Rekomendasi GBP/USD Mingguan 23 – 27 Januari 2023: Tren Naik Akan Lanjut?

582

(Vibiznews – Forex) Pada perdagangan minggu lalu, GBP/USD mencetak keuntungan yang solid pada minggu kedua dari tahun 2023 berturut – turut. Keuntungan Poundsterling diperoleh ditengah tren turun dari dollar AS yang berkelanjutan dan fundamental ekonomi Inggris yang bagus. Meskipun demikian, kenaikan Poundsterling mandek menjelang rintangan resistance di 1.2450. Fokus minggu ini bergerak ke angka pertumbuhan Amerika Serikat.

Apa yang Terjadi Pada Minggu Lalu?

Memulai minggu perdagangan yang baru pada minggu lalu di 1.2226, GBP/USD mengakhiri minggu lalu dengan kenaikan ke 1.2397. Pada awalnya, hari Senin, sempat tertekan turun ke 1.2197 karena menguatnya USD. Namun pada hari Selasa berhasil naik ke 1.2274 karena berbalik melemahnya USD. Dan pada hari Rabu melanjutkan kenaikannya ke 1.2435 sebelum akhirnya turun ke 1.2334 dengan kembali menguatnya USD.  Pada hari Kamis relatip stabil di 1.2362. Dan pada hari Jumat kembali naik ke 1.2397.

Pergerakan Harian GBP/USD Minggu Lalu

GBP/USD berjuang untuk bisa memperpanjang keuntungannya pada hari Senin dan diperdagangkan di bawah 1.2200 di sekitar 1.2197. Dolar AS berhasil mempertahankan reboundnya meskipun pertaruhan berada pada kenaikan tingkat bunga the Fed yang lebih kecil, karena sentimen terhadap resiko bergerak memburuk.

Ketakutan akan resesi membebani Poundsterling menjelang testimoni dari Gubernur Bank of England Andrew Bailey.

Namun data terbaru dari CME Group menunjukkan bahwa para hedge fund bertaruh terhadap rally dari Poundsterling pada permulaan dari tahun 2023, yang mendukung sentimen dari pasangan  matauang GBP/USD.

Fokus pasar bergerak ke laporan pekerjaan Inggris yang akan keluar pada hari Selasa.

Saat ini banyak hal negatip mengenai employment Inggris, ditambah dengan kekacauan politik Inggris yang masih berlangsung, yang menekan Poundsterling turun sehingga mendorong penurunan GBP/USD.

Pasangan matauang GBP/USD naik mengarah ke resistance yang kritikal di 1.2300 pada jam perdagangan sesi AS hari Selasa. Dan pada jam perdagangan sesi Tokyo hari Rabu diperdagangkan di sekitar 1.2274.

Kenaikan GBP/USD terutama disebabkan karena melemahnya dollar AS secara luas menyusul turunnya yields obligasi AS.

Dolar AS mengalami tekanan jual ditengah turunnya yields obligasi pemerintah setelah keluar rumor dari European Central Bank (ECB). Yields obligasi 10 tahun Itali turun lebih dari 15% dalam sehari, mendorong tingkat bunga obligasi 10 tahun AS ke 3.52% dari ketinggian intraday di 3.58%.

Pembicaraan pasar mengatakan bahwa para pejabat European Central Bank (ECB) sedang mempertimbangkan untuk memperlambat kecepatan pengetatan moneter.

Rumor yang beredar mengatakan bahwa Presiden ECB, Christine Lagarde dan teman-temannya akan cenderung menaikkan 50 bps tingkat bunga pada bulan Februari, mengurangi kenaikan tingkat bunga sebesar 25 bps mulai bulan Maret.

Hari Rabu, GBP/USD tetap berada pada posisi tinggi, diperdagangkan di sekitar 1.2334, ditengah meningkatnya permintaan yang baru terhadap dollar AS sehingga mendorong pasangan matauang ini turun dari ketinggian intraday di 1.2435, level yang tertinggi dalam satu bulan.

Consumer Price Index (CPI) tahunan Inggris bulan Desember muncul di 10.5%, melemah dari 10.7% pada bulan November.

Pasangan matauang GBP/USD memperoleh daya tarik yang positip untuk hari kedua pada hari Rabu berturut-turut, naik pada jam perdagangan sesi Eropa, ke ketinggian intraday di 1.2435. Namun berbalik turun pada jam perdagangan sesi AS karena berbalik menguatnya dollar AS.

Office for National Statistics Inggris melaporkan bahwa angka inflasi Inggris, Consumer Price Index (CPI), pada bulan Desember turun ke 10.5%, meskipun angka inti tidak berubah, tetap berada pada 6.3% yang adalah tiga kali lebih tinggi dari target Bank of England 2%. Selain itu, sempat melemahnya dollar AS memberikan dorongan naik kepada GBP/USD.

