6% pada tahun 2021. China, yang sebelumnya memimpin proses pemulihan di kawasan ini, diproyeksikan bertumbuh sebesar 2,8% pada tahun 2022, suatu penurunan tajam dari 8,1% pada tahun 2021.

Untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik secara keseluruhan, pertumbuhan diproyeksikan melambat menjadi 3,2% di tahun 2022 ini dari 7,2% pada tahun 2021, sebelum kembali mengalami peningkatan menjadi 4,6% pada tahun depan (2023), menurut laporan tersebut.

Source: World Bank, East Asia and Pacific Economic Update, October 2022

 

Bank Dunia menyebutkan bahwa pertumbuhan di sebagian besar kawasan Asia Timur dan Pasifik ini telah disebabkan oleh pulihnya permintaan di dalam negeri yang terjadi karena dilonggarkannya berbagai pembatasan terkait COVID, dan juga peningkatan ekspor.

Di sisi lain, perlambatan ekonomi global mulai menurunkan permintaan ekspor komoditas serta barang-barang manufaktur yang berasal dari kawasan ini. Tingkat inflasi yang meningkat di luar negeri menyebabkan kenaikan suku bunga, yang kemudian mengakibatkan aliran modal keluar serta depresiasi nilai mata uang di beberapa negara Asia Timur dan Pasifik.

The World Bank mengingatkan bahwa ke depannya, kinerja perekonomian di seluruh kawasan Asia Timur dan Pasifik ini dapat terkompromi dengan adanya perlambatan permintaan global, peningkatan utang, dan adanya ketergantungan terhadap upaya perbaikan ekonomi jangka pendek untuk menjadi perlindungan terhadap kenaikan harga pangan dan bahan bakar.

Source: World Bank, East Asia and Pacific Economic Update, October 2022

 

“Bright Spot”

Sementara itu, IMF dalam laporan kawasan terkininya, Regional Economic Outlook Report for Asia and Pacific: Sailing into Headwinds (Oktober 2022), IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia-Pasifik menjadi 4% tahun 2022 ini dan 4,3% pada 2023, berkurang dari 4,9% dan 5,1% dalam laporan sebelumnya World Economic Outlook edisi April.

IMF di laporannya menyatakan pemulihan ekonomi Asia yang kuat pada awal tahun mulai kehilangan momentum. Hal ini terlihat dari pertumbuhan ekonomi kuartal II/2022 yang lebih lemah dari perkiraan IMF. Walaupun demikian, prospek ekonomi Asia masih lebih cerah dibandingkan regional lain. Asia disebutkan tetap menjadi “titik terang” (bright spot) relatif dalam ekonomi global yang semakin meredup.

IMF mengatakan pelemahan di kawasan Asia Pasifik ini diakibatkan oleh menghadapi tiga tekanan ekonomi yang diperkirakan akan berlangsung terus-menerus. Tekanan pertama adalah pengetatan kebijakan moneter global. Federal Reserve yang lebih agresif dalam memperketat kebijakan moneter untuk menurunkan laju inflasi AS; ini menimbulkan tekanan kondisi keuangan yang hebat di Asia.

Tekanan ekonomi kedua adalah perang Rusia-Ukraina. Agresi Rusia di Ukraina ini berdampak pada lonjakan harga harga komoditas di Asia. Ini menjadi faktor penting di balik depresiasi mata uang di sebagian besar negara di Asia.

Hambatan ketiga adalah perlambatan pertumbuhan China. IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi China dampak dari kebijakan Zero Covid dan krisis di sektor real estat.

Meskipun laju inflasi Asia cenderung lebih rendah dari regional lain pada 2021, gejolak tajam volatilitas di pasar komoditas global setelah invasi Rusia ke Ukraina pada Februari memberikan tekanan tambahan pada inflasi utama Asia pada paruh pertama tahun 2022.

 

ASEAN Tetap Kuat

Bagaimana dengan prospek ekonomi untuk kawasan ASEAN? IMF melihat secara umum pemulihan ekonomi di ASEAN akan kuat di tahun 2022. Pendorong utama pemulihan ekonomi adalah menguatnya konsumsi dan jasa, serta kinerja ekspor di semester pertama tahun ini, terpicu oleh di antaranya pelonggaran restriksi di masa pandemic. Angka pertumbuhan ekonomi yang di atas 5% kemungkinan terjadi pada Kamboja, Indonesia dan Malaysia. Sementara Filipina bisa 6,5%, dan Vietnam berpeluang di angka 7%.

Untuk tahun 2023, kemungkinannya akan terjadi pertumbuhan ekonomi yang lebih moderat, terutama untuk Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapore, dan Vietnam. Pemicunya adalah akan berkurangnya tingkat permintaan ekspor, gangguan pada rantai pasokan, termasuk juga pengetatan kebijakan keuangan. IMF prediksikan untuk Kamboja dan Thailand akan terdongkrak ekonominya oleh kebangkitan sektor pariwisata.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ASEAN memasuki tahun 2023 tidak mengalami resesi, walaupun ada tekanan eksternal global yang dapat mengerem laju pertumbuhan ekonomi kawasan ini. Posisi ASEAN sebagai kekuatan ekonomi terbesar kelima di dunia memiliki prospek cerah untuk semakin mengokohkan posisinya di tengah suramnya ekonomi global.

 

Kesimpulan

Ekonomi global di akhir tahun 2022 dan tahun 2023 akan berlanjut menghadapi gejolak besar. Isyu inflasi yang meninggi, ketatnya kebijakan moneter dari sebagian besar bank sentral dunia, risiko geopolitik yang memanas, disrupsi pada rantai pasokan global, krisis energi dan makan, serta tekanan permintaan eksternal adalah sebagian masalah utama yang harus dihadapi dunia. Sejumlah indikator ekonomi dunia menunjukkan datangnya risiko “resesi global”, terutama berasal dari kelompok negara maju yang biasanya menjadi pusat dan motor pertumbuhan ekonomi.

Situasi ekonomi dunia seperti ini, belakangan sering disebut sebagai “the perfect storm” di tengah munculnya tekanan resesi ekonomi global, yang disertai dengan krisis pada pasokan makanan dan energi dunia.

Namun di tengah gambaran suram prospek ekonomi dunia, kawasan Asia Timur dan Pasifik menunjukkan geliat pemulihan ekonomi. Tantangan dan gejolak dari ekonomi global tetap harus dihadapi kawasan ini, namun prospeknya tetap lebih baik dari belahan dunia lainnya. Dan di dalamnya, kawasan ASEAN justru tampil sebagai kawasan ekonomi yang relatif terkuat pertumbuhan dan pemulihannya di dunia.

Di antara potret ekonomi global yang suram, Asia Pasifik menjadi “the bright spot” yang berupaya bertahan menghadapi tekanan resesi dunia. Di dalamnya, ASEAN bisa jadi merupakan titik yang paling kuat terangnya, the brightest spot di kawasan Asia Pasifik. Dan Indonesia ada di dalamnya sebagai ekonomi yang mengalami fase pemulihan yang mengesankan dunia.

 

 

Bernhard Sumbayak, Advisor Vibiz Consulting

Alfred Pakasi, Managing Partner Vibiz Consulting