GBP/USD mengkonsolidasikan kerugiannya di bawah 1.2350 pada jam perdagangan sesi Eropa hari Kamis. Pasangan matauang ini tertekan turun karena arus yang enggan terhadap resiko. Tekanan turun karena arus yang enggan terhadap resiko ini mengatasi pelemahan dollar AS secara luas bersamaan dengan turunnya yields obligasi AS. GBP/USD diperdagangkan di sekitar 1.2362 pada awal jam perdagangan AS hari Kamis.

Sentimen pasar masih tidak mendukung matauang yang mengandung resiko di tengah melemahnya keinginan untuk mengambil resiko dari partisipan pasar.

S&P500 berjangka sedang menghadapi tekanan turun di tengah ketidakpastian atas hubungan dagang AS dengan Cina.

Dari Inggris, tekanan inflasi di Inggris juga sudah berkurang. Office for National Statistics Inggris melaporkan bahwa angka inflasi Inggris, Consumer Price Index (CPI), pada bulan Desember turun ke 10.5%, meskipun angka inti tidak berubah, tetap berada pada 6.3% yang adalah tiga kali lebih tinggi dari target Bank of England 2%.

Hari Jumat, GBP/USD naik menuju keuntungan mingguan di sekitar 1.2397, walaupun sempat kehilangan momentum. Kenaikan GBP//USD disebabkan karena berbalik turunnya dollar AS.

Indeks dollar AS kembali turun ke 101.750 dari sebelumnya di atas 102.00.

Data ekonomi Inggris merusak permintaan terhadap Poundsterling.

Data CPI Inggris menunjukkan adanya peningkatan di dalam inflasi jasa dan harga – harga makanan minuman yang akan menjadi suatu keprihatinan bagi para pembuat kebijakan di Bank of England.

Lemahnya outlook ekonomi Inggris membuat muncul pembicaraan bahwa Bank of England akan bisa menjadi kurang hawkish dibandingkan dengan sebelumnya.

Sepanjang minggu, para pejabat Federal Reserve Amerika Serikat menyuarakan peringatan bahaya unutk menaikkan tingkat suku bunga dan mengabaikan lemahnya data ekonomi serta turunnya inflasi.

Meskipun demikian, dollar AS bukannya menguat malah berbalik melemah ditengah membaiknya sentimen pasar yang direfleksikan dengan menghijaunya indeks saham utama AS di bursa Wall Street. Dow Jones naik 1.00%, S&P500 naik 1.89% dan Nasdaq naik 2.86%.

Fokus Minggu Ini

Minggu ini data ekonomi yang keluar akan memberikan pencerahan mengenai seberapa besar pertumbuhan ekonomi sedang berlangsung.

Pada hari Selasa, S&P Global akan merilis perkiraan pendahuluan dari Purchasing Manager Index (PMI) bulan Januari untuk AS. Aktifitas bisnis diperkirakan akan tetap berada pada teritori kontraksi meskipun membaik dari level bulan Desember.

Pada hari Rabu, Inggris akan mempublikasikan Producer Price Index (PPI) Input bulan Desember M/M yang diperkirakan akan muncul di 0.9% meningkat dari sebelumnya di 0.6%.

Hari Kamis akan menjadi hari kunci, dengan AS akan mempublikasikan perkiraan pendahuluan dari Gross Domestic Product (GDP) kuartal ke empat. Pertumbuhan tahunan pada kuartal terakhir dari tahun 2022 diperkirakan berada pada 2.8%, melemah dari sebelumnya 3.2%. Pada waktu yang sama, AS akan mempublikasikan Durable Goods Orders bulan Desember, yang diperkirakan naik 2.5% MoM.

Meskipun terjadi penurunan di sektor jasa dan manufaktur, namun GDP AS kuartal ke empat diperkirakan akan menunjukkan ekonomi AS bertumbuh sebesar 2.8% setelah sebelumnya pada kuartal ke tiga bertumbuh sebesar 3.2%.

Belanja konsumen seharusnya menjadi penggerak pasar yang penting dengan angka yang kuat pada bulan Oktober, namun, pertumbuhan sebagian besar akan difokuskan kepada perdagangan bersih (net trade) dan jumlah inventori.

Hal ini bukanlah pertumbuhan yang baik. Impor turun karena turunnya pertumbuhan domestik sementara inventori meningkat, sebagian karena membaiknya rantai supply namun juga karena permintaan tidaklah sekuat seperti yang banyak diperkirakan oleh para pebisnis.

Angka pertumbuhan GDP beberapa kuartal ke depan akan jauh lebih lemah.

Akhirnya, pada hari Jumat, AS akan mempublikasikan angka inflasi yang menjadi favorit dari the Fed, the core Personal Consumption Expenditures Price Index untuk bulan Desember.

PCE price index inti diperkirakan melambat ke 4.4% pertahun di bulan Desember dari sebelumnya 4.7% di bulan November.

Support & Resistance

“Support” terdekat menunggu di 1.2365 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.2332  dan kemudian 1.2290. “Resistance” terdekat menunggu di 1.2400 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.2435 dan kemudian 1.2450.

Ricky Ferlianto/VBN/Head Research Vibiz Consulting

Editor: Asido